Nasional

Kehinaan Berawal dari Benih Ketamakan dan Angan-Angan Kosong

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:00 WIB

Kehinaan Berawal dari Benih Ketamakan dan Angan-Angan Kosong

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan pentingnya membersihkan diri dari sifat tamak. Berbagai bentuk kehinaan dalam kehidupan manusia kerap berawal dari benih ketamakan yang dibiarkan tumbuh dalam diri.


Ia mengutip sebuah ungkapan hikmah Ibnu Athaillah yang menyatakan bahwa cabang-cabang kehinaan tidak akan tumbuh kecuali dari benih ketamakan.


“Tidak akan tumbuh cabang-cabang kehinaan kecuali dari benih-benih ketamakan,” ujar Gus Mus dalam pengajian Ramadhan ditayangkan YouTube NU Online diakses Rabu (11/3/2026).


Gus Mus menjelaskan, ketamakan ibarat biji yang ditanam di dalam diri seseorang. Jika benih itu tumbuh dan berkembang, maka ia akan melahirkan berbagai perilaku yang pada akhirnya menyeret seseorang pada kehinaan.


Menurutnya, seseorang yang awalnya dikenal baik pun dapat berubah menjadi hina jika dalam dirinya mulai tumbuh sifat tamak.


“Orang yang tadinya baik bisa menjadi hina. Mengapa? Karena dalam dirinya muncul benih ketamakan. Kalau benih itu dibiarkan, lama-lama akan berkembang dan membawa pada kehinaan,” jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin itu.


Karena itu, Gus Mus menekankan pentingnya menghilangkan sifat tamak sejak awal. Ia mengingatkan agar manusia tidak membiarkan sikap serakah bersemayam dalam dirinya karena hal itu dapat menjerumuskan pada kerendahan martabat.


Selain ketamakan, Gus Mus juga menyoroti bahaya mengikuti angan-angan kosong. Ia mengutip ungkapan lain yang menyatakan bahwa angan-angan semata tidak akan mampu menuntun seseorang menuju kebenaran.


Menurutnya, angan-angan atau bayangan pikiran yang tidak jelas kebenarannya sering kali membuat seseorang mengambil keputusan berdasarkan dugaan semata.


“Sering kali orang mengikuti angan-angannya sendiri. Ia berpikir, ‘Kalau begini nanti pasti begini.’ Padahal itu hanya dugaan,” ujarnya dalam pengajian yang mengulas Kitab Al-Hikam.


Gus Mus memberi contoh sederhana seseorang yang sering bercermin lalu berangan-angan bahwa dirinya pantas menjadi bintang film. Angan-angan itu bisa saja mendorongnya melakukan berbagai langkah untuk mewujudkannya. Namun, menurutnya, angan-angan semacam itu tidak selalu membawa pada hasil yang baik. Apalagi jika benihnya berasal dari ketamakan atau keinginan berlebihan.


“Kadang orang merasa angan-angannya menuju kebaikan, tetapi ternyata pada akhirnya justru membawa pada sesuatu yang tidak baik,” kata kiai yang juga penyair dan budayawan itu.