Setelah dicari dalam beberapa kitab al-mashdar al-ashli, terkadang kita tidak menemukan hadits tersebut, bahkan secara maknapun tidak kita temukan. Kita bisa mengatakan bahwa hadits tersebut benar-benar palsu. Bisa jadi juga ucapan itu sengaja dibuat agar pesan siaran tersebut viral dan siapapun mau menyebarkannya dengan label hadits yang disematkan.
Sebenarnya, pemalsuan hadits terjadi karena beberapa sebab, salah satunnya adalah untuk motivasi mengerjakan amalan tertentu dalam beragama. Bahkan hal ini sudah terjadi jauh pada masa tabiโin, sekitar abad ketiga Hijriah.
Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menunjukkan beberapa sebab terjadinya pemalsuan hadits dalam kitab Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, beserta cara dan proses pemalsuan hadits tersebut.
Berikut beberapa proses pembuatan hadits palsu yang diungkap oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki: (lihat: Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Haditsis Syarif, (Madinah: Maktabah Al-Malik Fahd, 2000), cetakan ketujuh, halaman 147-148).
Pertama, seseorang membuat suatu ucapan kemudian membuat sanad-sanadnya. Setelah itu ia meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasulullah SAW.
Kedua, mengambil ucapan dari para hakim atau ulama kemudian meriwayatkannya sebagai sebuah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.
Ketiga, kesalahan seseorang dengan menyebut sebuah ucapan sebagai hadits Rasulullah SAW tanpa disengaja. Hal ini bisa disebut sebagai (syubhatul wadhโi) sebagaimana terjadi kepada Tsabit bin Musa Az-Zahid.
Ia menyebut sebuah kalimat yang ia sangka sebagai hadits padahal itu bukan hadits.
Artinya, โSiapa yang banyak melakukan shalat di malam hari, maka wajahnya akan bersinar di siang harinya.โ
Imam Ibnul Atsir dalam Jamiโul Ushul fi Ahaditsir Rasul menjelaskan bahwa hadits di atas sebenarnya bukan sebuah hadits. Bukan juga pemalsuan secara sengaja yang dilakukan oleh Tsabit bin Musa Az-Zahid.
Artinya, โSuatu hari Tsabit bin Musa menghadap Syarik bin Abdullah Al-Qadhi, kemudian ia minta didiktekan sebuah hadits. Kemudian Syarik berkata, โTelah berkata kepadaku Sl-Aโmasy dari Abu Sufyan dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda.โ Namun Syarik tidak langsung mengucapkan matan hadits. Ketika Syarik melihat wajah Tsabit bin Musa, Syarik kemudian berkata, โSiapa yang banyak shalatnya di malam hari, ia akan bersinar wajahnya di siang hari.โ
โPadahal yang dimaksud Syarik dalam ucapan tersebut adalah Tsabit bin Musa dan sikap waraโnya. Tetapi Tsabit mengira bahwa yang diucapkan Syarik kepadanya sebagai hadits yang marfuโ dari Rasulullah SAW dengan sanad yang disebut Syarik tersebut sehingga Tsabit meriwayatkan matan hadits (palsu) tersebut dari Syarik dari Aโmasy dari Abu Sufyan dari Jabir,โ (Lihat Majduddin Ibnul Atsir, Jamiโul Ushul fi Ahaditsir Rasul, (Beirut: Maktabah Darul Bayan, 1969), juz I, halaman 142).
Keempat, hadits yang tidak bersumber dari Rasulullah SAW, melainkan dari sahabat atau tabiโin dan seterusnya. Penyebutannya biasanya untuk menunjukkan bahwa hadits tersebut adalah mauquf dan tidak boleh disandarkan kepada Rasul, tetapi orang yang membacanya mengira bahwa hadits tersebut hadits palsu. Padahal antara hadits palsu dan mauquf berbeda.
Terkait hadits-hadits mauquf ini, Abu Hafs bin Budr Al-Mushili menulis sebuah kitab yang ditetapkan oleh ulama sebagai hadits palsu, padahal sebenarnya hadits tersebut mauquf. Kitab tersebut ditulis oleh Al-Mushili dengan judul Maโrifatul Wuquf alal Mauquf.
Itulah beberapa proses pemalsuan hadits. Di antara empat macam di atas, ada proses pemalsuan yang disengaja dan ada yang tidak. Hanya 1-3 macam yang juga terjadi pada masa-masa sekarang ini. Wallahu aโlam. (M Alvin Nur Choironi)
Terpopuler
1
Tanah Wakaf NU di Yogyakarta Dikembangkan Jadi Kampung Reforma Agraria Berbasis Wakaf Produktif
2
Pengumuman 50 Mahasantri Ma'had Aly Penerima Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35
3
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami?
4
Unusia Buka Beasiswa Cahaya Pintar untuk Program Sarjana dan Magister
5
Pelatihan Manajemen Bencana NU Care-LAZISNU Tidak Sekadar Mengejar Jumlah Relawan
6
Kalimantan Timur Juara Umum MTQ Nasional 2026, Jakarta Tuan Rumah 2027
Terkini
Lihat Semua