Nasional

Mengapa Al-Qur’an Disebut Karim? Begini Penjelasannya

NU Online  ·  Senin, 9 Maret 2026 | 15:30 WIB

Mengapa Al-Qur’an Disebut Karim? Begini Penjelasannya

Ketua LAZISNU PBNU Ali Hasan Bahar saat menjadi penceramah dalam peringatan Nuzulul Quran yang digelar Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026). (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Mengapa Al-Qur’an disebut karim? Pertanyaan ini dijelaskan dalam peringatan Nuzulul Qur'an yang digelar Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).


Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU PBNU) Ali Hasan Bahar, yang hadir sebagai penceramah, menjelaskan bahwa penyematan kata karim pada Al-Qur’an bukanlah tanpa alasan.


"Allah sengaja menamakan kitab suci umat Islam dengan nama Al-Qur'an Al-Karim,” katanya.


Dosen Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menerangkan bahwa penyematan kata karim dimaksudkan agar Al-Qur’an menjadi kitab suci yang memberi banyak manfaat bagi seluruh manusia, baik masyarakat Arab maupun non-Arab.


Secara harfiah, kata karim berarti dermawan. Sifat kedermawanan Al-Qur’an, menurutnya, tampak dari kemampuannya untuk terus memberi pemahaman dan petunjuk kepada siapa saja yang membacanya, tanpa memandang latar belakang bahasa atau bangsa.


”Al-Qur'an adalah sumber 'pemberian' ilahi yang tidak pernah kering,” tegasnya.


Kedermawanan pemikiran Bung Karno

Semangat kedermawanan dalam memberi manfaat kepada sesama ini, menurut Habib Ali Hasan Bahar, juga tercermin dalam sosok Proklamator RI Soekarno. Popularitas serta pengaruh pemikiran Bung Karno di dunia internasional, khususnya di Maroko, menjadi bukti kedermawanan gagasan sang pemimpin.


Ali menceritakan pengalamannya saat menghadiri halaqah ilmiah di Maroko. Seorang profesor senior menghampirinya setelah mengetahui bahwa ia berasal dari Indonesia.


"Anda dari Indonesia? Bersyukurlah negeri Anda punya Ir Soekarno. Kami dari kecil sudah mengenal pemikiran beliau," kenang Habib Ali menirukan ucapan profesor tersebut.


Pengakuan dari dunia luar itu, lanjutnya, seharusnya mendorong bangsa Indonesia untuk lebih menghargai sekaligus meneladani pemikiran Bung Karno.


"Jika gagasannya mampu memberi inspirasi bagi bangsa lain, maka bangsa Indonesia semestinya menjadi yang terdepan dalam merawat warisan pemikiran tersebut," katanya.


Turut hadir dalam acara Nuzulul Quran dan tasyakuran ini Sekretaris Dewan Penasihat PP Bamusi Abdullah Azwar Anas, anggota Dewan Pembina PP Bamusi Daryatmo, serta Wakil Ketua Umum PP Bamusi Nasyirul Falah Amru.