Tasawuf/Akhlak

Larut dalam Rasa Takut Menghadapi Kematian, Bagaimana Mengobatinya?

NU Online  ·  Selasa, 14 Juli 2026 | 15:10 WIB

Larut dalam Rasa Takut Menghadapi Kematian, Bagaimana Mengobatinya?

Ilustrasi rasa takut. Sumber: Canva.

Rasa takut terhadap kematian adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, ada batas yang memisahkan antara rasa takut yang sehat dan rasa takut yang menjadi penyakit. Ketika ia masih sebatas kesadaran yang mendorong seseorang untuk bersiap dan beramal, ia adalah rasa takut yang baik. Tetapi ketika ia berubah menjadi kecemasan yang mendalam, dan membuat seseorang gelisah tanpa henti, maka saat itulah rasa takut terhadap kematian telah berubah menjadi penyakit yang harus segera diobati.


Obat pertamanya sederhana, namun sering luput dari penghayatan kita, yakni meyakini dengan sepenuh hati bahwa kematian adalah kepastian mutlak. Ditakuti atau tidak, ia pasti akan datang. Karena ketakutan yang berlebihan bukan hanya tidak berguna, tetapi juga merampas produktivitas, semangat, dan makna hidup kita. Sebaliknya, ketika seseorang benar-benar menerima kematian sebagai keniscayaan, terjadi perubahan yang luar biasa. Ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan, melainkan dalam semangat persiapan.


Menyadari Kematian sebagai Keniscayaan yang Pasti Terjadi

Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya yang tegas, Surah Ali Imran ayat 185:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت، وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَة، فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَاز، وَمَا الْحَيَوةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الغُرُورِ


Artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan hanyalah pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Ali Imran [3]: 185)”


Kalimat pembuka ayat ini, “kullu nafsin dza’iqatul maut”, tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Nabi pun menghadapinya, para sahabat pun menghadapinya, begitu juga kita. Lantas, apa manfaat dari rasa takut yang berlarut-larut jika kepastian itu tidak bisa diubah oleh seberapa pun besarnya ketakutan kita? Jawabannya: tidak ada. Yang ada manfaatnya hanyalah persiapan menghadapinya.


Mengubah Rasa Takut Mati Menjadi Semangat Persiapan Menyambutnya

Imam Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman bin Ali al-Jauzi (w. 597 H) memberikan resep yang sangat tepat untuk mengobati rasa takut yang berlebihan ini. Dalam kitab Ath-Thibb ar-Ruhani, beliau menulis:


الْخَوْفُ وَالْحَذَرُ إِنَّمَا هُمَا لِلْمُسْتَقْبَلِ، وَالْحَازِمُ مِنَ الْخَوْفِ عُدَّتُهُ لِلْخَوْفِ، وَلَا يَنْفَعُهُ فُضُولُ الْخَوْفِ مِنْهُ، إِذْ لَا يَنْفَعُهُ خَوْفُهُ مِنَ النَّارِ إِلَّا مَا دَفَعَهُ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ


Artinya, “Rasa takut dan waspada itu hanyalah untuk menghadapi masa depan. Dan yang cerdas menghadapi rasa takut adalah yang menjadikannya sebagai persiapan. Rasa takut yang berlebihan tidak memberi manfaat apa pun, karena sesungguhnya rasa takut kepada neraka itu berguna hanya untuk mendorong seseorang untuk beramal saleh.” (Abul Faraj Abdurrahman bin Ali al-Jauzi, Ath-Thibb ar-Ruhani, [Al-Qahirah, Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyyah: 1406 H/1986 M], hlm. 44)


Pernyataan Ibnu Jauzi memberi arah yang sangat penting. Ia tidak menyuruh manusia menghilangkan rasa takut terhadap kematian, melainkan menempatkannya secara benar. Takut kepada kematian seharusnya tidak membuat seseorang tenggelam dalam kecemasan, tetapi membangkitkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Rasa takut yang sehat adalah rasa takut yang melahirkan gerak: kaki terdorong menuju kebaikan, tangan semakin ringan beramal, dan hati semakin dekat kepada Allah SWT.


Lantas, seperti apa persiapan menghadapi kematian yang nyata? Persiapan itu bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, berhenti bekerja, lalu menghabiskan waktu dalam kegelisahan. Islam justru mengajarkan umatnya untuk bekerja sungguh-sungguh dan berikhtiar sebaik mungkin. 


