Kultum Ramadhan: Puasa sebagai Terapi Jiwa di Bulan Ramadhan
NU Online ยท Kamis, 26 Februari 2026 | 15:00 WIB
Tuti Lutfiah Hidayah
Kolumnis
Menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental merupakan tujuan yang diharapkan setiap orang. Untuk mencapai tujuan tersebut, Islam menghadirkan tuntunan kehidupan melalui berbagai ibadah yang disyariatkan. Salah satu contohnya adalah puasa. Puasa merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. dengan tujuan membentuk derajat takwa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 183. Di samping nilai spiritual tersebut, puasa juga memiliki manfaat preventif terhadap berbagai gangguan fisik maupun mental.
Selama berpuasa, tubuh mengalami perubahan dalam cara mengelola energi ketika berada dalam kondisi defisit kalori. Pada saat yang sama, jiwa dilatih untuk menumbuhkan kesabaran, mengendalikan hawa nafsu, serta mengatur emosi dan respons terhadap stres. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda baginda Nabi SAW,
ููููุณู ุงูุตููููุงู
ู ู
ููู ุงูุฃููููู ููุงูุดููุฑูุจู ุฅููููู
ูุง ุงูุตููููุงู
ู ู
ููู ุงููููุบููู ููุงูุฑููููุซู ููุฅููู ุณูุงุจูููู ุฃูุญูุฏู ุฃููู ุฌููููู ุนููููููู ูููููู ุฅููููู ุตูุงุฆูู
ู ุฅููููู ุตูุงุฆูู
ู (ุฑูููุงูู ุงุจู ุฎุฒูู
ุฉ ูุงุจู ุญุจุงู)
Artinya, โPuasa itu bukan sekadar (menahan) dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan rafats (ucapan/perbuatan keji). Maka jika ada seseorang mencacimu atau berbuat bodoh (kasar) kepadamu, katakanlah: โSesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa,โ (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).
Syekh Ash-Shan'ani dalam At-Tanwir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghir menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan makan dan minum tetapi tetap mengatakan atau melakukan hal yang sia-sia dan keji, maka ia pada hakikatnya tidak dianggap berpuasa secara sempurna karena rusak pahalanya dan berkurang ganjarannya, hingga seakan-akan ia tidak berpuasa. (Ash-Shanโani, At-Tanwir Syarhul Jamiโ Ash-Shaghir, [Riyadh, Darussalam, 2011], jilid IX, hlm. 229).
Jabir bin Abdillah pun berkomentar,
ุฅูุฐูุง ุตูู ูุชู ููููููุตูู ู ุณูู ูุนููู ููุจูุตูุฑููู ููููุณูุงูููู ุนููู ุงููููุฐูุจู ููุงููู ูุญูุงุฑูู ู ููุฏูุนู ุฃูุฐูู ุงููุฌูุงุฑูุ ูููููููููู ุนููููููู ุณููููููุฉู ููููููุงุฑู ููููู ู ุตูููู ููู ููููุง ุชูุฌูุนููู ููููู ู ุตูููู ููู ููููููู ู ููุทูุฑููู ุณูููุงุกู
โKetika engkau berpuasa, maka pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu juga harus puasa dari dusta dan hal-hal yang haram. Jangan mengganggu tetangga. Bersikap tenanglah ketika puasa. Jangan samakan antara hari puasa dan tidak puasamu." (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathoiful Maโarif, [Riyadh, Daar Ibnu Khuzaimah, 1428 H], hlm. 364)
Dari hadis dan penjelasan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan latihan pengendalian diri terhadap ucapan, perilaku, dan pengelolaan emosi yang berkaitan dengan mekanisme sistem saraf serta fungsi otak manusia.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bastani dkk. (2017) melaporkan bahwa individu yang menjalankan puasa Ramadhan mengalami peningkatan signifikan pada kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF), serotonin, dan nerve growth factor (NGF) dalam plasma darah. Ketiga zat ini berperan penting dalam fungsi kognitif, stabilitas suasana hati, serta kemampuan otak beradaptasi terhadap stres (Bastani et al, 2017, The Effects of Fasting During Ramadan on the Concentration of Serotonin, Dopamine, Brain-Derived Neurotrophic Factor and Nerve Growth Factor, [Neurology International, Vol. 9:7043], hlm. 29โ32).
BDNF merupakan protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel saraf, proses belajar dan memori, serta regulasi suasana hati. Penurunan kadar BDNF diketahui berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi. Stres kronis dan depresi dapat menyebabkan penurunan kadar BDNF, peningkatan kematian sel, serta berkurangnya pertumbuhan neuron baru di hipokampus. Sebaliknya, peningkatan kadar BDNF sering dikaitkan dengan perbaikan kondisi psikologis. (Correia, Ana Salomรฉ et al. BDNF Unveiled: Exploring Its Role in Major Depression Disorder, Serotonergic Imbalance, and Associated Stress Conditions.ย [Pharmaceutics, Vol. 15,8 2081], hlm. 4).
Respons biologis tubuh terhadap puasa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi metabolik, durasi puasa, pola makan, serta karakteristik individu. Oleh karena itu, pola makan yang teratur, kendali emosi, serta ketenangan selama berpuasa sebagaimana dianjurkan Nabi SAW dalam haditsnyaย berpotensi memengaruhi keseimbangan neurokimia yang berkontribusi terhadap stabilitas emosional.
Sebab kondisi psikologis yang tidak stabil sering kali memicu ketidakteraturan pola makan yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolik. Oleh karena itu, puasa dapat menjadi salah satu bentuk terapi pengendalian diri yang membantu menata kembali pola hidup dan regulasi emosi.
Stabilitas jiwa yang diperoleh melalui peningkatan kualitas ibadah selama Ramadhan, seperti zikir, membaca Al-Qurโan, bersedekah, dan menghindari perbuatan munkar, dapat mendorong terbentuknya pribadi yang lebih tenang sekaligus menebalkan dinding keimanan. Pada akhirnya, hal ini dapat mengarahkan energi tubuh dan jiwa untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Dengan demikian, puasa yang dilakukan sesuai dengan ajaran Nabi SAW bukan hanya ibadah wajib yang berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kesehatan psikologis dan neurobiologis manusia. Wallahu aโlam.
Ustadzah Tuti Lutfiah Hidayah, Alumnus Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 3 Jenis Ucapan yang disukai Allah
2
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
4
Khutbah Jumat: 8 Hal yang Dijauhi Rasulullah Mulai dari Kecemasan hingga Dililit Utang
5
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
6
Khutbah Jumat: Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya
Terkini
Lihat Semua