Pesona Kiai Jalal
Nama Kiai Jalal, beberapa tahun ini tengah menjadi buah bibir masyarakat Kota Purwokerto dan sekitarnya. Pasalnya, selain menguasai ilmu fiqh, ia juga dipercaya memiliki ilmu hikmah yang tidak dimiliki oleh sembarangan kiai.
Kumpulan artikel kategori Seni-budaya
Nama Kiai Jalal, beberapa tahun ini tengah menjadi buah bibir masyarakat Kota Purwokerto dan sekitarnya. Pasalnya, selain menguasai ilmu fiqh, ia juga dipercaya memiliki ilmu hikmah yang tidak dimiliki oleh sembarangan kiai.
Aku dilahirkan di Desa Redup, desa yang bisa dibilang terpencil. Kami setiap hari bergelut dengan terik matahari di tengah sawah-sawah kami. Ya, termasuk aku, sejak kecil tak pernah mengenal bangku sekolah. Yang aku tahu hanya sawah dan seisinya, serta seluk-beluknya. Aku teringat saat menonton TV di tempat Pak Lurah, ada rombongan anak-anak berpakaian putih membawa kitab dan menuju
Yogyakarta memang kota kenangan. Banyak orang yang menyimpan rapi kenangan manisnya di hati masing-masing. Kenangan di kota ini masih saja tersimpan di bilik ingatan meski sudah lama telah kembali ke kampung halaman. Mungkin juga kamu. Kamu perempuan santri dari Jawa Timur yang pernah belajar di salah satu perguruan tinggi kota ini. Kamu yang datang dari kultur sederhana dan
Suara merdu matan-matan Alfiyah dan Imrithi selalu menggema di setiap pojok halaqoh pesantren Darussalam. Hampir setiap sore, tatkala matahari tengah merangkak ke peraduannya di ufuk barat, para santri selalu menemani perjalanannya dengan menyenandungkan bait-bait penuh makna karya Imam Ibnu Malik al-Andalusiy.
“Aisyah, cepat temui mereka sebentar,” perintah ibu.“Kenapa harus Aisyah, bu? Aisy kan masih sibuk, nih tulisan belum rampung,” kelakku.“Isy…., mereka jauh-jauh dari Surabaya. Ke sini ingin ketemu kamu.”
“Ahlan wasahlan, ya ukhti!”Sayyidah Khumairah menyapaku ketika pak Rosyad mengenalkanku kepadanya. Binar matanya menyuguhkan keramahan dan kehangatan yang meluap ke dalam kalbuku. Kegugupan yang sedari awal mencengkramku perlahan surut. Seolah Aku bukan orang asing yang baru saja menjejakkan kaki
Perpisahan ini cuma sementara. Aku yakini itu. Tapi entah kapan kita dapat berjumpalagi. Hanya Dia yang tahu.
Gemetar tanganku ketika mengambil kertas yang tergenggam di tangan Melati, teman sekamar di pesantren ini. Tak ada penolakan dan penyerahan dari tangan itu. Ya, karena tangan itu sudah tidak bisa bergerak lagi.
Pelepah pisangku patah, cemetinya juga sudah pecah. ‘’Hya..hya..hya…,’’ sesekali kami teriak riang.
Langit malam ini tampak suram. Tak ada bintang, apalagi rembulan. Yang tampak di mataku hanya kawanan kegelisahan. Ia tengah bersekutu dengan lelaki pendatang yang selalu menggembor-gemborkan sebuah perjuangan Islam.
Warga desa Mangkujayan tidak pernah menduga jika Mbah Arya ada di balik semua kasus kehilangan beras yang terjadi akhir-akhir ini. Sama tidak menduganya jika khutbah tadi siang adalah khutbah terkhir Mbah Arya.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Malam semakin larut. Angin mendesir kencang. Tak ada suara yang bisa ditangkap telinga. Yang terdengar hanyalah suara isak tangis perempuan yang terdengar dari atas Jembatan Gajah Wong.