Hikmah Penciptaan Gunung di Bumi dalam Tafsir Surat Al-Anbiya Ayat 31
NU Online · Senin, 21 September 2026 | 20:30 WIB
Besse Herlina Taha
Kolumnis
Pernahkah kita membayangkan bagaimana manusia dapat hidup di atas Bumi yang terus bergerak di ruang angkasa? Di sekeliling kita, gunung-gunung berdiri kokoh, menjulang tinggi, dan tampak seolah-olah tidak bergerak. Keberadaannya bukan sekadar menjadi bagian dari bentang alam, tetapi juga berkaitan erat dengan berbagai proses geologis yang membentuk dan memengaruhi kehidupan di Bumi.
Jika diperhatikan dengan saksama, gunung merupakan salah satu fenomena alam yang menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan yang bekerja di dalam bumi. Pembentukannya berkaitan dengan aktivitas geologi, termasuk pergerakan dan tumbukan lempeng tektonik yang dapat mendorong lapisan batuan Bumi hingga terangkat dan membentuk pegunungan. Di balik kokohnya gunung yang tampak di permukaan, terdapat proses geologis yang berlangsung dalam waktu sangat panjang.
Jauh sebelum manusia mengenal ilmu geologi secara modern, Allah SWT telah memberikan jawaban mengapa Allah menjadikan gunung di Bumi.
Dalam QS. Al-Anbiya Ayat 31:
وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ ٣١
Artinya, "Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung yang kukuh agar (tidak) berguncang bersama mereka dan Kami menjadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas agar mereka mendapat petunjuk."
Secara bahasa, kata الرَّوَاسِي (ar-rawâsi) merupakan bentuk jamak dari رَاسِيَةٌ (râsiyah), yang berasal dari kata رَسَا الشَّيْءِ (rasâ asy-syai’), yang berarti sesuatu yang tetap dan kokoh. Yang dimaksud dengan الرَّوَاسِيُّ adalah gunung-gunung yang kokoh dan tertancap kuat di bumi. (Muhammad Sayyid Tantâwî, At-Tafsîr al-Wasîṭ li al-Qur’an al-Karîm [Kairo: Matba‘ah al-Sa‘âdah, 1987] juz 16, hlm. 264).
قال ابن عباس رضي الله عنهما: إن الأرض بسطت على الماء فكانت تنكفىء بأهلها كما تنكفىء السفينة، لأنها بسطت على الماء فأرساها الله تعالى بالجبال الثقال.
Artinya, “Ibnu Abbas RA berkata: Sesungguhnya bumi dibentangkan di atas air. Bumi itu kemudian bergoyang bersama para penghuninya sebagaimana kapal bergoyang di atas air, karena bumi dibentangkan di atas air. Maka Allah SWT. mengokohkannya dengan gunung-gunung yang berat.”
Imam Ath -Thabari menekankan fungsi gunung-gunung yang kokoh di bumi dan meneguhkannya agar bumi tidak berguncang bersama manusia, sehingga mereka dapat hidup dan berdiri dengan tenang di atas permukaannya. Hal ini sebagaimana dinukil dari Qatadah:
Baca Juga
Hikmah dan Cara Dzikir La Ilaha Illallah
حدثنا بِشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة، قال: كانوا علـى الأرضِ تـمور بهم لا تستقرّ، فأصبحوا وقد جعل الله الـجبـال وهي الرواسي أوتادا للأرض
Artinya, “Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata: Yazid telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa‘id telah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, ia berkata: “Dahulu mereka berada di atas bumi yang berguncang dan bergerak sehingga tidak stabil. Kemudian Allah menjadikan gunung-gunung, yaitu gunung-gunung yang kokoh (al-rawâsi), sebagai pasak bagi bumi” (Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami'ul Bayan [Kairo: Dâr Hijr, 2001] juz 16 hlm. 261)
Penjelasan yang serupa juga disampaikan oleh Ibnu Katsir. Gunung-gunung yang dengannya Allah mengokohkan bumi, menetapkan dan memberikan bobot kepadanya, agar bumi tidak berguncang dan bergerak, sehingga manusia tidak dapat hidup dengan tenang di atasnya.
Hal itu karena Bumi dikelilingi oleh air, kecuali sekitar seperempat bagiannya yang tampak dan terbuka bagi udara serta sinar matahari. Dengan demikian, penduduk bumi dapat menyaksikan langit dan berbagai tanda yang menakjubkan di dalamnya, serta berbagai hikmah dan petunjuk yang terkandung di dalamnya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-'Azhim, [Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi', 1997), jilid V, hlm. 340).
Sementara Imam Al-Qurthubi menjelaskan adanya perbedaan pandangan mengenai konstruksi makna kalimat tersebut. Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat di antara ulama Kufah tentang makna أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ: “agar bumi tidak berguncang bersama mereka”.
Jadi, maknanya menekankan tujuan dari dijadikannya gunung, yaitu agar bumi tidak bergerak atau berguncang sehingga manusia dapat hidup dengan tenang. Sementara itu, para ulama Basrah berpendapat bahwa maknanya adalah karena dikhawatirkan bumi akan berguncang. Kata al-mayd berarti bergerak dan berputar. (Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006], juz XIV, hlm. 198).
Menariknya, ayat ini tidak berhenti pada pembahasan mengenai gunung. Setelah menyebut rawāsi, Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا
Artinya, “Dan Kami menjadikan di sana jalan-jalan yang luas.”
Kata الفِجَاج (al-fijāj) merupakan bentuk jamak dari فج (fajj), yang berarti jalan yang luas. Adapun السُّبُل (as-subul) merupakan bentuk jamak dari سَبِيل (sabîl), yang berarti jalan. Kata سُبُلًا berkedudukan sebagai badal dari kata فِجَاجًا.
Imam Tantawi menjelaskan bahwa maksud lafadz tersebut adalah Allah menjadikan di bumi jalan-jalan yang luas dan berbagai akses, agar dengan jalan tersebut mereka dapat memperoleh petunjuk dan mencapai tempat-tempat yang ingin mereka tuju.
Dengan demikian, mereka mengetahui bahwa zat yang menganugerahkan seluruh nikmat tersebut kepada mereka adalah Allah SWT yang semestinya hanya kepada-Nya mereka memurnikan ibadah dan ketaatan. (Muhammad Sayyid Tantawi, at-Tafsîr al-Wasîṭ li al-Qur’an al-Karîm (Kairo: Matba‘ah al-Sa‘ādah, 1987), juz XVI, hlm. 264).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa lafadz ini berarti celah-celah atau jalan terbuka di antara gunung-gunung yang dapat dilalui manusia untuk bepergian dari satu daerah ke daerah lainnya dan dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Hal tersebut sebagaimana dapat disaksikan di muka bumi, ketika sebuah gunung menjadi penghalang antara satu daerah dan daerah lainnya.
Kemudian Allah menjadikan pada gunung tersebut sebuah celah atau jalan terbuka yang dapat dilalui manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam konteks ini, petunjuk tersebut berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menemukan jalan dan mencapai tempat yang mereka tuju. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, juz V, hlm. 340).
Sedangkan ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan mengenai kata فِيهَا terdapat dua pendapat. Pertama, kata tersebut kembali kepada gunung-gunung, yakni: Kami menjadikan pada gunung-gunung yang kokoh itu jalan-jalan yang luas. Pendapat ini dikemukakan oleh Muqatil dan Ad-Dhahhak, serta merupakan salah satu riwayat dari Atha’ dari Ibnu Abbas. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Umar. Ia berkata bahwa dahulu gunung-gunung itu saling menyatu. Ketika Allah menenggelamkan kaum Nuh, Dia memisahkan gunung-gunung tersebut dan menjadikannya memiliki celah-celah serta jalan-jalan.
Kedua, kata فِيهَا kembali kepada bumi. Dengan demikian, maknanya adalah: Kami menjadikan di bumi jalan-jalan yang luas, yaitu tempat-tempat untuk melintas dan berbagai jalan. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Kalbi. (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaîb, [Beirut: Dar al-Fikr, 1981] juz 22, hlm. 164)
Sementara Imam at-Thabari merujuk pada pengertian bahwa kata ganti hâ’ dan alif merujuk kepada bumi, bukan kepada gunung-gunung. Sebab, apabila kata ganti tersebut merujuk kepada bumi, maka pengertian ayat mencakup dataran maupun pegunungan. Keduanya merupakan bagian dari bumi, dan Allah telah menyediakan bagi makhluk-Nya celah-celah dan jalan-jalan pada seluruh bagian bumi tersebut.
Tidak ada petunjuk yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah celah-celah pada sebagian bumi yang dijadikan jalan bagi manusia, tetapi tidak pada bagian lainnya. Karena itu, makna yang bersifat umum lebih tepat digunakan.
Diakhir ayat Allah SWT berfirman:
لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
Artinya, “Agar mereka mendapat petunjuk.”
Maksudnya adalah menjadikan celah-celah dan jalan-jalan tersebut di bumi agar manusia dapat menemukan jalan dan mengetahui arah perjalanan di dalamnya. (Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami'ul Bayan [Kairo: Dâr Hijr, 2001] juz XVI hlm. 261).
Dengan demikian, kandungan dari QS. Al-Anbiya ayat 31 tidak hanya menyebut keberadaan gunung sebagai bagian dari alam, tetapi juga menggambarkan gunung dan jalan-jalan di bumi sebagai bagian dari keteraturan ciptaan Allah SWT yang menunjang kehidupan manusia.
Al-Qur’an mengajak manusia tidak sekadar memandang gunung dan bagiannya sebagai fenomena alam, tetapi juga memperhatikan ciptaan tersebut sebagai tanda yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Wallahu a'lam.
Ustadzah Besse Herlina Taha, Pembina PP Al-Ikhlas Ujung Bone.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar
2
Ngaji Al-Hikam, Kiai Miftach Ungkap Makna Keramat dalam Perjalanan Spiritual
3
Kemenag Buka Program Persiapan Studi ke Luar Negeri, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
4
Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Rakyat Berjuang Sendiri Saat Bencana
5
Baca Doa Ini untuk Jaga Kesehatan Mental
6
Tanah Wakaf NU di Yogyakarta Dikembangkan Jadi Kampung Reforma Agraria Berbasis Wakaf Produktif
Terkini
Lihat Semua