Tafsir

Gunung pun Tunduk di Hadapan Al-Qur’an, Begini Penjelasan Para Mufasir

NU Online  ·  Senin, 21 September 2026 | 18:30 WIB

Gunung pun Tunduk di Hadapan Al-Qur’an, Begini Penjelasan Para Mufasir

Ilustrasi gunung. Sumber: Canva.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pegunungan terbanyak di dunia. Mengutip Travel Detik, jumlah gunung di Indonesia mencapai sekitar 629 gunung.


Beberapa di antaranya bahkan menjulang hingga lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), seperti Gunung Jayawijaya, misalnya, yang memiliki ketinggian 4.884 mdpl, dan Gunung Kerinci di Pulau Sumatera yang memiliki ketinggian 3.805 mdpl.


Selain menjadi bagian penting dari ekosistem dan sumber kehidupan bagi manusia. Keberadaan gunung juga menjadi salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Hal ini sebagaimana banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya ketika Allah menggambarkan gunung sebagai sesuatu yang kokoh dan menjadi bagian dari keteraturan alam.


Menariknya, dalam Al-Qur’an, Allah juga pernah memberikan perumpamaan apabila Al-Qur’an tidak diturunkan kepada manusia, melainkan kepada gunung. Apa yang terjadi?


Perumpamaan tersebut Allah jelaskan dalam Surat Al-Hasyr Ayat 21 berikut:


لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ


Artinya: “Andai Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir”. (QS. Al-Hasyr: 21)


Perhatikan Surat Al-Hasyr ayat 21 di atas. Pada ayat di atas, Allah menggunakan gunung sebagai sebuah perumpamaan untuk menggambarkan betapa agung dan dahsyatnya wahyu Allah, yaitu Al-Qur’an. Lalu bagaimana pendapat para ahli tafsir terkait ayat di atas? 


Tafsir Mafatihul Ghaib

Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa ayat di atas merupakan perumpamaan dari Allah yang menjelaskan betapa agungnya Al-Qur’an. Bahwa apabila sebuah gunung diberikan akal kemudian Al-Qur’an diturunkan kepadanya, maka gunung tersebut akan tunduk bahkan terbelah karena takut kepada Allah.


Simak penjelasan Ar-Razi berikut:


وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَوْ جُعِلَ فِي الْجَبَلِ عَقْلٌ كَمَا جُعِلَ فِيكُمْ، ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ لَخَشَعَ وَخَضَعَ وَتَشَقَّقَ مِنْ خَشْيَةِ اللَّه


Artinya: “Maknanya ialah bahwa apabila gunung diberikan akal sebagaimana kalian, kemudian Al-Qur’an diturunkan kepadanya, maka gunung tersebut akan tunduk, patuh, bahkan terbelah karena takut kepada Allah.”


Adapun tujuan Allah membuat perumpamaan ini ialah sebagai pengingat bagi orang-orang kafir saat itu. Menurut Ar-Razi, Allah sengaja memberikan perumpamaan diturunkannya Al-Qur’an kepada gunung sebagai pengingat.


Bahwa gunung yang terdiri dari bebatuan yang keras dan padat masih dapat menjadi lunak dan takut, bahkan hancur, saat diberikan akal untuk menerima Al-Qur’an. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir yang saking kerasnya hati mereka layaknya batu, tidak dapat menerima kebenaran Al-Qur’an.


أَيِ الْغَرَضُ مِنْ ذِكْرِ هَذَا الْكَلَامِ التَّنْبِيهُ عَلَى قَسَاوَةِ قُلُوبِ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارِ، وَغِلَظِ طِبَاعِهِمْ، وَنَظِيرُ قَوْلِهِ: ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذلِكَ فَهِيَ كَالْحِجارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً


Artinya: “Tujuan dari firman Allah ini ialah sebagai pengingat akan kerasnya hati orang-orang kafir dan bebalnya akal mereka. Senada dengan firman Allah lainnya: kemudian hati mereka mengeras setelahnya sebagaimana batu atau bahkan lebih keras”. (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1420 H], juz XXIX, hlm. 512).


