Mengenal Sisi Kemanusiaan Nabi Muhammad dalam Surah Al-Kahfi Ayat 110
NU Online · Senin, 28 September 2026 | 10:00 WIB
M. Ryan Romadhon
Kolumnis
Sebagai seorang nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Beliau menerima wahyu, memiliki akhlak yang agung, serta menjadi teladan bagi seluruh umat Islam. Namun, di balik kemuliaan tersebut, Rasulullah tetaplah seorang manusia yang menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada umumnya.
Beliau pernah merasakan lapar, kelelahan, kesedihan, hingga sakit akibat luka yang dideritanya. Beliau juga menjalani kehidupan rumah tangga, membantu pekerjaan istrinya, serta menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Sisi kemanusiaan Rasulullah ini penting untuk dipahami agar kita dapat melihat keteladanan beliau secara lebih dekat. Sebab, terkadang kita terlalu menekankan kemuliaan dan keistimewaan beliau hingga kurang memperhatikan bagaimana Rasulullah menjalani kehidupan sebagai manusia.
Dalam Surah Al-Kahfi ayat 110, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menjelaskan kepada umatnya bahwa beliau adalah manusia sebagaimana mereka. Perbedaannya, beliau menerima wahyu dari Allah SWT yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas kerasulannya.
Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa pun dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Memahami Sisi Kemanusiaan Rasulullah
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan ungkapan بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ yang berarti manusia seperti kalian. Ungkapan ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sifat-sifat kemanusiaan sebagaimana manusia lainnya. Beliau membutuhkan makanan, minuman, dan istirahat serta mengalami berbagai keadaan yang biasa dirasakan manusia.
Pemahaman ini membantu kita melihat keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran yang beliau sampaikan telah terlebih dahulu dijalankannya, bahkan dalam keadaan yang terkadang jauh lebih sulit daripada yang dialami para sahabat.
Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi, dalam kitab Khawatir Haulal Qur'an, menjelaskan bahwa penegasan mengenai kemanusiaan Nabi Muhammad saw berkaitan erat dengan kedudukan beliau sebagai teladan bagi umatnya.
Simak penjelasannya berikut ini:
(قُلْ) أي: يا محمد، وهذا كلام جديد ﴿قُلْ إِنَّمَآ أَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ ...﴾ [الكهف: ١١٠] يعني: خُذُوني أُسْوة، فأنا لست ملَكًا إنما أنا بشر مثلكم، وحملتُ نفسي على المنهج الذي أطالبكم به، فأنا لا آمركم بشيء وأنا عنه بنجْوَى. بل بالعكس كان ﷺ َ أقلَّ الناس حَظًّا من مُتَعِ الحياة وزينتها. فكان في المؤمنين به الأغنياء الذين يتمتعون بأطايب الطعام ويرتدُونَ أغْلى الثياب في حين كان ﷺ َ يمر عليه الشهر والشهران دون أنْ يُوقَد في بيته نار لطعام، وكان يرتدي المرقّع من الثياب، كما أن أولاده لا يرثونه، كما يرث باقي الناس، ولا تحل لهم الزكاة كغيرهم، فحُرِموا من حَقٍّ تمتع به الآخرون. لذلك كان ﷺ َ أدنى الأسوات أي: أقل الموجودين في مُتع الحياة وزُخْرفها، وهذا يلفتنا إلى أن الرسالة لم تُجْرِ لمحمد نفعًا دنيويًا، ولم تُميِّزه عن غيره في زَهْرة الدنيا الفانية، إنما مَيَّزتْه في القيم والفضائل.
Artinya: “(Katakanlah) artinya: Wahai Muhammad. Dan ini merupakan kalimat/pembahasan baru. 'Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu...[QS. Al-Kahf: 110], maknanya: Jadikanlah aku sebagai teladan (uswah). Aku bukanlah seorang malaikat, melainkan manusia seperti kalian, dan aku telah menundukkan diriku untuk meniti jalan/manhaj yang aku tuntut dari kalian. Aku tidak pernah memerintahkan sesuatu kepada kalian sementara aku sendiri menghindar darinya.
