Ilmu Hadits

Kajian Hadits: Adab kepada Diri Sendiri Dimulai dari Pilihan Kata

NU Online  ยท  Jumat, 24 Juli 2026 | 17:16 WIB

Kajian Hadits: Adab kepada Diri Sendiri Dimulai dari Pilihan Kata

Kajian Hadits (Magnific)

Sering kali musuh paling keras dalam hidup bukanlah orang lain. Ia justru suara yang berbisik dari dalam diri sendiri.

 

Ketika gagal dalam pekerjaan, kita berkata, "Aku memang bodoh." Saat melakukan kesalahan, kita menghakimi diri sendiri dengan kalimat, "Aku tidak becus." Bahkan, tidak sedikit yang sampai menutup hari dengan vonis yang lebih kejam, "Aku memang tidak berguna."

 

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Sekilas hanya luapan emosi sesaat. Namun, kata-kata yang terus diulang perlahan berubah menjadi cara kita memandang diri sendiri. Satu kegagalan tidak lagi dipahami sebagai sebuah peristiwa, melainkan sebagai identitas. Kita tidak lagi mengatakan, "Aku gagal," tetapi mulai percaya bahwa "Aku adalah kegagalan."

 

Psikologi modern menyebut kecenderungan ini sebagai overgeneralization, yakni kebiasaan menarik kesimpulan yang terlalu luas dari satu pengalaman buruk. Satu kesalahan dianggap cukup untuk mendefinisikan seluruh diri.

 

Aaron T. Beck, pelopor terapi kognitif, menjelaskan bahwa distorsi berpikir semacam ini sering menjadi pintu masuk lahirnya kecemasan, rasa rendah diri, bahkan depresi. Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri akhirnya membentuk cara ia melihat kehidupannya. (Aaron T. Beck, โ€œThinking and Depression: I. Idiosyncratic Content and Cognitive Distortions,โ€ Archives of General Psychiatry, jilid IX, nomor 4, 1963, halaman 324โ€“333).

 

Lalu, bagaimana Islam memandang kebiasaan menghakimi diri dengan kata-kata yang buruk?

 

Menariknya, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan adab berbicara kepada orang lain. Beliau juga mengajarkan adab ketika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri.

 

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a.:

 

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ูŠููˆุณูููŽุŒ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุณููู’ูŠูŽุงู†ูุŒ ุนูŽู†ู’ ู‡ูุดูŽุงู…ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’: ุฎูŽุจูุซูŽุชู’ ู†ูŽูู’ุณููŠุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูŽู‚ูู„ู’: ู„ูŽู‚ูุณูŽุชู’ ู†ูŽูู’ุณููŠ.


ย 

Artinya, โ€œMuhammad bin Yusuf menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda, โ€˜Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, โ€œJiwaku buruk,โ€ tetapi hendaklah ia mengatakan, โ€œJiwaku sedang tidak enak.โ€โ€™โ€ (Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari, [Beirut: Dar Thauq al-Najah, 1422 H], jilid VIII, halaman 41).


ย 

Hadits ini tidak menyuruh seseorang berpura-pura baik-baik saja. Nabi tidak menyangkal bahwa manusia bisa merasa mual, sesak, gelisah, atau sedang tidak nyaman. Beliau hanya mengajarkan agar keadaan itu disampaikan dengan pilihan kata yang lebih tepat. (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).


Kata khabutsat mengandung arti buruk, kotor, atau rusak. Ketika kata tersebut disandarkan kepada diri, kesannya menjadi sangat keras, seolah-olah seluruh pribadi seseorang telah dipenuhi keburukan.

 

Nabi menggantinya dengan kata laqisat, yang tetap menggambarkan keadaan tidak nyaman, tetapi tidak memberi cap buruk kepada seluruh diri. (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).


Imam Al-Qurtubi mengutip penjelasan Abu Ubaid:


ู…ุนู†ู‰ ู„ู‚ุณุช ูˆุฎุจุซุช ูˆุงุญุฏุŒ ู„ูƒู† ูƒุฑู‡ ู„ูุธ ุงู„ุฎุจุซุŒ ูˆุดู†ุงุนุฉ ุงู„ู„ูุธุŒ ูˆุนู„ู‘ูŽู…ู‡ู… ุงู„ุฃุฏุจ ููŠ ุงู„ู…ู†ุทู‚. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฃุตู…ุนูŠ: ู„ู‚ุณุช ู†ูุณูŠุ› ุฃูŠ: ุบุซุช. ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ุฃุนุฑุงุจูŠ: ุถุงู‚ุช


Artinya, โ€œMakna laqisat dan khabutsat berdekatan. Namun, Nabi tidak menyukai kata al-khubts karena terdengar buruk dan kasar. Beliau mengajarkan kepada mereka adab dalam berbicara. Al-Ashmaโ€™i menjelaskan bahwa laqisat nafsi berarti diriku terasa mual atau tidak enak, sedangkan Ibnu Al-Aโ€™rabi memaknainya sebagai jiwaku terasa sempit.โ€ (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).


Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dua kata dapat memiliki arti yang hampir sama, tetapi menimbulkan rasa yang berbeda. Ada kata yang sekadar menjelaskan keadaan, ada pula yang terdengar seperti penghinaan dan penghakiman.

 


Anwar Shah Al-Kashmiri menjelaskan:


ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ู‚ุจุงุญุฉูŽ ููŠ ุงู„ู„ูุธ ู‚ุฏ ุชูŽุญู’ุฏูุซ ู…ู† ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ููŠ ุงู„ู…ูˆุงุฑุฏ ุงู„ู‚ุจูŠุญุฉุŒ ูƒุงู„ุจู„ูŠุฏุŒ ูุฅู†ู‘ูŽู‡ ู„ุง ูŠูˆุงุฒูŠ ุงู„ุญู…ุงุฑูŽ ููŠ ุงู„ุดู†ุงุนุฉุŒ ู…ุน ุฃู†ู‘ูŽ ุงู„ู…ุฑุงุฏูŽ ู…ู†ู‡ู…ุง ูˆุงุญุฏูŒ. ุฃูŽุฑูŽ ุชุฑู‰ ุฃู†ูƒ ุฅุฐุง ู‚ู„ุช ู„ุฃุญุฏู: ุฃูŠู‘ูู‡ุง ุงู„ุจู„ูŠุฏูุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽุจูุถู ู…ู†ู‡ุŒ ูƒุงู†ู‚ุจุงุถู‡ ู…ู†: ุฃูŠู‘ูู‡ุง ุงู„ุญู…ุงุฑูุŸ ูุฏู„ู‘ูŽ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุทุจุงุฆุนูŽ ุชูŽู†ู’ู‚ูŽุจูุถู ุนู†ุฏ ู„ูุธู ูŠุฎุชุตู‘ู ููŠ ุงู„ุงุณุชุนู…ุงู„ ุจุงู„ู…ูˆุงุฑุฏ ุงู„ู‚ุจูŠุญุฉุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ุนู†ุงู‡ ู‚ุฑูŠุจู‹ุง ู…ู† ู„ูุธู ุขุฎุฑ ู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูุฉ


Artinya, โ€œKetahuilah bahwa buruknya suatu ungkapan terkadang muncul karena kata tersebut biasa digunakan dalam konteks yang buruk. Kata โ€˜lambanโ€™, misalnya, tidak sekasar kata โ€˜keledaiโ€™, meskipun keduanya dapat digunakan untuk menunjukkan maksud yang berdekatan.


Ketika seseorang disebut โ€˜lambanโ€™, ia tidak merasa sesakit ketika disebut โ€˜keledaiโ€™. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merasa tidak nyaman terhadap kata yang biasa digunakan sebagai penghinaan, meskipun maknanya berdekatan dengan kata lain yang lebih halus.โ€ (Muhammad Anwar Shah Al-Kashmiri, Faidhul Bari 'ala Shahih Al-Bukhari, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005], jilid VI, halaman 174).


Oleh karena itu, ucapan โ€œAku gagal dalam ujian iniโ€ berbeda dengan โ€œAku ini manusia gagal.โ€ Kalimat pertama membicarakan satu pengalaman, sedangkan kalimat kedua memberi cap kepada seluruh diri. Begitu pula, โ€œAku telah melakukan kesalahanโ€ berbeda dengan โ€œAku memang orang yang tidak berbakat.โ€ Ucapan pertama masih membuka ruang untuk meminta maaf dan berubah. Ucapan kedua justru dapat membuat seseorang kehilangan harapan. (Faidhul Bari, jilid VI, halaman 174).


Dalam psikologi kognitif, kecenderungan mengambil satu pengalaman lalu menjadikannya kesimpulan umum disebut overgeneralization. Seseorang gagal sekali, lalu berkata, โ€œAku selalu gagal.โ€ Ia melakukan satu kesalahan, lalu menyimpulkan, โ€œAku selalu menyusahkan orang lain.โ€ Pola seperti ini membuat seseorang menilai dirinya secara tidak adil. (Aaron T. Beck, โ€œThinking and Depression,โ€ jilid IX, halaman 328โ€“329).


Lebih lanjut lagi, Kristin Neff menyebut sikap yang sehat kepada diri sebagai self-compassion. Sikap ini bukan berarti membenarkan kesalahan atau memanjakan diri. Seseorang tetap bertanggung jawab, tetapi tidak harus menghina dirinya untuk bisa berubah. (Kristin D. Neff, โ€œSelf-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude toward Oneself,โ€ [London: Taylor & Francis, 2003], jilid II, nomor 2, halaman 85โ€“101).


Kontekstualisasinya terhadap hubungan kita sebagai hamba dengan Allah sebagai Tuhan saat berdoa, kita dapat mengakui kesalahan dan kekhilafan kepada-Nya, bertobat, meminta ampunan, dan memperbaiki diri. Namun, jangan menjadikan dosa sebagai alasan untuk meyakini bahwa diri tidak mungkin berubah. Kesalahan harus diperbaiki, bukan dijadikan identitas, sebagaimana kata Al-Ityubi (Dzakhirah al-Uqba fi Syarh al-Mujtaba, jilid XVII, halaman 293).

 


Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa adab tidak hanya berlaku ketika berbicara kepada orang lain. Kita juga perlu menjaga kata-kata yang diarahkan kepada diri sendiri. Sebab, kata-kata terkadang dapat memberikan kita sugesti dalam melihat jalan keluar di tengah problem kehidupan. Wallahu a'lam.

 

------------
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.