Hasil usaha tersebut kemudian diarahkan menjadi sarana ibadah. Di antaranya mencukupi kebutuhan keluarga, bersedekah, menolong orang yang kesulitan, menyantuni anak yatim, mendukung pendidikan, merawat dakwah, serta mempersiapkan diri untuk menunaikan haji dan umrah sebagai wujud kerinduan kepada Allah SWT. Dengan cara inilah kehidupan dunia dapat diubah menjadi bekal menuju akhirat.


Nabi SAW memerintahkan umatnya untuk sering mengingat kematian. Bukan supaya manusia terus dihantui ketakutan, melainkan agar tidak larut dalam kelalaian. Beliau bersabda:


أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ


Artinya, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.” (Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi [Dar ar-Risalah al-'Alamiyah, 1430 H/2009 M], no. 2460, juz IV, hlm. 348).


Orang yang terbiasa mengingat kematian akan menyadari bahwa waktunya terbatas. Karena itu, ia berusaha agar tidak ada hari yang berlalu tanpa kebaikan. Sebaliknya, orang yang jarang mengingat kematian mudah terjebak dalam kebiasaan menunda: menunda tobat, menunda sedekah, menunda berbuat baik, bahkan menunda persiapan untuk menunaikan haji. Ia merasa masih memiliki banyak waktu, padahal waktu terus berjalan dan tidak pernah menunggu siapa pun.


Para ulama salaf telah menunjukkan sikap yang matang dalam menghadapi kematian. Mereka tidak menunggu ajal dengan kepanikan, tetapi dengan ketenangan, sebab hari-hari mereka telah dipenuhi dengan amal dan pengabdian. Al-Qa‘qa‘ bin Hakim pernah berkata:

 

قدِ اسْتَعْدَدْتُ لِلْمَوْتِ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً، فَلَوْ أَتَانِي مَا أَحْبَبْتُ تَأخِيْرَ شَيْءٍ عَنْ شَيْءٍ


Artinya, “Sungguh aku telah mempersiapkan diri untuk kematian sejak tiga puluh tahun yang lalu. Maka seandainya ia datang sekarang, tidak ada satu pun hal yang ingin aku tunda dari hal yang lain.” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin [Beirut: Dar al-Ma’rifah] juz IV, hal. 456)


Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan, ia pernah melihat seorang syekh tua di masjid Kufah yang berkata:


أَنَا فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً أَنْتَظِرُ الْمَوْتَ أَنْ يَنْزِلَ بِي، وَلَوْ أَتَانِي مَا أَمَرْتُهُ بِشَيْءٍ وَلَا نَهَيْتُهُ عَنْ شَيْءٍ، وَلَا لِيَ عَلَى أَحَدٍ شَيْءٌ، وَلَا لِأَحَدٍ عِنْدِي شَيْءٌ


Artinya, “Aku sudah berada di masjid ini selama tiga puluh tahun, menunggu kematian turun kepadaku. Seandainya ia datang sekarang, tidak ada yang akan aku perintahkan, tidak ada yang akan aku larang, tidak ada tanggungan kepada siapa pun, dan tidak ada kewajiban siapa pun yang tersisa kepadaku.” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, juz IV, hal. 456)


Dua kisah ini berbicara tentang satu hal yang sama, yaitu kesiapan total yang lahir dari kehidupan yang diisi sepenuhnya. Mereka tidak menunggu ajal dengan kecemasan, tetapi dengan ketenangan yang lahir dari persiapan yang matang dan tanggung jawab yang ditunaikan. Inilah potret orang yang benar-benar telah mengobati rasa takutnya terhadap kematian, bukan dengan melupakannya, melainkan dengan menjadikannya sebagai kompas hidup.


Kesimpulannya, obat dari rasa takut berlebihan terhadap kematian adalah penerimaan dan persiapan. Kita mesti menerima bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditolak. Lalu jadikan penerimaan itu sebagai bahan bakar untuk lebih giat beramal kepada Allah, maupun menolong orang di sekitar kita. Karena orang yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling siap menjawab ketika menghadap Allah SWT kelak. Wallahu a’lam bisshawab.


Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma’had Aly Situbondo, pengajar di Ponpes Manbaul Ulum dan Nurussalafiyah Kabul, Lombok Tengah.