Bahkan sebaliknya, Rasulullah SAW adalah orang yang paling sedikit menikmati kenikmatan dan perhiasan dunia. Di antara orang-orang yang beriman kepada beliau, terdapat orang-orang kaya yang menikmati makanan-makanan lezat dan mengenakan pakaian-pakaian termahal, sementara beliau SAW pernah melewati satu hingga dua bulan tanpa ada api yang dinyalakan di rumahnya untuk memasak makanan. Beliau mengenakan pakaian yang bertambal, anak-anak/keturunan beliau tidak mewarisi hartanya sebagaimana manusia lainnya, dan zakat pun tidak halal bagi mereka. Mereka diharamkan dari hak yang justru dinikmati oleh orang lain.
Oleh karena itu, beliau SAW adalah sosok teladan yang paling bersahaja (adnā al-aswāt), yakni yang paling sedikit mengambil bagian dari kenikmatan dan kemewahan dunia. Hal ini menyadarkan kita bahwa risalah kenabian sama sekali tidak memberikan keuntungan materiil duniawi bagi Muhammad, serta tidak membedakan beliau dari yang lain dalam hal kemewahan dunia yang fana. Risalah tersebut hanya membedakan dan mengunggulkan beliau dalam hal nilai-nilai (al-qiyam) dan keutamaan-keutamaan (al-fadhail).” (Khawatir Haulal Qur’an, [Kairo, Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid. XV, hal. 9012)
Penjelasan Syekh Asy-Sya'rawi tersebut memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW menjalani sendiri ajaran yang disampaikannya kepada umat. Beliau mengajarkan kesederhanaan dan memberikan contoh melalui kehidupannya. Bahkan, beliau sering menghadapi keadaan yang lebih berat dibandingkan dengan sebagian sahabatnya.
Karena itu, ketika mempelajari kehidupan Rasulullah, kita juga perlu memperhatikan pengalaman-pengalaman manusiawi yang beliau alami. Melalui pengalaman tersebut, kita dapat memahami bagaimana beliau menghadapi kesulitan, bersabar, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya.
Berikut beberapa peristiwa yang menggambarkan sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW.
1. Rasulullah Pernah Merasakan Lapar
Salah satu pengalaman manusiawi yang pernah dialami Rasulullah SAW adalah kelaparan. Dalam sejumlah riwayat, diceritakan bahwa beliau menjalani kehidupan yang sederhana dan terkadang tidak memiliki makanan yang cukup.
Salah satu peristiwa tersebut terjadi ketika penggalian parit dalam Perang Khandaq. Saat itu, para sahabat mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah. Mereka memperlihatkan batu yang diikatkan pada perut masing-masing untuk menahan lapar.
Ternyata, Rasulullah mengalami keadaan yang lebih berat. Ketika para sahabat memperlihatkan satu batu yang mereka ikatkan pada perutnya, beliau memperlihatkan dua batu pada perutnya.
Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh sahabat Abu Thalhah ra sebagai berikut:
عَنْ أَبِي طَلْحَةَ، قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْجُوعَ وَرَفَعْنَا عَنْ بُطُونِنَا عَنْ حَجَرٍ حَجَرٍ فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَطْنِهِ عَنْ حَجَرَيْنِ
Artinya: “Dari Abu Thalhah ra, ia berkata: 'Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah SAW, lalu kami menyingkap kain dari perut kami (dan memperlihatkan) ganjalan batu pada masing-masing perut kami. Maka Rasulullah SAW pun menyingkap kain dari perut beliau, dan ternyata beliau mengganjal perutnya dengan dua buah batu.’” (HR. At-Tirmidzi)
Riwayat tersebut menggambarkan keadaan sulit yang pernah dialami Rasulullah bersama para sahabat. Meskipun sedang kelaparan, beliau tetap ikut bekerja dan menjalankan tanggung jawabnya.
