Tafsir

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 95, Ayat yang Dibacakan untuk Menyambut Delegasi dari Turki saat Pemakaman Ali Khamenei

NU Online  ·  Selasa, 14 Juli 2026 | 17:00 WIB

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 95, Ayat yang Dibacakan untuk Menyambut Delegasi dari Turki saat Pemakaman Ali Khamenei

Ilustrasi bendera Turki. Sumber: Canva.

Di balik jutaan hadirin yang memenuhi jalan dan beberapa daerah saat prosesi pemakaman Pimpinan Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, ada pemandangan yang menarik perhatian dunia. 


Bukan soal banyaknya pelayat yang hadir atau yang berduka meluapkan tangisan. Bukan. Akan tetapi, soal pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an untuk menyambut delegasi dari sejumlah negara undangan.


Diketahui bahwa setiap delegasi disambut dengan pembacaan ayat Al-Qur'an yang berbeda, misalnya delegasi dari Turki disambut dengan pembacaan Surat An-Nisa' ayat 95.


Hal ini menuai spekulasi beragam, mulai dari sekadar tanggapan biasa hingga munculnya berbagai penafsiran yang dikaitkan dengan situasi geopolitik yang sedang terjadi di negara bersangkutan.


Nah, pada kesempatan kali ini, mari kita membaca tafsir Surat An-Nisa’ ayat 95, ayat yang dibacakan untuk delegasi Turki. Ayat tersebut berbunyi: 


لَا يَسْتَوِى الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ  فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةًۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ


Artinya, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang terbaik (surga), (tetapi) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An-Nisa' [4]: 95).


Sebab Turunnya Ayat dan Kaitannya dengan Ayat Sebelumnya 

Pada ayat sebelumnya, QS. An-Nisa' [4]: 94, Allah SWT menjelaskan tentang anjuran atau memotivasi untuk berjihad melawan musuh-musuh Islam dan melarang umat Muslim untuk membunuh setiap orang yang pada zahirnya memeluk agama Islam. 


Lalu, pada ayat ini, Allah SWT melanjutkan dengan menguraikan keutamaan berjihad dan perbedaan derajat orang-orang yang memilih untuk terjun langsung ke medan perang dengan orang-orang yang sebenarnya ingin ikut tapi ada udzur syar'i dan dengan orang-orang yang hanya duduk; tidak ikut berperang tanpa ada udzur syar'i. 


Korelasi antara ayat ini dan ayat sebelumnya adalah: meskipun ada larangan untuk membunuh setiap orang yang pada zahirnya sudah berislam pada ayat 94, tapi dengan adanya uraian keutamaan berjihad pada ayat 95 ini menjadi semacam obat keraguan untuk tetap terjun langsung melawan musuh-musuh Allah SWT. 


Inilah aspek keterkaitan ayat ini dan ayat sebelumnya. (Lihat: Syekh Muhammad Amin, Nuzulu Kiramidh Dhifan fi Sahati Hada‘iqur Rauhi war Raihan, [Beirut: Daru Thauqin Najah, 2001], jilid VI, hlm. 294).


Sementara itu, setidaknya ada dua versi sebab turunnya ayat ini. Pertama, dilatarbelakangi oleh kisah Sahabat Zaid bin Tsabit saat dipanggil oleh Rasulullah SAW. 


Diceritakan bahwa ketika Zaid menghadap ke Rasulullah dengan membawa semacam papan (sebagai alat tulis), Ummu Maktum yang saat itu berada di situ mengadukan kepada Rasulullah SAW tentang kondisi fisiknya (yang tidak melihat). Maka, turunlah ayat, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.”


Versi kedua, ayat ini turun berkenaan dengan ketidakikutsertaan Sahabat Ka'ab bin Malik dari Bani Salimah, Murarah bin Ar-Rabi' dari Bani 'Amru bin 'Auf, serta Hilal bin Umayyah dari Bani Waqif bersama Rasulullah SAW dalam Perang Tabuk. (Lihat: Syekh Muhammad Amin, Hada‘iqur Rauhi war Raihan, jilid VI, hlm. 296).


Lebih jauh lagi, sebagian mufassir menyatakan bahwa ayat ini turun saat jihad sunnah, bukan jihad fardhu. Kenapa? Mari simak jawabannya pada redaksi berikut:


قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: كَانَ نُزُولِ هَذِهِ الْآيَةِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي كَانَ الْجِهَادُ فِيهِ تَطَوُّعًا، وَإِلَّا لَمْ يَكُنْ لِقَوْلِهِ: لَا يَسْتَوِي مَعْنَى، لِأَنَّ مَنْ تَرَكَ الْفَرْضَ لَا يُقَالُ: إِنَّهُ لَا يَسْتَوِي هُوَ وَالْآتِي بِهِ، بَلْ يَلْحَقُ الْوَعِيدُ بِالتَّارِكِ، وَيَرْغَبُ الْآتِي بِهِ فِي الثَّوَابِ


Artinya, "Sebagian ulama (tafsir) mengatakan bahwa ayat ini turun saat jihad sunnah, karena jika  tidak, ayat "lâ yastawil" tidak berfaedah. Sebab, seorang yang tidak melaksanakan kefardhuhan seharusnya tidak dikatakan "Tidak sama" sebagaimana dalam ayat, tapi berhak dinisbatkan kepadanya sebuah ancaman sebab meninggalkannya, serta sebuah motivasi mendapatkan pahala bagi yang melakukannya." (Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fiqr, 1420 H], jilid VI, hal. 36).


Penafsiran Ayat: Tiga Derajat Umat Muslim Berkenaan dengan Jihad fi Sabilillah 

Di atas telah disinggung bahwa ayat ini secara umum berbicara tentang keistimewaan berjihad fi sabilillah melawan musuh-musuh dan perbedaan derajat orang-orang yang memilih terjun langsung ke medan peperangan dan orang-orang yang hanya duduk di rumahnya. 


Secara sederhana, ada tiga derajat Muslim berkenaan dengan jihad fi sabilillah, yakni (1) Muslim yang berani terjun langsung. Inilah kedudukan yang paling tinggi: (1) Muslim yang sejati memiliki niat kuat tapi keadaan fisik atau finansialnya tidak memungkinkan untuk ikut; (2) Muslim yang sejati memiliki niat kuat tapi keadaan fisik atau finansialnya tidak memungkinkan untuk ikut; dan (3) Muslim yang hanya duduk di rumahnya tanpa ada udzur syar'i. Ketiga Muslim ini di sisi Allah SWT berbeda kedudukan keimanannya.


Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya, menguraikan dengan detail penafsiran ayat ini. Mari simak redaksinya:


لا يَسْتَوِي الْقاعِدُونَ الذين أذن لهم في القعود عن الجهاد اكتفاء بغيرهم الذين هم مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ من مرض أو عاهة، من عمي أو عرج أو زمانة أو نحوها. وفي معناه العجز عن الأهبة..... قال ابن عباس: أي لا يستوي القاعدون عن بدر والخارجون إليها


فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ بِأَمْوالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقاعِدِينَ أولي الضرر دَرَجَةً أي فضيلة في الآخرة لأن المجاهد باشر الجهاد بنفسه وماله مع النية وأولو الضرر كانت لهم نية ولم يباشروا الجهاد، فنزلوا عن المجاهدين درجة وَكُلًّا من المجاهدين والقاعدين وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى أي الجنة بإيمانهم وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ في سبيل الله عَلَى الْقاعِدِينَ الذين لا عذر لهم ولا ضرر أَجْراً عَظِيماً


Artinya, “Tidak sama orang-orang yang duduk, yang diizinkan tidak turut berperang karena mencukupkan dengan Mukmin lainnya selain mukmin yang ada udzur syar'i seperti sakit atau disabilitas, misalnya buta, pincang, sakit kronis (cacat permanen), atau semacamnya. Semakna dengan udzur syar'i ini, yaitu tidak ikut perang karena tidak memiliki biaya peperangan. Imam Ibnu Abbas berkata: 'Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) Badar dan orang-orang yang keluar ikut pergi berperang’.”


“Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur), yakni keutamaan di akhirat. (Kenapa?) Sebab, mujahid ikut berperang langsung dengan niat, jiwa dan hartanya.” 


“Sementara itu, orang udzur syar'i sudah ada niat meskipun ia tidak berperang langsung. Oleh karena itu, ulama memposisikan satu derajat dengan yang berperang langsung, yakni sama-sama akan mendapatkan janji Allah SWT berupa surga-Nya sebab keimanan mereka.”


“Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk, yakni orang-orang yang tidak ikut berperang tanpa uzur dan tanpa ada sakit dengan derajat pahala yang agung.” (Lihat: Murahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur‘anil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-’Ilmiyyah], jilid I, hlm. 220).


Walhasil, dari semua uraian penafsiran yang telah dikemukakan, ada pesan penting yang bisa kita petik dalam konteks prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei: bahwa negara-negara yang memiliki kemampuan melawan musuh-musuh Islam dan kemanusiaan serta berani bertindak tegas, tentu kedudukannya tidak sama di sisi Allah SWT dengan negara yang hanya duduk tanpa bersuara, tanpa melakukan apa pun. Wallahu a'lam.


Ustadz Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, sekarang aktif menjadi perumus LBM PP Nurul Cholil dan editor website PCNU Bangkalan.