Khutbah

Khutbah Jumat: Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan

NU Online  ·  Kamis, 1 Oktober 2026 | 21:30 WIB

Khutbah Jumat: Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan

Ilustrasi AL-Qur'an. Sumber: NU Online.

Salah satu ilmu yang sangat penting dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu akidah. Terlebih pada zaman ketika berbagai informasi, pemikiran, dan pertanyaan tentang agama begitu mudah kita temukan. Tanpa fondasi akidah yang kuat, seseorang dapat mengalami kebingungan ketika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, bahkan kemudian terjebak dalam keraguan berkepanjangan atau sikap agnostik.


Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan." Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.


Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيْدِ الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيْدُ الْهَادِيْ صَفْوَةَ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَࣖ


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, pada siang hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.


Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Salah satu ilmu yang sangat penting untuk dipelajari oleh setiap Muslim adalah ilmu akidah atau ilmu tauhid. Ilmu inilah yang membantu kita memahami dasar-dasar keimanan, mengenal Allah dengan benar, serta membangun keyakinan di atas landasan yang kokoh.


Hal ini menjadi semakin penting pada zaman sekarang. Kita hidup di tengah arus informasi yang sangat deras. Melalui internet dan media sosial, kita dapat menjumpai berbagai macam pemikiran, pertanyaan, kritik, bahkan keraguan tentang agama dan keberadaan Tuhan.


Di antara fenomena yang berkembang adalah agnostisisme, yaitu sikap yang meragukan atau menyatakan ketidakpastian mengenai apakah keberadaan Tuhan dapat diketahui secara pasti.


Bagi seorang Muslim, hadirnya berbagai pertanyaan semacam ini seharusnya tidak membuat kita takut untuk berpikir. Sebaliknya, keadaan tersebut perlu mendorong kita untuk semakin serius mempelajari dasar-dasar keimanan. Iman tidak cukup hanya diwarisi. Iman juga perlu dipahami, dipelajari, direnungkan, dan dikuatkan dengan ilmu.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Dalam Al-Qur'an, Allah swt menegaskan prinsip tauhid dalam banyak ayat. Salah satunya terdapat dalam Surat Al-Qashash ayat 88:


وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ


Artinya: “Janganlah engkau menyembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”


Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Seluruh yang ada di alam ini bersifat fana, sedangkan Allah swt adalah Zat Yang Mahakekal. Kepada-Nya pula seluruh manusia akan kembali.


Imam At-Thabari dalam Jami'ul Bayan menjelaskan:


وَلَا تَعْبُدْ يَا مُحَمَّدُ مَعَ مَعْبُوْدِكَ الَّذِيْ لَهُ عِبَادَةُ كُلِّ شَيْءٍ مَعْبُوْدًا آخَرَ سِوَاهُ. وَقَوْلُهُ: (لا إِلَهَ إِلا هُوَ) يَقُوْلُ: لَا مَعْبُوْدَ تَصْلُحُ لَهُ الْعِبَادَةُ إِلَّا اللهُ الَّذِيْ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ


Artinya: “Wahai Muhammad, janganlah engkau menyembah sesembahan lain bersama Tuhanmu, yang hanya kepada-Nya segala sesuatu berhak beribadah. Firman Allah, ‘Tidak ada Tuhan selain Dia’, berarti tidak ada yang layak disembah selain Allah, sedangkan segala sesuatu akan binasa kecuali Zat-Nya.”


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Ayat tersebut juga mengingatkan kita tentang pentingnya memahami tauhid secara benar. Di sinilah ilmu akidah memiliki peranan yang sangat penting. Ilmu akidah tidak hanya mengajarkan apa yang harus kita yakini. Ilmu ini juga membantu kita memahami dasar dan argumentasi dari keyakinan tersebut, baik berdasarkan dalil naqli yang bersumber dari wahyu maupun dalil aqli yang dapat dipahami melalui akal sehat.


Syekh Ibrahim bin Muhammad Al-Baijuri dalam kitab Tuhfatul Murid ala Jawharatit Tauhid menjelaskan:


هُوَ عِلْمٌ يَقْتَدِرُ بِهِ عَنْ إِثْبَابِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَبٌ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ


Artinya: “Ilmu tauhid adalah ilmu yang dengannya seseorang mampu menetapkan keyakinan-keyakinan keagamaan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan.”


Dari penjelasan tersebut kita memahami bahwa akidah Islam bukan sekadar keyakinan yang diterima tanpa dasar. Para ulama sejak dahulu telah mengembangkan pembahasan tauhid dengan menggunakan dalil-dalil wahyu sekaligus argumentasi rasional.


Karena itu, ketika seseorang menghadapi pertanyaan seperti: Apakah Tuhan benar-benar ada? Bagaimana kita mengetahui keberadaan-Nya? Mengapa kita harus mempercayai wahyu? Atau bagaimana memahami sifat-sifat Allah? Maka pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlu dihadapi dengan ilmu, bukan sekadar dengan emosi.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Dalam tradisi ilmu tauhid, para ulama juga mengajarkan pembahasan yang dikenal dengan aqidah lima puluh. Pembahasan tersebut mencakup dua puluh sifat wajib bagi Allah, dua puluh sifat mustahil bagi Allah, satu sifat jaiz bagi Allah, empat sifat wajib bagi para rasul, empat sifat mustahil bagi para rasul, serta satu sifat jaiz bagi para rasul.


Tujuan mempelajarinya bukan sekadar menghafalkan sejumlah istilah, tetapi membangun pemahaman tentang siapa Allah yang kita sembah dan bagaimana kita mengenal para rasul yang membawa petunjuk-Nya.


Syekh Al-Baijuri menjelaskan mengenai ruang lingkup dan buah ilmu tauhid:


وَمَوْضُوْعُهُ: ذَاتُ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ مَا يَجِبُ لَهُ وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ، وَذَاتُ الرُّسُلِ كَذَلِكَ، وَالْمُمْكِنُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى وُجُوْدِ صَانِعِهِ، وَالسَّمْعِيَّاتُ مِنْ حَيْثُ اعْتِقَادُهَا. وَثَمْرَتُهُ: مَعْرِفَةُ اللهِ بِالْبَرَاهِيْنِ الْقَطْعِيَّةِ وَالْفَوْزُ بِالسَّعَادَةِ الْأَبَدِيَّةِ


Artinya: “Objek pembahasan ilmu tauhid adalah Zat Allah swt dari sisi sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya; demikian pula sifat-sifat para rasul. Ilmu ini juga membahas perkara-perkara mumkin sebagai jalan untuk mengetahui keberadaan Penciptanya serta perkara-perkara sam'iyyat yang wajib diyakini. Buahnya adalah mengenal Allah dengan dalil-dalil yang pasti dan memperoleh kebahagiaan yang kekal.”


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Dari sini kita dapat memahami bahwa mempelajari ilmu akidah memiliki arti yang sangat penting, terlebih ketika kita hidup di tengah zaman yang penuh dengan pertanyaan dan keraguan.


Kita tidak perlu menjauhi pertanyaan. Yang perlu kita lakukan adalah membekali diri dengan ilmu agar mampu menjawab pertanyaan tersebut secara benar. Apabila akidah dibangun di atas pemahaman yang kuat, insyaAllah seseorang tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan keraguan. Ia mengetahui apa yang diyakininya sekaligus memahami mengapa ia meyakininya.


Pemahaman seperti inilah yang pada akhirnya diharapkan dapat melahirkan keimanan yang semakin kokoh, ketenangan hati, dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah swt.


Semoga Allah swt memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, menguatkan iman dalam hati kita, menjauhkan kita dari keraguan yang menyesatkan, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mengenal dan menyembah-Nya dengan penuh keyakinan. Amin ya Rabbal alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis tinggal di Indramayu.