Menggapai Khusyuk di Tengah Hidup yang Penuh Distraksi
NU Online · Ahad, 26 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Muhammad Ibnu Sahroji
Kolumnis
Di era digital yang serba cepat ini, manusia hidup dalam arus deras notifikasi, target, dan tekanan. Setiap detik, pikiran kita berpindah dari satu hal ke hal lain. Pekerjaan, pesan, media sosial, hingga berita yang tak pernah berhenti mengalir. Di tengah derasnya distraksi itu, kata khusyuk sering terasa asing, bahkan dalam ibadah yang paling sakral, yakni shalat.
Padahal, dalam pandangan tasawuf, khusyuk bukan sekadar “khidmat dalam shalat”, melainkan keterpusatan hati kepada Allah dalam segala keadaan. Seorang sufi tidak hanya khusyuk ketika berdiri di atas sajadah, tapi juga saat bekerja, berbicara, dan berinteraksi dengan dunia. Khusyuk adalah kondisi batin yang tenang karena selalu menyadari kehadiran Ilahi.
Makna Khusyuk dalam Kajian Tasawuf
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman melalui surat Al-Mu’minun ayat 1-2:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."
Para sufi memahami ayat ini bukan hanya sebagai seruan ritual, melainkan ajakan menuju kesadaran batin yang mendalam. Khusyuk, dalam bahasa tasawuf, adalah ketenangan hati karena menyaksikan Allah dengan mata ruhani.
Baca Juga
Khusyuk dalam Kajian Tasawuf
Dalam kitab Al-Adab fid Din, terdapat uraian yang cukup menarik dari Imam Al-Ghazali. Saat menjelaskan tentang tata krama shalat, beliau memberikan tips dan trik bagaimana seseorang bisa menjalani shalat dengan mendekati kesempurnaan:
آداب الصلاة خفض الجناح ولزوم الخشوع وإظهار التذليل وحضور القلب ونفقی الوساوس وترك التقلب ظاهراً وباطتاء وهدوء الجوارح وإطراق الطرف ووضع اليمين على الشمال والتفكر فى التلاوة والتكبير بالهيبة والركوع بالخضوع. والسجود بالخشوع والتسبيح بالتعظيم والتشهد بالمشاهدة والتسليم بالإشفاق والانصراف بالخوف والسعى بطلب الرضا
Artinya: “Tata krama shalat ialah merendahkan diri, khusyuk, menampakkan kehinaan, menghadirkan hati, menafikan waswas, mengabaikan godaan hati baik yang nampak ataupun tidak, menertibkan anggota tubuh, merendahkan pandangan mata, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, menghayati makna bacaan, membaca takbir dengan kewibawaan, ruku’ dengan merendahkan diri, sujud dengan khusyu’, membaca tasbih dengan pengagungan, membaca tasyahud dengan persaksian di dalam hati, mengucap salam dengan penuh kasih, menyelesaikan shalat dengan rasa khawatir dan berusaha untuk mengharap keridaan.” (Al-Imam Al-Ghazali, Al-Adab fi al-Din, [Kediri, Pondok Pesantren Petuk, tt], h. 13)
Secara umum, dalam pemaparannya, Imam Al-Ghazali menggambarkan khusyuk seperti dalam shalat sebagai “kehadiran hati di hadapan Allah” yang membutuhkan beragam sikap kerendahan diri. Maka, orang yang khusyuk bukan sekadar fokus, tetapi merasa hadir dalam pandangan Allah.
Khusyuk di Era Modern
Hidup modern dibangun di atas kecepatan dan rangsangan berlebih. Ponsel bergetar setiap menit, iklan menembus ruang pribadi, dan pikiran kita terlatih untuk berpindah dari satu hal ke hal lain dalam hitungan detik.
Distraksi ini tidak hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga merenggut keheningan batin yang menjadi syarat utama khusyuk. Dalam istilah tasawuf, seperti yang diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali, kondisi ini disebut tafarruq al-qalb; hati yang tercerai-berai, tidak menetap pada satu pusat.
