Syariah

Hukum Mengedarkan Kotak Amal saat Khutbah Berlangsung

NU Online  ยท  Kamis, 13 September 2018 | 08:30 WIB

Tradisi di masyarakat, saat khutbah berlangsung, kotak amal masjid diedarkan dari satu jamaah ke yang lain, untuk mempersilakan masing-masing menyumbang di kotak tersebut. Bagaimana hukumnya menurut pandangan fiqih?

Anjuran saat khutbah berlangsung adalah diam mendengarkan khutbah dengan seksama. Anjuran ini berdasarkan firman Allah ๏ทป:

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูุฑูุฆูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ููŽุงุณู’ุชูŽู…ูุนููˆุง ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุตูุชููˆุง ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูุฑู’ุญูŽู…ููˆู†ูŽ

โ€œDan apabila dibacakan khutbah, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.โ€ (QS. Al-Aโ€™raf, 204).

Kata โ€œal-Qurโ€™anโ€ dalam ayat tersebut ditafsiri dengan khutbah. Penamaan khutbah dengan sebutan Al-Quran, karena di dalam khutbah mengandung ayat suci Al-Qurโ€™an.

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

ูˆ ุณู† ู„ู…ู† ุณู…ุนู‡ู…ุง ุงู†ุตุงุช ููŠู‡ู…ุง ุฃูŠ ุณูƒูˆุช ู…ุน ุฅุตุบุงุก ู„ู‡ู…ุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆุฅุฐุง ู‚ุฑุฆ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูุงุณุชู…ุนูˆุง ู„ู‡ ูˆุฃู†ุตุชูˆุงย  ุฐูƒุฑ ููŠ ุงู„ุชูุณูŠุฑ ุฃู†ู‡ุง ู†ุฒู„ุช ููŠ ุงู„ุฎุทุจุฉ ูˆุณู…ูŠุช ู‚ุฑุขู†ุง ู„ุงุดุชู…ุงู„ู‡ุง ุนู„ูŠู‡

โ€œOrang yang mendengar kedua khutbah disunnahkan inshรขt, yaitu diam disertai mendengarkan secara seksama bacaan khutbah, karena firman Allah ๏ทป, โ€˜Dan apabila dibacakan khutbah, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah.โ€™ Disebutkan dalam tafsir bahwa ayat tersebut turun dalam permasalahan khutbah. Khutbah disebut dengan Al-Qurโ€™an karena khutbah mengandung ayat suci Al-Qurโ€™an.โ€ (Syekh Zakariyya al-Anshari, Fath al-Wahhab, juz.1, hal.134).

Oleh karenanya, Nabi melarang berbicara saat khutbah berlangsung. Dalam sabdanya, beliau menegaskan:

ุฅุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ุช ู„ูุตูŽุงุญูุจููƒ ุฃูŽู†ู’ุตูุชู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูŠูŽุฎู’ุทูุจู ููŽู‚ูŽุฏู’ ู„ูŽุบูŽูˆู’ุชูŽ

โ€œJika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).โ€ (HR. Muslim).

Dalam literatur fiqh mazhab Syafiโ€™i, hukumnya makruh berbicara atau mengobrol saat khutbah berlangsung. Demikian pula makruh dilakukan saat khutbah berlangsung, segala kegiatan yang dapat melalaikan dari khutbah, seperti membagikan kertas, membagikan sedekah, bermain-main, mengedarkan kendi dan botol untuk berbagi minuman dan lain sebagainya. Dalam titik ini, mengedarkan kotak amal tergolong hal yang dimakruhkan ini, sebab memiliki titik temu yang berupa melalaikan diri dari khutbah.

Syekh Sulaiman al-Jamal mengatakan:

ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงู„ู…ุดูŠ ุจูŠู† ุงู„ุตููˆู ู„ู„ุณุคุงู„ ูˆุฏูˆุฑุงู† ุงู„ุฅุจุฑูŠู‚ ูˆุงู„ู‚ุฑุจ ู„ุณู‚ูŠ ุงู„ู…ุงุก ูˆุชูุฑู‚ุฉ ุงู„ุฃูˆุฑุงู‚ ูˆุงู„ุชุตุฏู‚ ุนู„ูŠู‡ู… ุ› ู„ุฃู†ู‡ ูŠู„ู‡ูŠ ุงู„ู†ุงุณ ุนู† ุงู„ุฐูƒุฑ ูˆุงุณุชู…ุงุน ุงู„ุฎุทุจุฉ ุง ู‡ู€ . ุจุฑู…ุงูˆูŠ .

โ€œMakruh berjalan di antara shaf untuk meminta-minta, mengedarkan kendi atau geriba untuk memberi minuman, membagikan kertas dan bersedekah kepada jamaah, sebab hal tersebut dapat melalaikan manusia dari zikir dan mendengarkan khutbah.โ€ (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 2, hal. 36).

Namun demikian, bila mengedarkan kotak amal tersebut bertujuan untuk menghindari gunjingan dan stigma negatif di masyarakat, maka hal tersebut diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Sebagaimana tradisi selametan 3 hari kematian mayit yang semula hukumnya makruh, namun bila ada tujuan menghindari gunjingan masyarakat, maka diperbolehkan, bahkan sangat diharapkan mendapat pahala karena tujuan mulia tersebut.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

ุฌู…ูŠุน ู…ุง ูŠูุนู„ ู…ู…ุง ุฐูƒุฑ ููŠ ุงู„ุณุคุงู„ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุงู„ู…ุฐู…ูˆู…ุฉ ู„ูƒู† ู„ุง ุญุฑู…ุฉ ููŠู‡ ุฅู„ุง ุฅู† ูุนู„ ุดูŠุก ู…ู†ู‡ ู„ู†ุญูˆ ู†ุงุฆุญุฉ ุฃูˆ ุฑุซุงุก ูˆู…ู† ู‚ุตุฏ ุจูุนู„ ุดูŠุก ู…ู†ู‡ ุฏูุน ุฃู„ุณู†ุฉ ุงู„ุฌู‡ุงู„ ูˆุฎูˆุถู‡ู… ููŠ ุนุฑุถู‡ ุจุณุจุจ ุงู„ุชุฑูƒ ูŠุฑุฌู‰ ุฃู† ูŠูƒุชุจ ู„ู‡ ุซูˆุงุจ ุฐู„ูƒ ุฃุฎุฐุง ู…ู† ุฃู…ุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุฃุญุฏุซ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจูˆุถุน ูŠุฏู‡ ุนู„ู‰ ุฃู†ูู‡ ูˆุนู„ู„ูˆู‡ ุจุตูˆู† ุนุฑุถู‡ ุนู† ุฎูˆุถ ุงู„ู†ุงุณ ููŠู‡ ู„ูˆ ุงู†ุตุฑู ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ู‡ุฐู‡ ุงู„ูƒูŠููŠุฉ

โ€œSegala tradisi yang disebutkan dalam pertanyaan di atas (termasuk selametan 3 hari kematian mayit) termasuk bidโ€™ah yang tercela, namun tidak haram, kecuali melakukannya dengan tujuan meratapi kepergian mayit. Orang yang melakukan tradisi tersebut dengan tujuan menolak gunjingan masyarakat dan serangan mereka terhadap harga dirinya disebabkan meninggalkan tradisi tersebut, maka diharapkan mendapatkan pahala. Hal tersebut berlandaskan pada perintah Nabi untuk memegang hidung bagi orang yang berhadats di tengah shalat. Ulama memberikan alasan yang rasional, bahwa hal tersebut dilakukan untuk menjaga harga dirinya dari cercaan manusia apabila ia beranjak dari shalat tidak menggunakan cara memegang hidung tersebut.โ€ (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 2, hal. 7).

Syekh Said bin Muhammad Baโ€™isyun menegaskan:

ูˆูŠุณู† ู„ู…ู† ุฃุญุฏุซ ููŠ ุตู„ุงุชู‡ ุฃูˆ ู‚ุจู„ู‡ุง ู‚ุฑุจ ุฅู‚ุงู…ุชู‡ุง ุฃู† ูŠุฃุฎุฐ ุจุฃู†ูู‡ ูˆู„ูŠู†ุตุฑู ุณุชุฑุง ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡ ูˆู„ุฆู„ุง ูŠุญูˆุถ ุงู„ู†ุงุณ ููŠู‡ ูˆูŠุคุฎุฐ ู…ู†ู‡ ุฃู†ู‡ ูŠุณู† ุณุชุฑ ูƒู„ ู…ุง ูŠูˆู‚ุน ุงู„ู†ุงุณ ููŠู‡ ูƒู…ุง ู„ูˆ ู†ุงู… ุนู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุตุจุญ ูุชูˆุถุฃ ุจุนุฏ ุทู„ูˆุน ุงู„ุดู…ุณ ููŠูˆู‡ู… ุฃู†ู‡ ูŠุตู„ูŠ ุงู„ุถุญู‰

โ€œSunnah bagi orang yang berhadats saat atau sesaat sebelum shalat didirikan, memegang hidungnya, dan hendaknya ia beranjak dari tempat shalat, untuk menutupi dirinya dan agar manusia tidak membincangkan aibnya. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa disunnahkan menutupi setiap hal yang dapat mendorong gunjingan manusia, seperti saat tertidur meninggalkan shalat subuh, maka hendaknya ia berwudlu setelah terbitnya matahari, agar ia diduga menjalankan shalat dluha.โ€ (Syekh Said bin Muhammad Baโ€™isyun, Busyra al-Karim, juz 1, hal. 194).

Walhasil, mengedarkan kotak amal saat khutbah berlangsung sebaiknya dihindari, tapi apabila tradisi tersebut tidak dilakukan justru akan menimbulkan stigma negatif atau gunjingan dari orang lain, maka hukumnya boleh bahkan dianjurkan dengan tujuan menghindari anggapan negatif tersebut. Bagaimanapun pengurus masjid seyogianya mencari momen lebih pas di luar saat-saat khutbah, misalnya sesaat sebelum adzan, sebelum khutbah, atau sesudah salam shalat Jumat bila memungkinkan. Demikianlah, semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)