Dari peristiwa ini, kita dapat melihat bahwa Rasulullah memahami kesulitan yang dihadapi para sahabat karena beliau juga mengalaminya. Beliau tidak membiarkan mereka bekerja sendirian, tetapi turut merasakan kesulitan yang mereka hadapi.
2. Rasulullah Pernah Mengalami Luka dalam Perang
Selain merasakan lapar dan kelelahan, Rasulullah SAW juga pernah mengalami luka fisik. Salah satu peristiwa yang menggambarkan hal tersebut terjadi ketika Perang Uhud.
Dalam pertempuran itu, Rasulullah mengalami luka di bagian kepala dan wajah. Gigi seri beliau juga patah akibat serangan musuh. Kejadian ini tentu menimbulkan rasa sakit sebagaimana yang dialami manusia ketika mengalami luka.
Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra sebagai berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ "كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ "
Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW patah gigi seri bawahnya pada hari Perang Uhud, dan terluka kepala/wajahnya. Maka beliau mengusap darah dari wajahnya seraya bersabda: ‘Bagaimana akan beruntung/sukses suatu kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan mematahkan gigi serinya, padahal Nabi tersebut menyeru mereka kepada Allah?’” (HR. Muslim)
Hadits ini memperlihatkan beratnya perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan ajaran Islam. Beliau menghadapi penolakan, ancaman, hingga kekerasan fisik yang membahayakan keselamatannya.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan kita bahwa perjuangan Rasulullah tidak selalu berjalan mudah. Beliau harus menghadapi berbagai kesulitan, termasuk penderitaan fisik, selama menjalankan tugas kerasulannya.
3. Rasulullah Pernah Merasakan Kesedihan
Kesedihan juga menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah saw. Beliau pernah kehilangan orang-orang yang dicintainya, termasuk istrinya, Khadijah ra, dan putranya, Ibrahim.
Ketika Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah menangis. Peristiwa tersebut membuat Abdurrahman bin Auf merasa heran dan bertanya kepada beliau. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa tangisannya merupakan bentuk kasih sayang.
Beliau mengajarkan bahwa kesedihan dan tangisan merupakan sesuatu yang manusiawi. Seseorang dapat merasakan kehilangan dan menangis tanpa harus mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan keridhaan Allah swt.
Peristiwa tersebut diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra:
قال أنس - رضي الله عنه -: دخلنا معَ رسولِ الله على أبي سَيْفٍ القَيْنِ - وكان ظِئرًا لإبراهيمَ - فأخذَ رسولُ الله إبراهيمَ فَقَبَّلَهُ وشمَّه، ثم دخلنا عليهِ بعدَ ذلكَ، وإبراهيمُ يجودُ بنفسه، فجعلَتْ عينا رسولِ الله تَذْرِفَانِ، فقالَ له عبدُ الرحمن بن عَوْفٍ: وأنتَ يا رسولَ الله؟ فقالَ: «يا ابن عوفٍ! إنها رحمةٌ»، ثم أَتْبَعَها بأُخرى فقال: «إن العينَ تَدمعُ، والقلبُ يحزنُ، ولا نقولُ إلا ما يُرضي ربنا، وإنا لفِراقِكَ يا إبراهيم لَمَحْزُونون».
Artinya, “Anas ra. berkata: Kami masuk bersama Rasulullah saw. ke rumah Abu Saif al-Qayn, yang merupakan suami dari ibu susuan Ibrahim, putra Rasulullah. Rasulullah kemudian mengambil Ibrahim, menciumnya, dan mencium aromanya.
Setelah itu, kami kembali mendatanginya ketika Ibrahim sedang menghadapi sakaratul maut. Kedua mata Rasulullah pun meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah kasih sayang.’
Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali sesuatu yang diridhai Tuhan kami. Sungguh, kami bersedih atas perpisahan denganmu, wahai Ibrahim.’” (HR. Bukhari)
Melalui hadits tersebut, Rasulullah memberikan contoh bagaimana menghadapi kehilangan orang yang dicintai. Beliau tidak menyembunyikan kesedihannya dan membiarkan air matanya mengalir. Pada saat yang sama, beliau tetap menjaga ucapan dan menunjukkan sikap menerima ketentuan Allah swt.
