Pak Pardi dan Pispot Tuanya
Oleh Yoga Prakoso --Pria tua itu bangun meringkih dengan payahnya. Dia mencoba bangun. Diikuti suara derit dipan kasur lapuknya. Dalam kamar kusam di rumah gubuk kawasan kumuh bantar sungai Ciliwung.
Kumpulan artikel kategori Seni-budaya
Oleh Yoga Prakoso --Pria tua itu bangun meringkih dengan payahnya. Dia mencoba bangun. Diikuti suara derit dipan kasur lapuknya. Dalam kamar kusam di rumah gubuk kawasan kumuh bantar sungai Ciliwung.
Oleh ribut achwandi --SIANG ITU, saya lupa kapan tepatnya, seorang pemulung tengah mengais sampah di tong sampah depan rumah. Kebetulan, saya pun hendak membuang lembaran-lembaran kertas yang sudah tidak terpakai. Ratusan jumlahnya. Lalu, ketika hendak aku masukkan kertas-kertas itu ke dalam tong sampah, mendadak pemulung itu mencegahnya. Saya pun tak jadi memasukkannya ke tong sampah. Tetapi, saya taruh di samping tong sampah, berdekatan dengan karung plastik milik pemulung itu tadi.
Oleh Slamet Tuharie Ng --Pagi itu, terik matahari sudah terlampau panas untuk kulitnya yang tipis. Ia sudah tak sanggup berhadapan dengan panasnya matahari yang baru saja merekah dari ufuk timur.
Kakek tua itu bernama Mardi Raharjo. Kami terbiasa memanggilnya Mbah Mardi. Tubuhnya tidak segesit dulu. Tetapi ia hampir tidak pernah datang terlambat untuk shalat berjamaah di masjid kampus kami.
Hah! Hah! Sudah lama aku tidak bermimpi kakek berjenggot itu. Semenjak aku lulus SD. Sekarang aku bermimpi lagi di saat aku duduk dikelas dua SMA. Kakek yang menggenggam tanganku saat aku terjatuh di dalam mimpi. Tapi kali ini berbeda. Kakek itu merenggangkan gengggamannya, seakan mau pergi.
Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa yang membuatku pernah menjadi santri. Terima kasih kepada temanku, si Unung, yang mengiming-imingiku menjadi santri. Terima kasih juga kepada ibu bapakku yang menyebabkan aku menjadi santri. Tidak lama aku menjadi santri, cuma dua tahun.
Ketika aku berpapasan dengan Ajengan di sebuah tepi jalan, ia sempat menceritakan istrinya yang jompo. Aku tidak kaget mendengarnya. Bukan hanya karena usia lanjut, tapi dari dulu Ibu Ajengan memang sakit-sakitan.
Oleh Rahmatullah Ading Afandie Terakhir aku bertemu dengan ajengan* belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.
Oleh Hidayat Tf -- Aku ingin pergi ke hutan. Hidup di sana. Lepas dari tradisi-tradisi yang ada. Lepas dengan hukum-hukum yang ada. Aku terlalu lelah berada di sini, begitu tertekan dengan keberadaan. Seakan-akan sedikit-sedikit tertekan bagaimana kesejahteraan orang-orang. Padahal, diriku sendiri tidak merasakan kesejahteraan. Bahkan aku tidak mengerti apa itu sejahtera? Apa itu kebahagian? Aku tidak mengerti. Tidak benar-benar mengerti. Aku ingin pergi ke hutan. Mendapati kesejukan pikiran.
Ketukan palu hakim menjadi putusan. Si pemenang putusan, Abdul, gemetar lemah. Aliran darahnya melambat, tetesan air mata tidak terbendung.
PENGANTAR REDAKSI: Dalam rangka memeriahkan Rakernas dan Mukernas Muslimat yang berlangsung di asrama Haji Pondok Gede (28/5) sampa (1/6) NU Online bersama PP Mulimat NU menggelar tiga lomba, yakni Fiksimini bertema ibu, foto selfie bersama ibu di Facebook dan kuis tentang Muslimat NU di Twitter.
Oleh Wahyu Noerhadi --Syahdan, di suatu tempat terdapatlah dua orang lelaki yang sedang menyusuri jalan. “Muridku, aku takkan berhenti berjalan sebelum kita sampai pada pertemuan antara dua buah lautan. Aku akan berjalan terus meski harus menempuh waktu selama bertahun-tahun,” ujar salah seorang kepada seseorang di sampingnya. Si murid menatap airmuka sang guru, lantas dengan mantap ia menganggukan kepalanya.