Keutamaan dan Sejarah Pensyariatan Shalat Jumat
NU Online ยท Kamis, 23 Juli 2026 | 22:00 WIB
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Dalam sejarah Islam, hari Jumat ditempatkan sebagai hari mulia dibanding hari-hari yang lain. Dijelaskan, kata โJumatโ berasal dari Jamaโa yang artinya berkumpul. Hari ini menandai pertemuan Nabi Adam dan Hawa di Jabal Rahmah.ย
Faktor lain yang menyebabkan hari Jumat istimewa yaitu pada waktu tersebut umat Islam diperintahkan untuk berkumpul melaksanakan ritual yang disebut dengan Shalat Jumat. Shalat Jumat dianggap sebagai ruang pertemuan antar individu umat Islam.
Baca Juga
Enam Syarat Sah Pelaksanaan Shalat Jumat
โMereka dapat saling berjumpa, bersilaturrahim, bertegur sapa, saling menjalin keakraban. Dalam kehidupan desa Jumโatan dapat dijadikan sebagai wahana anjangsana,โ kata Ulil Hadrawi di dalam artikel Sejarah dan Keistimewaan Shalat Jumโat, dikutip Kamis (23/7/2026).ย
Ia menyampaikan bahwa faedah shalat jumat terletak pada persyaratannya yang mewajibkan tidak kurang 40 orang. Ketentuan ini, menurutnya, dapat memperkuat kohesi sosial meski ada pendapat ulama yang membolehkannya.
โKebersamaan dan silaturrahim ini tentunya sulit terjadi jikalau Jumatan boleh dilakukan seorang diri seperti pendapat Ibnu Hazm, atau cukup dengan dua orang saja seperti qaulnya Imam Nakhaโi, atau pendapat Imam Hanafi yang memperbolehkan Jumatan dengan tiga orang saja berikut imamnya,โ tulisnya.
Baca Juga
Musafir yang Bebas Shalat Jumat
Meski shalat Jumat dilaksanakan pada waktu shalat dhuhur, lanjutnya, tetapi mandi Jumat boleh dilakukan dini hari setelah terbit fajar. Keutamaan ini dijelaskan Imam Syafiโi di dalam karya Al-Mawardi bertajuk Al-Hawi Kabir.
Kemudian Ahmad Dirgahayu Hidayat dalam artikel Sejarah dan Dalil Disyariatkannya Shalat Jumatย menjelaskan bahwa pensyariatan shalat jumat ditetapkan di Makkah pada malam Israโ Miโraj. Akan tetapi, pelaksanaannya baru dilakukan di Madinah setelah syarat wajibnya terpenuhi dan tidak ada penghalang yang menghambatnya.
Pernyataan tersebut merujuk pemaparan Syekh Abu Bakar Syatha dalam kitab Iโanatut Thalibin, yang dinilai menggunakan pendekatan al-jamโu wat taufiq bainal aqwalil mutaโaridhah (upaya menyelaraskan beberapa pendapat yang kontradiktif).
โ(pernyataan) shalat Jumat diwajibkan di Madinah itu boleh jadi bermakna bahwa Nabi berharap agar kewajiban shalat Jumat mampu dijalankan di Madinah, mengingat tak ada penghalang apa pun yang menghambat mereka di sana,โ jelas Ahmad mengalihbahasakan teks berbahasa arab.
Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa shalat Jumat pertama kali didirikan oleh sahabat bernama Asโad bin Zurarah yang berasal dari Yatsrib. Asโad mendapatkan intruksi dari sahabat Mushโab bin Umair yang diutus Nabi Muhammad untuk memimpin ekspansi Islam di kota yang kemudian dinamakan Madinah itu.
Setiba di Yatsrib, ia meminta izin kepada Nabi Muhammad yang ada di Makkah untuk mendirikan shalat Jumat. Nabi mengizinkannya. Kota ini dipilih sebab bebas dari diskriminasi dan pelecehan yang dilakukan oleh kaum kafir Makkah.
Dengan demikian, alumni sekaligus pengajar di Maโhad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiโiyah Sukorejo, Situbondo itu berpandangan bahwa pensyariatan wajibnya shalat Jumat merujuk kepada hadits ketika Rasulullah memerintahkan Mushโab untuk melaksanakan shalat Jumat pertama, bukan surah Al-Jumuโah ayat 9.
Terpopuler
1
Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa: Pengurus NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat
2
Khutbah Jumat: Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qada dan Qadar
3
Ketum PBNU Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Sejumlah Investasi Bisnis dan Program Kemasyarakatan
4
Siap Tampung 3 Ribu Lebih Peserta, Berikut 6 Lokasi Penginapan Muktamar Ke-35 NU
5
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
6
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
Terkini
Lihat Semua