Dalam negara demokrasi, kritik rakyat terhadap wakilnya adalah bagian penting dari kontrol sosial. Kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan sarana untuk mengingatkan agar para pemimpin tidak keluar dari jalur amanah yang telah dipercayakan. Namun, belakangan publik dikejutkan dengan fenomena sebagian pejabat publik yang merespons kritik bukan dengan dialog atau penjelasan, melainkan dengan sikap yang cenderung kurang baik, semisal berjoget-joget dan kegiatan lainnya yang dapat memicu amarah rakyat.
Islam sebagai agama yang menekankan akhlak mulia memberi panduan jelas dalam menghadapi kritik. Pemimpin sejati adalah mereka yang siap menerima masukan, bahkan jika itu pahit. Dalam konteks ini, joget di tengah kritik bukan sekadar soal etika publik, melainkan juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual seorang pemimpin di hadapan Allah dan rakyatnya.
Berikut ini beberapa etika pejabat publik dalam Islam saat menanggapi kritik dari rakyatnya:
1. Memosisikan diri sebagai wakil rakyat
Dalam menghadapi kritik dari rakyat, hendaknya pejabat publik bisa memposisikan dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih untuk menjawab dan menemukan solusi dari permasalahan rakyat. Sebab pejabat publik pada hakikatnya ialah perpanjangan tangan dari rakyat yang seharusnya mendengarkan aspirasi dari suara rakyat dan memenuhinya dengan perbaikan publik.
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
إنك في كل واقعة تصل إليك وتعرض عليك تقدر أنك واحد من جملة الرعية وإن الوالي سواك فكل ما لا ترضاه لنفسك لا ترضى به لأحد من المسلمين، وإن رضيت لهم بما لا ترضاه لنفسك فقد خنت رعيتك وغششت أهل ولايتك
Artinya: “Saat engkau menjadi pejabat, posisikan dirimu menjadi bagian dari rakyat dan bayangkan selainmu menjadi pejabat. Dengan demikian maka apa yang engkau tidak rela terjadi pada dirimu, engkau juga tidak akan rela terjadi pada selainmu.
Adapun apabila engkau rela terjadi sesuatu yang engkau tidak rela terjadi pada dirimu, maka engkau telah mengkhianati rakyatmu dan menipu mereka. (At-Tibrul Masbuk, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1988 M], halaman 26).
2. Menanggapi kritik dari rakyat dengan baik
Sebagaimana jabatan yang diemban sebagai wakil rakyat, maka hendaknya bagi pejabat publik yang sedang mendapatkan kritik untuk menanggapi kritik yang diajukan dengan baik dengan melakukan introspeksi diri dan melakukan perbaikan. Dalam Islam, menyibukkan diri pada selain perbaikan publik yang menjadi acuan kritik merupakan penghianatan terhadap hak rakyat, bahkan jika kesibukan tersebut berhubungan dengan kesunnahan ibadah personal.
أن لا تحتقر انتظار أرباب الحوائج ووقوفهم ببابك واحذر من هذا الخطر، ومتى كان لأحد من المسلمين إليك حاجة فلا تشتغل عن قضائها بنوافل العبادات فإن قضاء حوائج المسلمين أفضل من نوافل العبادات
Artinya: “Bagi pejabat, hendaknya kalian tidak menghina rakyat dengan menunggu mereka membutuhkan bantuan hingga mereka sampai ke depan rumahmu. Hindarilah kebahayaan ini. Jika salah satu dari umat Islam (rakyat) memiliki kebutuhan darimu maka jangan sampai hal lain yang bersifat sunnah menyibukkanmu dari memenuhi kebutuhan mereka. Sebab memenuhi kebutuhan umat Islam (rakyat) lebih utama dari ibadah sunnah”. (Al-Ghazali, 27).
3. Menjadikan kritik sebagai bagian dari menjalankan amanat
Menjadi pejabat publik merupakan amanat yang diembankan oleh rakyat. Maka sebaiknya bagi pejabat publik untuk melaksanakannya dengan baik termasuk dalam menghadapi kritik. Hendaknya pejabat menjadikan kritik sebagai bagian dari upayanya menjalankan amanat rakyat.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS An-Nisa: 58).
Terkait ayat di atas, simak penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil Adzim berikut:
وَهَذَا يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَمَانَاتِ الْوَاجِبَةِ عَلَى الْإِنْسَانِ مِنْ حُقُوقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى عِبَادِهِ من الصلوات والزكوات والصيام والكفارات والنذور وغير ذلك مما هو مؤتمن عليه ولا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ الْعِبَادُ، وَمِنْ حُقُوقِ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ كَالْوَدَائِعِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَأْتَمِنُونَ بِهِ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْ غَيْرِ اطِّلَاعِ بَيِّنَةٍ عَلَى ذَلِكَ، فَأَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَدَائِهَا
Artinya: “Ayat ini mencakup semua amanat yang wajib dilaksanakan oleh manusia, baik hak-hak Allah terhadap hamba-hamba-Nya seperti shalat, zakat, puasa, kafarat, nadzar dan yang lainnya meliputi segala amanat yang tidak terlihat oleh orang lain. Juga termasuk hak-hak sesama manusia, seperti hak titipan dan yang lainnya yang menjadi kepercayaan satu sama lain. Allah memerintahkan untuk melaksanakannya dengan baik”. (Tafsirul Qur’anil Adzim, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1419 H], juz II, halaman 298).
4. Menanggapi kritik dengan lembut, tidak dengan kekerasan
Dalam menghadapi kritik, pejabat juga perlu menanggapinya dengan sikap yang baik, penuh lemah lembut dan tidak melaksanakannya dengan cara kekerasan.
إنك متى أمكنك أن تعمل الأمور بالرفق واللطف فلا تعملها بالشدة والعنف. قال صلى الله عليه وسلم: كل والٍ لا يرفق برعيته لا يرفق الله به يوم القيامة
Artinya: “Bagi pejabat, jika mungkin bagimu untuk melaksanakan sesuatu dengan lemah lembut, maka janganlah engkau melakukannya dengan keras dan kasar. Sebagaimana sabda Nabi Saw “Setiap pemimpin yang tidak bersikap lembut terhadap rakyatnya maka Allah tidak akan bersikap lembut terhadapnya di hari kiamat”. (Al-Ghazali, 28)
5. Merespon kritik dengan perbaikan yang sesuai syariat
Setelah mendapatkan kritik dari rakyat, tentunya bagi pejabat publik akan melakukan introspeksi terhadap kinerjanya, dan melakukan perbaikan. Maka hendaknya perbaikan yang dilakukan menyesuaikan kebutuhan rakyat dan berlandaskan syariat.
أن تجتهد أن ترضى عنك رعيتك بموافقة الشرع
Artinya: “Hendaknya engkau berusaha memenuhi kebutuhan rakyatmu dan melaksanakannya dengan berlandaskan syariat”. (Al-Ghazali, 28).
Kritik rakyat adalah amanah, bukan ejekan. Menanggapinya dengan sikap yang tidak baik seperti berjoget hanya akan memperlebar jarak antara pemimpin dan rakyat. Islam telah memberi teladan melalui Rasulullah bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang terbuka terhadap nasihat, sabar menghadapi kritik, dan menjawabnya dengan argumen yang jelas, bukan dengan sikap yang terkesan meremehkan.
Ustadz Alwi Jamalulel Ubab, Alumni Khas Kempek dan Mahad Aly Jakarta