Sementara itu, khusyuk hanya tumbuh dari hati yang terkumpul, fokus hanya pada Allah. Maka, perjuangan spiritual zaman ini bukan lagi meninggalkan dunia, melainkan mengendalikan dunia agar tidak mencuri kehadiran hati kita.
Jalan Tasawuf Menuju Khusyuk
Para sufi menempuh jalan panjang untuk mencapai khusyuk. Bukan dengan mengasingkan diri, tapi dengan melatih kehadiran batin dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa prinsip yang dijalani oleh para sufi untuk mendapatkan khusyu’ diantaranya ialah dengan melatih diri menggunakan trilogi takhalli, tahalli dan tajalli.
Latihan pertama adalah takhalli, yakni dengan jalan melepaskan hati dari ketergantungan pada dunia. Bukan berarti menolak dunia, tapi tidak menjadikannya pusat perhatian. Hati yang terikat pada harta, status, atau gengsi sulit khusyuk karena selalu takut kehilangan.
Berikutnya ialah dengan tahalli, yakni dengan menghidupkan kesadaran akan Allah dalam setiap momen. Salah satu caranya ialah dengan berdzikir. Saat lidah berdzikir, hati diajak hadir. Saat hati hadir, pikiran pun tunduk. Dzikir adalah tali yang mengikat hati agar tidak hanyut oleh distraksi.
Terakhir, ialah tahapan tajalli, yakni menyaksikan Allah dalam segala hal. Pada tahap ini, seorang hamba mulai “melihat” Allah dalam setiap gerak hidupnya. Ia bekerja karena Allah, berbicara dengan rahmat Allah, dan diam dalam pengawasan Allah.
Inilah khusyuk sejati, bukan hasil upaya pikiran, melainkan pancaran cahaya Ilahi dalam hati yang telah bersih.
Latihan Praktis Khusyuk di Tengah Distraksi
Dalam disertasinya yang berjudul Konsep Khusyu’ dalam Al-Qur’an, Mohamad Zaenal Arifin (UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018) sebagaimana mengutip Imam Nawawi al-Bantani menyebutkan ada beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk menggapai khusyu’.
Pertama, ialah dengan mengenal Allah melalui pengenalan akan sifat-sifat-Nya. Seseorang akan akan berbudi sangat luhur jika mengenali keindahan sifat-sifat Allah hingga melahirkan optimisme dalam hidupnya.
Kedua, dengan merenungkan nasihat-nasihat Al-Qur’an melalui penerimaan yang terbuka. Ketiga, senantiasa memohon agar diberikan kekhusyukan oleh Allah dan keempat, meyakini kebenaran janji Allah bahwa keberuntungan akan menyertai orang-orang yang khusyu’.
Dalam pandangan sufi, dunia bukan penghalang menuju Allah, tetapi cermin untuk mengenali-Nya. Kuncinya bukan meninggalkan dunia, tetapi melihat Allah di dalamnya. Ketika hati sudah terbiasa hadir, maka hiruk pikuk pun tak lagi memalingkan, justru menjadi ladang tajalli, tempat Allah menampakkan diri melalui segala peristiwa. Maka, khusyuk sejati bukan berarti berhenti dari dunia, melainkan berjalan di dunia dengan hati yang tertuju hanya pada Allah.
Pada prinsipnya, khusyuk adalah rahasia kebahagiaan batin. Di tengah dunia yang bising dan cepat, orang yang mampu hening di hadapan Allah telah menemukan kemewahan spiritual yang sesungguhnya. Maka, marilah belajar khusyuk, bukan dengan melarikan diri dari dunia, tetapi dengan menghadirkan Allah di tengah dunia. Sebab di sanalah hakikat tasawuf bekerja: menjadikan hati sebagai tempat bersemayamnya ketenangan Ilahi. Wallahu a’lam.
Muhammad Ibnu Sahroji, atau Ustadz Ges.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai
2
Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit
3
Khutbah Jumat: Menghidupkan Tradisi Membaca di Zaman Serba Instan
4
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
5
Khutbah Jumat: Hari Bumi Sedunia, Mari Jaga Alam Kita
6
Khutbah Jumat: Meneladani Persahabatan Nabi dengan Alam
Terkini
Lihat Semua