Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Amal Ibadah dan Dosa dalam Ilmu Hakikat

Amal Ibadah dan Dosa dalam Ilmu Hakikat
Hati mereka tetap nyaman dalam pancaran cahaya-cahaya-Nya. Bagi mereka tidak ada perbedaan sedikit pun di antara dua keadaan: baik ataupun buruk, mudah maupun sulit. Pasalnya, mereka tenggelam dalam samudera ketauhidan.
Hati mereka tetap nyaman dalam pancaran cahaya-cahaya-Nya. Bagi mereka tidak ada perbedaan sedikit pun di antara dua keadaan: baik ataupun buruk, mudah maupun sulit. Pasalnya, mereka tenggelam dalam samudera ketauhidan.

Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam-nya mengisyaratkan bahwa makrifat, ketauhidan, dan penghambaan seorang salik antara lain dapat diukur dengan seberapa totalitas ia bersandar  kepada Allah.


Ditegaskan oleh Ibnu ‘Abbad dalam syarahnya, bersandar kepada Allah adalah sifat orang-orang yang mengenal dan mengesakan-Nya. Sementara bersandar kepada selain Allah adalah sifat orang-orang yang belum mengenal dan mengesakan-Nya. Apa pun bentuk dari “selain Allah” tadi, baik itu ilmu, amal, maupun keadaan spiritual. (Lihat: Syarah al-Hikam Ibnu ‘Abbad, Cet. Pertama, Tahun 1988, hal. 89).   


Mengapa bersandar kepada Allah menjadi tolok ukur makrifat dan tauhid seorang salik? Sebab, orang-orang yang makrifat dan bertauhid akan selalu menatap Allah di atas hamparan kedekatan dan musyahadah mereka. Mereka ‘terfana’ dan tak lagi melihat apapun yang ada pada diri mereka. 


Manakala terpeleset kepada sebuah kelalaian atau kesalahan, mereka hanya melihat itu sebagai perlakuan Allah dan pemberlakuan ketetapan-Nya terhadap diri mereka, yang menyimpan satu hikmah dan harus disadari bahwa dirinya bukan hamba yang di-ma'shum dan tak terpelihara dari dosa, sehingga mesti segera diperbaiki dan tetap waspada agar tak terjatuh kepada kesalahan yang sama.


Begitu pula, ketika ada sebuah ketaatan atau kesadaran dalam diri mereka, mereka tak melihat itu sebagai kelebihan dan kekuatan mereka sebab itu semata-mata daya dan kekuatan Allah. Sehingga, diri mereka tetap tenang di bawah pemberlakuan takdir-takdir-Nya.


Hati mereka tetap nyaman dalam pancaran cahaya-cahaya-Nya. Bagi mereka tidak ada perbedaan sedikit pun di antara dua keadaan: baik ataupun buruk, mudah maupun sulit. Pasalnya, mereka tenggelam dalam samudera ketauhidan.


Khauf (rasa takut) dan raja’ (harapan) mereka tetap stabil dan berjalan bersamaan. Tidak berkurang sedikit pun ketakutan mereka walau kemaksiatan telah mereka jauhi. Tidak berkurang sedikit pun harapan mereka walau kebaikan telah mereka lakukan.


Tidak berkurang sedikit pun ketakutan mereka walau ketaatan yang mereka laksanakan. Tidak berkurang sedikit pun harapan mereka walau kesalahan pernah mereka lakukan. Demikian maksud yang terungkap dalam untaian hikmah Ibnu ‘Athaillah berikut ini. 


مِنْ عَلَامَاتِ الاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانِ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ


Artinya, “Salah satu bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan tatkala gagal.”


Pensyarah Kitab Mahasin al-Majalis, Ibnu al-‘Arif ash-Shanhaji, kembali menegaskan bahwa orang-orang yang telah mencapai makrifat akan senantiasa bersama Allah karena meyakini hanya Dia yang mengatur segala urusan mereka.


Tatkala lahir satu ketaatan dari diri mereka, mereka tak mau menuntut suatu pahala. Sebab, mereka tidak melihat diri mereka sebagai pelaku ketaatan itu. Lagi pula, amal ibadah mereka belum mendapat jaminan diterima di sisi-Nya.


Begitu pula ketika lahir satu kesalahan dari diri mereka, mereka segera memperbaikinya sebab hukuman tetaplah bagi orang yang bersalah. Dosa harus ditebus dan ditobati. Mereka tidak melihat siapa pun selain Allah, baik dalam kesulitan maupun kemudahan, pun dalam ketaatan dan kelalaian. Mereka tetap bersama Allah. Pandangan mereka tertuju pada-Nya. Ketakutan mereka hanya pada kuasa-Nya. Harapan mereka hanya pada kebersamaan-Nya. 


Sementara selain orang-orang bermakrifat masih tetap menisbahkan amal dan perbuatan terhadap diri mereka. Karenanya,  tak jarang di antara mereka yang menuntut bagian dari amal kebaikan. Penyebabnya, tak lain mereka masih bersandar kepada amal perbuatan dan merasa tenang dengan keadaan spiritual.


Tatkala terjerumus kepada kesalahan, berkuranglah harapan mereka. Ketika melakukan ketaatan, berkuranglah ketakutan mereka. Itulah bukti mereka belum tajrid (lepas dari sebab) dan masih terhalang dari makrifat kepada Allah.


Siapa saja yang mendapati pertanda ini dalam dirinya, maka ketahuilah posisi dan kedudukannya. Dan jangan berlebihan mengaku sudah memiliki kedudukan khusus sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah, melainkan masih sebagai orang-orang baik dari kalangan awam. 


Akan tetapi, perlu dipahami bahwa melalui untaian hikmah di atas, bukan berarti Syekh Ibnu ‘Athaillah hendak menyurutkan semangat amal dan ibadah para salik, melainkan sebaliknya. Ia tak kurang sedikit pun mendorong mereka meningkatkan kualitas dan kuantitas amaliah ibadah. Ia justru ingin mengalihkan ketergantungan mereka, dari yang semula tergantung kepada selain Allah (baik itu amal, maqam, ilmu, keadaan spiritual,  termasuk harta) menjadi tergantung kepada Allah, rahmat dan karunia-Nya.

 

Dengan begitu, orang-orang yang bersalah dan berdosa masih tetap bisa berharap akan rahmat dan pertolongan-Nya. Mereka masih bisa menatap firman-Nya yang menyatakan, “Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Surat Asy-Syura ayat 25); Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (Surat Az-Zumar ayat 53).


Kemudian, jika ditelusuri dengan seksama, untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah di atas  merupakan intisari dari sabda Rasulullah saw yang menyebutkan: 


لَنْ يدْخلَ أحدكم الجَنَّةَ بعمله ، قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ


Artinya, “’Tidak akan masuk surga salah seorang kalian dengan amalnya.’ Ditanya para sahabat, ‘Termasuk engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk aku, kecuali Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat,’” (HR Al-Bukhari dan Muslim). 


Mengapa Syekh Ibnu ‘Athaillah menekankan begitu pentingnya bersandar kepada Allah? Karena bukan mustahil, orang yang awalnya bangga dengan amal ketaatannya akan mudah terjerumus kepada sikap takabur dan sombong. Merasa diri sudah baik. Dampaknya, mudah mencela orang yang salah. Mudah menyalahkan amaliah orang lain, dan seterusnya.


Walhasil, jangan bangga hanya karena kita sudah beramal. Sebab, yang membawa kita kepada amal bukan daya dan kekuatan kita sendiri, melainkan hidayah dan pertolongan-Nya. Yang mengantarkan seorang hamba ke surga, juga bukan amalnya, melainkan ridha, rahmat, dan karunia-Nya, sebagaimana pesan Nabi saw di atas.


Namun, itu bukan berarti kita tidak perlu beramal. Kualitas dan kuantitas tetap harus ditingkatkan. Yang harus perlu diluruskan adalah ketergantuangan kita terhadap amal kita, rasa bangga kita terhadap amal kita. Bersyukurlah jika sudah mampu beramal. Yakinilah itu semata pertolongan-Nya. Tetapkanlah rasa takut kita walaupun sudah berbuat ketaatan. Tetapkanlah harapan kita walaupun sudah berbuat kesalahan.


Ustadz M Tatam Wijaya, anggota Forum Ulama-Umara Sukanagara, Cianjur, Jawa Barat.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Tasawuf/Akhlak Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×