Sikap tersebut dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang sedang mengalami kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga atau orang yang dicintainya. Menangis dan bersedih merupakan hal yang wajar, selama seseorang tetap menjaga sikap dan ucapannya.
Mengapa Kita Perlu Memahami Sisi Kemanusiaan Rasulullah?
Beberapa peristiwa di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengalami berbagai keadaan yang juga dihadapi manusia pada umumnya. Beliau pernah merasakan lapar, mengalami luka, dan menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya.
Dengan memahami pengalaman-pengalaman tersebut, kita dapat mengenal Rasulullah secara lebih dekat. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari cara beliau menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya.
Setidaknya, terdapat dua pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sisi kemanusiaan Rasulullah.
1. Rasulullah Memahami Kesulitan yang Dihadapi Manusia
Rasulullah SAW memiliki kepedulian yang besar terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan. Sepanjang hidupnya, beliau sendiri telah menghadapi berbagai keadaan yang berat.
Sejak kecil, beliau harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal sebelum beliau dilahirkan, sedangkan ibunya meninggal ketika beliau masih berusia enam tahun.
Setelah itu, Rasulullah diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian oleh pamannya, Abu Thalib. Beliau juga pernah mengalami keadaan ekonomi yang sulit sebelum Allah memberikan kecukupan kepadanya.
Pengalaman tersebut disebutkan dalam Surah Ad-Dhuha ayat 6-8. Allah SWT berfirman:
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
Artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu; mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan? (QS. Dhuha: 6-8)
Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan bahwa ketiga ayat tersebut mengingatkan Rasulullah tentang nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
Penjelasan tersebut sebagaimana tercantum dalam kutipan berikut:
عدد الله تعالى نعمه ومننه على نبيه محمد ﷺ، وذكر منها في السورة ثلاثا هي الإيواء بعد اليتم، والهدى بعد الغفلة، والإغناء بعد الفقر. أما الإيواء فقد تكفله بعد موت أبيه وأمه جده عبد المطلب، ثم عمه أبو طالب فكفله وآزره، ودفع عنه الأذى. وأما الهدى فهو بيان القرآن والشرائع، فهداه الله إلى أحكام القرآن وشرائع الإسلام، بعد الجهل بها والغفلة عنها. وأما الإغناء فهو الإمداد بالفضل والمال والرزق بالتجارة في مال خديجة رضي الله عنها. وفي زمان الرسالة أغناه بمال أبي بكر، ثم بمال الأنصار بعد الهجرة، ثم بالغنيمة.
Artinya: “Allah SWT menyebutkan nikmat-nikmat dan karunia-Nya kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, dan menyebutkan tiga di antaranya dalam surah ini (Surah Ad-Duha), yaitu:
- Perlindungan (al-Iwa')/Pengayoman setelah kelahirannya dalam keadaan yatim,
- Petunjuk (al-Huda) setelah ketidaktahuan/kelalaian (al-gaflah), dan
- Kecukupan (al-Ighna')/Kekayaan setelah kemiskinan.
Adapun Al-Iwa' (Perlindungan): Allah mengurus dan melindunginya setelah wafatnya ayah dan ibunya melalui kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian pamannya, Abu Thalib, yang mengasuhnya, mendukungnya, serta membentenginya dari gangguan.
Adapun Al-Hudā (Petunjuk): Yang dimaksud adalah penjelasan Al-Qur'an dan syariat-syariat. Allah memberinya petunjuk kepada hukum-hukum Al-Qur'an dan syariat Islam setelah sebelumnya beliau tidak mengetahuinya.
