Syariah

Mengirim Al-Fatihah kepada Nabi Sebelum Shalat, Bolehkah?

NU Online  ยท  Senin, 3 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Mengirim Al-Fatihah kepada Nabi Sebelum Shalat, Bolehkah?

Ilustrasi shalat. Sumbeer: NU Online.

Belakangan ini, muncul pembahasan di media sosial mengenai kebiasaan menghadiahkan bacaan surat Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW sebelum memulai shalat. Amalan tersebut dilakukan sebagai ikhtiar untuk menghadirkan hati agar shalat terasa lebih syahdu dan khusyuk.


Sebagian masyarakat menyambut baik amalan ini sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus wasilah untuk menata hati sebelum shalat. Namun, sebagian lainnya mempersoalkannya karena amalan tersebut dinilai tidak memiliki dalil khusus dan tidak pernah dicontohkan oleh generasi awal Islam (salafus shalih).


Dalam perspektif fiqih, menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya diperbolehkan. Namun, amalan tersebut tidak boleh diyakini sebagai syariat atau kesunnahan khusus yang harus dilakukan sebelum shalat, sebab tidak terdapat dalil yang secara khusus menganjurkannya.


Hukum Mengirimkan Pahala Bacaan Al-Qurโ€™an kepada Nabi

Secara umum, menghadiahkan pahala bacaan Al-Qurโ€™an, termasuk surat Al-Fatihah, kepada Baginda Nabi Muhammad saw merupakan perbuatan yang diperbolehkan. Bahkan, mayoritas ulama mutaโ€™akhirin menilainya sebagai amalan yang baik dan dianjurkan.


Syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:


ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุฑูŽุชู’ ุจูู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุงุฏูŽุฉู ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ุซูŽูˆูŽุงุจูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽูˆู’ ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ู ู…ูู‚ูŽุฏูŽู‘ู…ู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุญูŽุถู’ุฑูŽุชูู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽูˆู’ ุฒููŠูŽุงุฏูŽุฉู‹ ูููŠ ุดูŽุฑูŽููู‡ู ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ู ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุงุชูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุฃูŽุฎูู‘ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽูู’ุชูŽู‰ ุจูู‡ู ุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŒ ู…ูŽู†ูุฏููˆุจูŒ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู


Artinya, โ€œAdapun kebiasaan yang berlaku di masyarakat setelah membaca Al-Qurโ€™an, yakni berdoa, โ€˜Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan tersebut atau semacamnya dihadiahkan ke hadirat Nabi SAW atau sebagai tambahan kemuliaan baginya,โ€™ adalah boleh, sebagaimana disampaikan oleh sekelompok ulama mutaโ€™akhirin.


Imam Syihabuddin ar-Ramli, ayah Imam Syamsuddin ar-Ramli, juga berfatwa mengenai kebolehannya. Bahkan, beliau menilai perbuatan tersebut sebagai amalan yang baik dan dianjurkan.โ€ (Hasyiyah al-Jamal, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2013], juz V, halaman 518).


Dengan demikian, menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW pada dasarnya diperbolehkan dan memiliki landasan fiqih, khususnya dalam pandangan ulama mazhab Syafiโ€™i.


Batasan Membaca Al-Fatihah Sebelum Shalat

Meskipun membaca Al-Fatihah dan bershalawat merupakan amalan yang mulia, para ulama memberikan batasan agar keduanya tidak diyakini sebagai bagian dari tata cara khusus shalat.


Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa membaca shalawat atau dzikir tertentu pada waktu yang tidak ditetapkan secara khusus oleh syariat tidak boleh disertai keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan kesunnahan khusus pada waktu itu. Sebab, keyakinan semacam itu dapat tergolong menetapkan syariat tanpa dalil.


ููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ุจููˆูŽุงุญูุฏู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูุนู’ุชูŽู‚ูุฏู‹ุง ุณูู†ู‘ููŠู‘ูŽุชูŽู‡ู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุญูŽู„ู‘ู ุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตู ู†ูู‡ููŠูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู…ูู†ูุนูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุดู’ุฑููŠุนูŒ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุฏูŽู„ููŠู„ูุ› ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุฑู‘ูŽุนูŽ ุจูู„ูŽุง ุฏูŽู„ููŠู„ู ูŠูุฒู’ุฌูŽุฑู ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽูŠูู†ู’ู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู.


Artinya, โ€œBarang siapa melakukan salah satu dari keduanyaโ€”membaca shalawat sebelum atau sesudah azanโ€”pada tempat khusus tersebut dengan meyakini kesunnahannya, maka ia harus dilarang dan dicegah. Sebab, tindakan tersebut merupakan penetapan syariat (tasyriโ€™) tanpa dalil. Barangsiapaย menetapkan syariat tanpa dalil, maka ia harus ditegur dan dilarang dari tindakan tersebut.โ€ (Al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008], juz I, halaman 191).


Penjelasan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara kebolehan suatu amalan secara umum dan penetapannya sebagai kesunnahan khusus. Membaca Al-Fatihah atau shalawat sebelum shalat diperbolehkan apabila dilakukan sebagai amalan umum, sarana menenangkan jiwa, bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW, atau tawasul. Namun, seseorang tidak boleh meyakininya sebagai rukun, syarat, ataupun kesunnahan khusus yang menjadi bagian dari tata cara shalat.


Cara Menghadirkan Hati Sebelum Shalat

Salah satu tujuan membaca Al-Fatihah atau bershalawat sebelum shalat adalah menata hati agar terhindar dari kelalaian (ghaflah). Dalam Ihyaโ€™ Ulumiddin, Imam Abu Hamid al-Ghazali menegaskan pentingnya mempersiapkan kondisi batin sebelum memasuki shalat melalui takbiratul ihram.


Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa cara menghadirkan hati (hudhurul qalb) adalah dengan menolak keraguan dan pikiran-pikiran duniawi yang mengganggu:


ููŽุงู„ุฏูŽู‘ูˆูŽุงุกู ูููŠ ุฅูุญู’ุถูŽุงุฑู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ู‡ููˆูŽ ุฏูŽูู’ุนู ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูˆูŽุงุทูุฑู... ูˆูŽูŠูุนููŠู†ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุนูุฏูŽู‘ ู„ูŽู‡ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุญู’ุฑููŠู…ู ุจูุฃูŽู†ู’ ูŠูุฌูŽุฏูู‘ุฏูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฐููƒู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽูˆู’ู‚ูููŽ ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงุฌูŽุงุฉู ูˆูŽุฎูŽุทูŽุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู


Artinya, โ€œPenawar untuk menghadirkan hati adalah dengan menolak bisikan-bisikan pikiranโ€ฆ. Hal itu dapat dibantu dengan melakukan persiapan sebelum takbiratul ihram, yaitu memperbarui ingatan akan akhirat, suasana bermunajat, dan keagungan berdiri di hadapan Allah SWT.โ€ (Ihyaโ€™ Ulumiddin, [Semarang: Karya Thaha Putra, t.th.], juz I, halaman 163).


Dengan demikian, menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya merupakan perbuatan yang diperbolehkan dan bernilai baik. Membacanya sebelum shalat juga tidak menjadi persoalan selama tidak diyakini sebagai rukun, syarat, ataupun kesunnahan khusus dalam shalat.


Amalan tersebut hendaknya ditempatkan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW dan ikhtiar pribadi untuk mempersiapkan hati agar bisa khusyuk menghadap Allah. Karena itu, orang yang mengamalkannya tidak selayaknya menganggapnya sebagai tuntunan khusus yang harus dilakukan oleh setiap orang sebelum shalat. Wallahu a'lam bish-shawab.


Ustadz Muhammad Zainul Millah, Wakil Katib PCNU Kabupaten Blitar dan Pengajar Pesantren Fathul Ulum, Wonodadi, Blitar.