Syariah

Mengucapkan “Sayyidina”

NU Online  ยท  Selasa, 15 Juli 2008 | 08:37 WIB

Kata-kata โ€œsayyidinaโ€ atau โ€tuanโ€ atau โ€œyang muliaโ€ seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

ุงู„ุฃูˆู’ู„ูŽู‰ ุฐููƒู’ุฑูุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุงุฏูŽุฉู ู„ูุฃู†ู‘ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ ุณูู„ููˆู’ูƒู ุงู’ู„ุฃูŽุฏูŽ ุจู

โ€œYang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).โ€ (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).<>

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉู‚ุง ู„ , ู‚ุง ู„ ุฑ ุณูˆ ู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู†ูŽุง ุณูŽูŠู‘ูุฏู ูˆูŽู„ูŽุฏู ุขุฏูŽู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุฃูˆู‘ูŽู„ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ุณูŽู‚ู‘ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽุฃูˆู‘ูŽู„ู ุดูŽุงูุนู ูˆุฃูˆู„ ู…ูุดูŽุงููุนู


โ€œDiriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, โ€œSaya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaaโ€™at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafaโ€™at.โ€ (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:

โ€œKata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan โ€˜Adam di dunia dan akhiratโ€. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan โ€œhaditsโ€ yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?

ู„ูŽุง ุชูุณูŽูŠู‘ูุฏููˆู†ููŠ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู

โ€œJanganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalatโ€

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bidโ€™ah dhalalah, bidโ€™ah yang tidak baik.

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakanย ย  ุณูŽุงุฏูŽ- ูŠูŽุณููŠู’ุฏู , akan tetapi ุณูŽุงุฏูŽ -ูŠูŽุณููˆู’ุฏูย  , Sehingga tidak bisa dikatakanย  ู„ูŽุงุชูุณูŽูŠู‘ูุฏููˆู’ู†ููŠ

Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhuโ€™. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember