Tafsir

Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 56: Keinginan Nabi Muhammad yang Tak Tercapai

NU Online  ·  Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 56: Keinginan Nabi Muhammad yang Tak Tercapai

Ilustrasi lafaz Muhammad. Sumber: Canva.

Rasulullah saw juga pernah merasakan kesedihan mendalam, sebagaimana manusia pada umumnya. Salah satunya ketika beliau mengajak pamannya, Abu Thalib, mengucapkan syahadat menjelang wafatnya.


Namun, Abu Thalib enggan mengucapkannya karena khawatir terhadap pandangan dan celaan kaumnya. Kejadian tersebut membuat Rasulullah bersedih karena orang yang selama ini melindungi dan membelanya tidak memenuhi ajakannya.


Berkaitan dengan peristiwa tersebut, Allah swt menurunkan Surat Al-Qashash ayat 56 untuk menegaskan bahwa hidayah merupakan kehendak Allah, sedangkan tugas Rasulullah adalah menyampaikan risalah.


Allah ta'ala berfirman:


اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


Artinya: “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.”


Keinginan Nabi agar Abu Thalib Mendapat Hidayah

Mengutip pendapat az-Zajjaj, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa para ahli tafsir mengaitkan turunnya ayat ini dengan Abu Thalib, paman Nabi Muhammad yang selama hidupnya banyak memberikan perlindungan kepada beliau.


Menjelang wafatnya, Abu Thalib berpesan kepada Bani Abdi Manaf agar mengikuti dan membenarkan Nabi Muhammad. Mendengar pesan itu, Rasulullah mengingatkan pamannya bahwa ia telah menasihati orang lain, tetapi belum melakukannya untuk dirinya sendiri.


Abu Thalib kemudian bertanya apa yang diinginkan keponakannya. Rasulullah meminta agar ia mengucapkan kalimat la ilaha illallah sehingga kelak beliau dapat memberikan kesaksian di hadapan Allah.


Abu Thalib mengakui kebenaran ajaran Nabi Muhammad. Namun, ia khawatir dianggap mengucapkan syahadat hanya karena takut menghadapi kematian. Ia pun menyatakan akan tetap mengikuti agama leluhurnya. (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1420 H], juz XXV, halaman 5).


Peristiwa tersebut membuat Rasulullah bersedih. Beliau sangat mengharapkan hidayah bagi pamannya yang telah banyak berjasa dalam perjuangan dakwah Islam.


Imam at-Thabari menjelaskan makna ayat tersebut sebagai berikut:


(إِنَّكَ) يا محمد (لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ) هدايته (وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ) أن يهديه من خلقه، بتوفيقه للإيمان به وبرسوله


Artinya: “Sungguh engkau wahai Muhammad, tidak akan bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau kasihi. Akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang ia kehendaki dari makhluk-Nya dengan taufik-Nya untuk beriman kepada-Nya dan rasul-Nya.” (Imam at-Thabari, Jamiul Bayan ‘an Takwili Ayil Qur’an, [Makkah: Darut Tarbiyah wat Turats, t.t.], juz XIX, halaman 598).


Dengan demikian, sekalipun Rasulullah sangat menginginkan pamannya menerima Islam, beliau tidak memiliki kuasa untuk memberikan hidayah. Sebab, hidayah merupakan hak Allah swt.


Status Keimanan Abu Thalib dalam Tafsir Syekh Nawawi Banten

Status keimanan Abu Thalib menjadi salah satu persoalan yang dibahas para ulama. Dalam Marah Labid, Syekh Nawawi Banten mengemukakan penafsiran yang membuka kemungkinan bahwa Abu Thalib memiliki keimanan kepada Allah, meskipun tidak mengucapkan syahadat secara terbuka.


Beliau menjelaskan:

وهذه الأية لا دلالة في ظاهرها على كفر أبي طالب لأن الله هو الذي هداه بعد أن أيس منه النبي صلى الله عليه وسلم. أما الأحاديث الدالة على عذابه ودخوله النار فهو إما لترك النطق بالشهادتين أو لغيره. وذلك إن لم يعتد بما نطق به من الشهادة فالعذاب يكون لترك النطق بالشهادة وإن اعتد به فالعذاب يكون في مقابلة ترك فرض أخر


Artinya: “Ayat ini secara literal tidak menunjukkan bahwa Abu Thalib berstatus kafir. Sebab Allah telah memberinya hidayah setelah melihat kesedihan mendalam pada Nabi Muhammad. Adapun hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Abu Thalib disiksa dan masuk ke dalam neraka itu boleh jadi dikarenakan Abu Thalib enggan mengucapkan syahadat atau hal lainnya.


Jika dikarenakan tidak mengucapkan syahadat maka siksanya dikarenakan hal tersebut, namun jika ia mengucapkannya maka siksanya dikarenakan ia meninggalkan kewajiban yang lain.” (Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, t.t.], juz II, halaman 201).


Untuk mendukung pandangannya, Syekh Nawawi menyebutkan beberapa riwayat mengenai sikap Abu Thalib terhadap Nabi Muhammad.


Pertama, menjelang wafatnya, Abu Thalib berwasiat kepada kaum Quraisy agar mengikuti Rasulullah. Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad memiliki kedudukan penting bagi bangsa Arab maupun non-Arab. Karena itu, kaum Quraisy tidak seharusnya membiarkan bangsa lain lebih dahulu mengikuti ajarannya.


Kedua, dalam riwayat Abdullah bin Tsa'lab al-Udzri, Abu Thalib mengumpulkan kerabatnya dari Bani Abdul Muthalib. Ia meminta mereka mengikuti dan menolong Nabi Muhammad karena telah mengetahui kebaikan dan kebenaran yang dibawanya. Abu Thalib juga mengingatkan bahwa sosok Nabi Muhammad memiliki sifat kerasulan sebagaimana Nabi Musa yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.


Ketiga, Syekh Nawawi mengutip syair yang dinisbatkan kepada Abu Thalib:


ودعوتني وعلمت أنك صادق ... ولقد صدقت وكنت قبل أمينا


ولقد علمت بأن دين محمد ... من خير أديان البرية دينا


لولا الملامة أو حذار مسبة ... لوجدتني سمحا بذاك مبينا

Artinya: “Engkau telah mengajakku dan akupun mengetahui bahwa engkau benar. Sungguh engkau benar dan sebelumnya pun terpercaya. Sungguh aku mengetahui bahwa agama Muhammad adalah termasuk agama yang terbaik di dunia. Kalau saja bukan karena khawatir cela dan permusuhan sungguh engkau akan menemukanku menerimanya secara terang-terangan”.


Berdasarkan sejumlah riwayat tersebut, Syekh Nawawi berpendapat bahwa keengganan Abu Thalib mengucapkan syahadat tidak serta-merta menunjukkan pengingkaran dalam hatinya. Menurutnya, ketakutan terhadap celaan dan permusuhan dapat menjadi alasan seseorang tidak menyatakan keimanannya secara terbuka.


Syekh Nawawi menjelaskan:


واعلم أنه لو ترك شخص النطق بالشهادتين بعد المطالبة لا لإباء عن الإسلام ولا لعناد له، بل لخوف من ظالم أو من ملامة، أو مسبة عند من يعظم ذلك، وقلبه مطمئن بالإيمان فلا يكون كافرا بينه وبين الله، بل لو تكلم بالكفر والحالة هذه لا يضره


Artinya: “Ketahuilah bahwa jika seseorang tidak mengucapkan syahadat setelah dipinta, namun bukan karena enggan dari Islam maupun mengingkarinya. Akan tetapi karena ia khawatir terhadap orang zalim, atau khawatir terhadap cela, permusuhan bagi orang yang menganggap hal tersebut besar. Sedangkan hatinya tenang dalam keimanan, ia tidak dihukumi kafir kepada Allah, bahkan meski mengucapkan suatu kekufuran maka keadaan ini tidaklah membahayakannya.”


Melalui penjelasan tersebut, Syekh Nawawi menekankan pentingnya membedakan pengingkaran terhadap Islam dengan ketakutan seseorang untuk menyatakan keimanannya. Meski demikian, pandangan tentang status keimanan Abu Thalib ini bukanlah pendapat yang disepakati seluruh ulama.


Walhasil, Surat Al-Qashash ayat 56 memperlihatkan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad yang begitu mengharapkan kebaikan bagi orang yang dicintainya. Namun, ayat ini sekaligus mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kuasa menentukan hidayah bagi orang lain. Wallahu a'lam.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu.