Nasional

Arba’in Hunter: Daif Haditsnya, Kuat Semangatnya

Senin, 22 Juni 2026 | 19:00 WIB

Arba’in Hunter: Daif Haditsnya, Kuat Semangatnya

Ilustrasi Masjid Nabawi. (Foto: Freepik)

Makkah, NU Online

 

Kota Madinah masih bersuhu antara 37°C hingga 40°C. Padahal waktu maghrib sudah lewat lebih sejam. Salah seorang jamaah haji Indonesia asal Jombang, Muhammad Lutfi Ridho meminta agar diizinkan menggunakan toilet di Hotel Rua Al-Dhiyafah untuk mengambil wudlu. Memang tak lama lagi akan masuk waktu isya Waktu Arab Saudi (WAS).

 

“Sepuluh menit lagi Isya. Kita kan Arba’in (shalat berjamaah 40 waktu di Masjdi Nabawi, red) hunter,” kata jamaah embarkasi Surabaya, Jawa Timur (SUB 40) seraya tertawa kecil, di Hotel Rua Al Dhiyafah, Madinah, Jumat (12/06/2026).

 

Sebelumnya, dia menceritakan bahwa hampir saja Arba’innya gagal karena di suatu Subuh, hampir kesiangan. Begitu pula teman-teman sekamarnya di Hotel Diyar Al Hoda yang berjarak sekitar 300 meter ke Masjid Nabawi.

 

Mereka bukan terbiasa bangun kesiangan, tapi mereka tidur dini hari setelah belanja oleh-oleh untuk Tanah Air. Saat terbangun, mereka langsung antre segera ambil wudlu, bergerak ke Masjid Nabawi dengan setengah berlari.

 

Subuh sebelumnya, dia pernah melihat delapan jamaah haji setengah berlari dengan napas sengal-sengal. Padahal shalat berjamaah sudah selesai. Kemudian dari kejauhan delapan orang itu berjamaah di Masjid Nabawi.

 

Sebagaimana pengalamannya, menurut dia, yang paling rawan ketinggalan berjamaah adalah shalat Subuh. Itu terjadi bukan karena kemalasan jamaah, tapi sebelum tidur, mereka sudah sangat kelelahan untuk bertemu saudara yang sesama jamaah atau sehabis belanja.

 

Lutfi mengaku dua Subuh hampir tak berjamaah. Beruntung sang imam shalat Subuh di Masjid Nabawi membacakan surat-surat yang panjang sehingga dia masih ikut berjamaah di rakaat kedua atau masbuk.

 

“Teman saya pernah memasang timer di HP-nya. Mulai takbiratul ihram sampai salam, shalat Subuh di Masjid Nabawi sekitar 15 menit,” katanya. “Alhamdulillah full 40 waktu,” katanya ketika dihuubungi dari Makkah Senin (22/06/2026).

 

Namun, kadang Arba’in benar-benar tidak bisa diselamatkan karena terbentur dengan jadwal keberangkatan ke Makkah bagi jamaah haji gelombang pertama dan jadwal kepulangan bagi jamaah haji gelombang kedua. Dengan berat hati dan mau tak mau Arba’in harus dilepaskan.

 

“Banyak banget yang tak lengkap Arbainnya. Terutama yang gelombang satu, baru dapat 38 sudah meluncur ke Makkah karena ditunggu bus,” kata Lutfi yang pulang ke Tanah Air pada 17 Juni lalu.

 

Hal serupa disampaikan Hasan Basri, jamaah haji asal Pagutan, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dia menceritakan, Arba’in di kloternya tidak genap karena kurang satu kali waktu shalat.

 

“Kloter saya kurang setengah hari. Berangkat dari Madinah setelah shalat Dzuhur waktu itu. Agar cukup Arba’in seharusnya berangkat setelah Ashar, sudah geser ke Makkah. Pada kloter lainnya malah kurang tiga waktu atau sehari,” kata jamaah haji (LOP 10). Durasi perjalanan haji Indonesia harus diperpendek,” jelasnya ketika dihubungi dari Makkah, Senin (22/6/2026)

 

Menurut Hasan, bagi jamaah haji asal Lombok, Arba’in di Nabawi ini bagian dari haji mereka. Mereka biasanya akan mempertahankan apa yang mereka pelajari dari para tuan guru mereka sebelum berangkat haji.

 

Sementara Muhammad Luthfi Ridho mengatakan, meski hadits tentang Arba’in ini kategori dhaif (lemah), tapi tidak ada salahnya untuk diselesaikan. Mesiki daif, tapi fadilahnya menggiurkan sehingga menjadi penyemangat jamaah.

 

“Karena 40 waktu berjamaah yang dilakukan menghapus sifat kemunafikan dan terbebas dari neraka. Menggiurkan toh?” tegasnya.

 

Bukan bagian haji

 

Musyrif Diny dalam Pelaksanaan Haji 2026 KH M Cholil Nafis mengatakan jamaah haji Indonesia seringkali memaksakan diri untuk melaksanakan Arbain saat di Madinah meski kondisinya tidak memungkinkan. Bahkan sebagian menganggap Arbain sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji. Padahal tidak termasuk wajib atau rukun haji.

 

Dia mengemukakan hasil pelacakannya bahwa hadis mengenai landasan Arbain di Madinah berstatus daif atau lemah.

 

”Jangan sampai merasa ragu keabsahan hajinya karena itu tak ada hubungan dengan ibadah haji untuk sah dan tidak sahnya,” kata Cholil yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor Daerah Kerja Makkah, Syishah, Jumat (5/6/2026).

 

Kendati berstatus daif, Cholil menjelaskan bahwa dalam Mazhab Imam Syafi’i, mengamalkan hadis tersebut tetap diperbolehkan. Hal ini dikategorikan sebagai fadhailul amal, yakni amalan-amalan utama untuk memperoleh keutamaan dan pahala kebaikan.

 

Ibadah haji, kata dia, seluruhnya bertumpu pada manasik yang dilakukan di kota suci Makkah yaitu tawaf di Baitullah, sai, dan wukuf di Arafah. Namun demikian, dari sisi etika dan spiritualitas seorang Muslim, rasanya kurang sopan bagi jamaah haji jika tidak menyempatkan diri mampir ke Madinah guna berziarah ke makam Nabi Muhammad saw.

 

Dia kemudian mengutip sebuah hadis yang artinya,"Barangsiapa yang berziarah kepadaku (Nabi Muhammad) setelah aku wafat, maka sama saja dengan menziarahiku pada waktu aku masih hidup." 

 

Untuk diketahui, sampai Ahad (21/06/2026) sebanyak 66 persen jamaah haji Indonesia sudah kembali ke Tanah Air. Sisanya masih di Madinah dan beberapa kloter masih di Makkah.