Adapun Al-Ignā' (Kecukupan/Kekayaan): yaitu pemberian karunia, harta, dan rezeki melalui perniagaan harta Khadijah RA. Kemudian di masa kerasulan, Allah mencukupkannya dengan harta Abu Bakar, lalu harta kaum Anshar setelah hijrah, dan kemudian melalui harta rampasan perang (ganīmah).” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid. XXX, hal. 288-289)
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa Rasulullah pernah menghadapi keadaan yang sulit sejak masa kecilnya. Beliau kehilangan kedua orang tua, menjalani kehidupan dalam pengasuhan keluarganya, serta pernah mengalami keterbatasan ekonomi.
Pengalaman-pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai perjalanan hidup beliau sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas kerasulan.
Ketika melihat orang-orang yang mengalami kesulitan, kita dapat meneladani kepedulian Rasulullah dengan berusaha memahami keadaan mereka dan memberikan bantuan sesuai kemampuan.
2. Keteladanan Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari
Sisi kemanusiaan Rasulullah juga dapat dilihat dari kehidupan beliau bersama keluarganya. Meskipun memiliki kedudukan yang mulia sebagai nabi dan rasul, beliau tetap meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan rumah tangga.
Beliau menjalankan perannya sebagai suami dan anggota keluarga sebagaimana manusia lainnya. Kesibukannya dalam berdakwah dan membimbing umat tidak membuat beliau mengabaikan kehidupan rumah tangganya.
Salah satu riwayat yang menggambarkan hal tersebut berasal dari Aisyah ra. Ketika ditanya mengenai kegiatan Rasulullah saat berada di rumah, Aisyah menjelaskan bahwa beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.
Simak hadits berikut:
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ
Artinya: “Rasulullah saw. dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu shalat maka beliau pun pergi shalat,” (HR Bukhari).
Hadits tersebut memberikan gambaran mengenai keseharian Rasulullah bersama keluarganya. Beliau bersedia membantu pekerjaan rumah tangga dan tetap menjalankan kewajiban ibadah ketika waktunya tiba.
Sikap ini dapat menjadi teladan bagi umat Islam dalam membangun kehidupan keluarga. Seorang suami dapat mencontoh Rasulullah dengan ikut membantu pekerjaan rumah tangga, memperhatikan kebutuhan keluarganya, serta membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan ibadah.
Keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa akhlak yang baik juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan orang-orang terdekat, terutama anggota keluarga.
Surah Al-Kahfi ayat 110 mengingatkan kita bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang menerima wahyu dari Allah SWT. Sebagai manusia, beliau mengalami berbagai keadaan yang juga dirasakan manusia lainnya, mulai dari lapar, kelelahan, sakit, hingga kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintainya.
Berbagai pengalaman tersebut dapat membantu kita memahami kehidupan Rasulullah secara lebih utuh. Ketika menghadapi kesulitan, kita dapat mempelajari bagaimana beliau bersabar dan menjalankan tanggung jawabnya. Ketika mengalami kesedihan, kita dapat meneladani cara beliau mengungkapkan perasaan tanpa kehilangan keimanan kepada Allah.
Begitu pula dalam kehidupan keluarga. Sikap Rasulullah yang bersedia membantu pekerjaan rumah tangga mengajarkan pentingnya kepedulian dan kerja sama antara anggota keluarga.
Dengan mengenal sisi kemanusiaan Rasulullah, kita memiliki lebih banyak contoh nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keagungan akhlak beliau dapat menjadi pedoman bagi kita dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma'had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
Khutbah Shalat Istisqa: Memohon Hujan, Ampunan, dan Rahmat Allah
2
Prabowo Bentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove untuk Perkuat Pencegahan Karhutla
3
Hukum Mengisi Absensi Teman yang Tidak Masuk Kerja
4
Hukum Shalat di Atas Sajadah Bergambar dan Berwarna Mencolok
5
Indonesia dan Sejumlah Negara Walk Out Saat Netanyahu Naik Mimbar Majelis Umum PBB
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ngarep-arep Tumurune Udan kelawan Nyuwun Pangapuran lan Tetulungan
Terkini
Lihat Semua