Tafsir At-Thabari

Lebih lanjut, Imam At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khitab ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad. Allah memberikan pelajaran kepada Nabi Muhammad SAW bahwa apabila Al-Qur’an diturunkan kepada sebuah gunung, meski dengan struktur bebatuannya yang keras, ia akan tetap tunduk dan takut kepada Allah karena khawatir tidak bisa memenuhi kewajibannya mengagungkan Al-Qur’an.


Simak penjelasan Imam At-Thabari berikut:


لو أنزلنا هذا القرآن على جبل، وهو حجر، لرأيته يا محمد يا خاشعًا؛ يقول:متذللا متصدّعا من خشية الله على قساوته، حذرًا من أن لا يؤدّي حقّ الله المفترض عليه في تعظيم القرآن، وقد أنزل على ابن آدم وهو بحقه مستخفٌّ، وعنه عما فيه من العِبَر والذكر مُعْرض، كأن لم يسمعها، كأن في أذنيه وقرًا


Artinya: “Apabila Al-Qur’an ini diturunkan kepada sebuah gunung (yaitu) bebatuan, engkau akan melihatnya, wahai Muhammad, meski dengan struktur tubuhnya yang keras, ia akan tunduk karena takut kepada Allah. Gunung tersebut akan khawatir tidak bisa memenuhi kewajibannya dalam mengagungkan Al-Qur’an.


Sungguh Al-Qur’an telah diturunkan kepada anak Adam yang menganggap remeh haknya, berpaling dari pelajaran-pelajaran dan pengingat di dalamnya seakan tidak mendengarnya, seakan ada sumbatan di dalam kedua telinganya.


Dalam penafsiran tersebut, Imam At-Thabari mengambilnya dengan bersumber dari beberapa riwayat, di antaranya dari Ibnu Abbas berikut:


لو أني أنزلت هذا القرآن على جبل حملته إياه تصدّع وخشع من ثِقله، ومن خشية الله، فأمر الله عزّ وجلّ الناس إذا أنزل عليهم القرآن، أن يأخذوه بالخشية الشديدة والتخشع


Artinya: “Apabila Aku (Allah) menurunkan Al-Qur’an ini kepada gunung, ia akan tunduk karena beban beratnya dan karena takut kepada Allah. Maka Allah memerintahkan kepada manusia apabila Al-Qur’an diturunkan kepada mereka untuk menjaganya dengan rasa takut yang tinggi dan khusyu”. (Imam At-Thabari, Jami'ul Bayan 'an Takwili ayil Qur’an, [Mekkah, Darut Turats Al-Arabiyah, tt], juz XXIII, hal 301)


Tafsir Marah Labid

Sementara itu, Syekh Nawawi Banten menjelaskan bahwa Surat Al-Hasyr ayat 21 ini merupakan pengingat bagi umat manusia untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an. Syekh Nawawi berkata, apabila gunung diberikan akal, kemudian diturunkan kepadanya Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan merasa takut tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk mengagungkan Al-Qur’an.


Oleh karenanya, manusia diperintahkan untuk merenungi perintah tersebut agar lebih baik lagi dalam mengamalkan nasihat-nasihat yang ada di dalam Al-Qur’an.


لكي يتأملوا مواعظ القرآن فإنه لا عذر في ترك التدبر، فإنه لو خوطب بهذا القرآن الجبال مع تركيب العقل فيها لانقادت لمواعظه ولرأيتها ذليلة متشققة من خشية الله


Artinya: “Agar umat manusia merenungi nasihat-nasihat yang ada di dalam Al-Qur’an. Sebab tidak ada alasan untuk meninggalkan tadabbur. Sebab apabila Al-Qur’an ini diberikan kepada gunung beserta diberikannya akal, maka ia akan tunduk karena nasihat-nasihat Al-Qur’an dan engkau akan melihatnya tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah”. (Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz II, hlm. 514).


Dari penjelasan ketiga ulama tafsir di atas, dengan perumpamaan diturunkannya Al-Qur’an kepada gunung, dapat dipahami betapa agungnya Al-Qur’an. Oleh karenanya, sebagaimana gunung yang begitu keras dengan strukturnya yang dipenuhi bebatuan dapat lunak bahkan hancur saat diberikan Al-Qur’an, maka selayaknya bagi manusia untuk lebih bisa mengagungkan Al-Qur’an dengan mengamalkan nasihat-nasihat di dalamnya.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu.