Syariah

Shalat Bisa Batal jika Bacaan Takbir Terlalu Panjang, Apa Batasannya?

NU Online  ยท  Selasa, 26 Februari 2019 | 10:30 WIB

Shalat Bisa Batal jika Bacaan Takbir Terlalu Panjang, Apa Batasannya?

Ilustrasi (wikipedia)

Takbir pada shalat secara umum terbagi menjadi dua. Pertama, takbiratul ihram. Yakni takbir yang dilaksanakan di awal shalat. Takbir ini tergolong rukun, sehingga wajib untuk dilaksanakan. Kedua, takbir intiqal. Yakni takbir yang dilaksanakan pada setiap perpindahan rukun dalam shalat, kecuali pada saat perpindahan dari rukuโ€™ menuju iโ€™tidal, maka khusus perpindahan dalamย  rukun tersebut bukan melafalkan takbir tetapi melafalkan โ€œSamiโ€™allรขhu liman hamidahu rabbanรข wa lakal hamdโ€. Takbir intiqal merupakan bagian dari sunnah haiโ€™at, sehingga hukum melaksanakannya hanya sunnah dan jika tidak dilaksanakan maka tidak perlu diganti dengan sujud sahwi.

Berbagai macam praktik takbir dalam shalatย  yang telah dijelaskanย  di atas berdasarkan salah satu hadits afโ€™al (perbuatan) Rasulullah ๏ทบ:

ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ู‚ุงู… ุงู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉู ุŒ ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠู‚ูˆู…ู ุŒ ุซู… ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠุฑูƒุนู ุŒ ุซู… ูŠู‚ูˆู„ู: ุณูŽู…ูุนูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ู…ู† ุญู…ุฏูŽู‡. ุญูŠู† ูŠุฑูุนู ุตูู„ุจูŽู‡ ู…ู† ุงู„ุฑูƒุนุฉู ุŒ ุซู… ูŠู‚ูˆู„ู ูˆู‡ูˆ ู‚ุงุฆู…ูŒ: ุฑุจู†ุง ู„ูƒ ุงู„ุญู…ุฏู . ู‚ุงู„ ุนุจุฏู ุงู„ู„ู‡ู: ูˆู„ูƒ ุงู„ุญู…ุฏู. ุซู… ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠูŽู‡ู’ูˆูŠุŒ ุซู… ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠุฑูุนู ุฑุฃุณูŽู‡ ุŒ ุซู… ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠุณุฌุฏู ุŒ ุซู… ูŠููƒุจู‘ูุฑู ุญูŠู† ูŠุฑูุนู ุฑุฃุณูŽู‡ ุŒ ุซู… ูŠูุนู„ู ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉู ูƒู„ู‘ูู‡ุง ุญุชู‰ ูŠูŽู‚ุถูŠู‡ุง

โ€œRasulullah ๏ทบ ketika shalat, beliau bertakbir saat berdiri, kemudian bertakbir ketika akan rukuk lalu mengucapkan: samiโ€™allahu liman hamidah, yaitu ketika ia mengangkat punggungnya dari ruku. Dan ketika sudah berdiri beliau mengucapkan rabbanaa lakal hamd. Menurut riwayat Abdullah โ€œRabbana wa lakal hamdโ€- Kemudian beliau bertakbir ketika akan bersujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud). Kemudian beliau bertakbir lagi ketika akan bersujud. Kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud). Kemudian beliau melakukan hal itu dalam semua rakaat hingga selesai shalatโ€ (HR. Bukhari)

Dalam melafalkan takbir dianjurkan agar melafalkan dengan bacaan mad (bacaan panjang) yang proposional. Dalam arti tidak membaca terlalu pendek, sampai bacaan takbir kurang dipahami oleh pendengar dan tidak membaca terlalu panjang. Hal demikian seperti yang ditegaskan oleh al-Bajuri yang dikutip dalam kitab Kasyifah as-Saja:

ู€ [ูุฑุน] ู‚ุงู„ ุงู„ุจุงุฌูˆุฑูŠ: ูˆูŠุณู† ุฃู† ู„ุง ูŠู‚ุตุฑ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠูู‡ู… ูˆู„ุง ูŠู…ุทุทู‡ ุจุฃู† ูŠุจุงู„ุบ ููŠ ู…ุฏู‡ ุจู„ ูŠุชูˆุณุท. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุจุฑุงู…ู„ุณูŠ: ูˆูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠู…ุฏ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑย 

โ€œCabang permasalahan. Disunnahkan untuk tidak membaca pendek bacaan takbir sekiranya bacaan takbir tidak dipaham dan juga disunahkan untuk tidak terlalu memanjangkan takbir, hal yang baik adalah memanjangkan takbir secara proposionalโ€ (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi Syarh Safinah an-Naja, hal. 71)

Sedangkan batas maksimal bacaan mad pada takbir adalah tidak sampai melebihi tujuh alif. Setiap alif setara dengan membaca dua harakat. Penghitungan panjang mad dapat dilakukan dengan cara menggerakkan jari-jari secara beriringan dan berkesinambungan.ย  Jika bacaan takbir melebihi dari tujuh alif, maka bacaan takbir tersebut dapat membatalkan shalat, baik itu takbiratul ihram ataupun takbir intiqal. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam lanjutan referensi di atas:

ูˆูŠุดุชุฑุท ุฃู† ู„ุง ูŠู…ุฏ ููˆู‚ ุณุจุน ุฃู„ูุงุช ูˆุฅู„ุง ุจุทู„ุช ุฅู† ุนู„ู… ูˆุชุนู…ุฏ ูˆุชู‚ุฏุฑ ูƒู„ ุฃู„ู ุจุญุฑูƒุชูŠู† ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู‚ุฑูŠุจุŒ ูˆูŠุนุชุจุฑ ุฐู„ูƒ ุจุชุญุฑูŠูƒ ุงู„ุฃุตุงุจุน ู…ุชูˆุงู„ูŠุฉ ู…ู‚ุงุฑู†ุฉ ู„ู„ู†ุทู‚ ุจุงู„ู…ุฏ

โ€œDalam takbir disyaratkan agar tidak terlalu memanjangkan bacaan mad di atas tujuh alif. Jika tidak, maka shalatnya menjadi batal ketika ia mengetahui ketentuan hukum ini dan sengaja melakukannya. Setiap satu alif dikira-kirakan dengan bacaan dua harakat. Pengira-ngiraan hitungan tersebut secara taqrib (kadar hitungan yang mendekati benar) dan cara penghitungannya dengan mengerakkan jari-jari secara berkesinambungan pada saat mengucapkan bacaan mad.โ€ (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi Syarh Safinah an-Naja, Hal. 71). Wallahu aโ€™lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, Penulis adalah Dewan Perumus LBM Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri