Nasional

PCINU Jerman Buka Santri Fest 2026 dengan Bedah Disertasi Faith After Empire

Ahad, 4 Oktober 2026 | 21:00 WIB

PCINU Jerman Buka Santri Fest 2026 dengan Bedah Disertasi Faith After Empire

Tangkapan layar penulis Faith After Empire, Yulianingsih Riswan mengisi Seminar Akademik membedah disertasi berjudul Faith After Empire, Ahad (4/10/2026).

Jakarta, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Jerman menginisiasi Santri Fest 2026. Agenda dalam memeriahkan Hari Santri 2026 tersebut diawali dengan Seminar Akademik yang membedah disertasi berjudul Faith After Empire secara daring pada Ahad (4/10/2026).

 

Turut hadir dalam agenda tersebut Ketua Tanfidziyah PCINU Jerman Muhammad Miftah El Azmi, penulis disertasi Yulianingsih Riswan, dan Guru Besar bidang Politik dan Sosiologi Agama Mochamad Nur Ichwan sebagai penanggap.

 

Penulis Faith After Empire, Yulianingsih Riswan (Yulia), memaparkan penelitiannya yang berkaitan dengan agama, bahasa, dan diaspora. Ia mengatakan bahwa pada 1989 terdapat terjemahan Al-Qur'an berbahasa Belanda karya orientalis Belanda, Freud Lemheuis, berjudul De Koran.

 

Karya tersebut mendapat perlawanan ilmiah dari diaspora Indonesia yang dikomandoi Sofjan Saury Siregar. Perlawanan dilakukan karena terdapat kekeliruan dalam menerjemahkan Al-Qur'an.

 

Ia menyebutkan, Lemheuis menerjemahkan peristiwa, tokoh, atau identitas sejarah dalam Al-Qur'an secara leksikal, seperti Dzulqarnain yang diartikan sebagai “yang memiliki tanduk” dan yaumul jumu'ah dengan makna “hari pertemuan”. Perlawanan tersebut kemudian diwujudkan melalui seminar yang mengundang sejumlah tokoh dan ilmuwan Muslim. Pertemuan itu melahirkan Kitab Mulahazhat.

 

“Yaitu catatan-catatan penting yang dilakukan Lemheuis ketika ia menerjemahkan Al-Qur'an,” jelas Yulia.

 

Tidak berhenti pada seminar, perlawanan berlanjut dengan inisiasi untuk membangun gerakan alternatif. Sofjan bersama tim memutuskan untuk menerjemahkan Al-Qur'an sesuai dengan kecenderungan akidah yang diyakininya. Titik tersebut menjadi salah satu fokus kajiannya.

 

“Kenapa orang itu membuat penerjemahan baru lagi padahal sudah ada terjemahan lainnya karena persoalan kebenaran aqidah misalnya ada terjemahan terkait nama atau sifat Tuhan itu dengan bahasa metafora, dan ada pula yang menerjemahkannya secara leksikal teks Qur'an,” terang doktoral University of Freiburg itu.

 

Selain faktor penerjemah, Mochamad Nur Ichwan menambahkan bahwa proses penerjemahan juga terkait dengan otoritas, meliputi tata bahasa Arab dan keislaman. Ia menilai Sofjan Siregar memiliki otoritas lebih dibandingkan dengan Lemheuis.

 

“Di sini tentu pak Sofjan Siregar memiliki otoritas yang lebih kuat, lulusan universitas Madinah,” ujar Ichwan.

 

Ia menilai penerjemahan yang dilakukan juga didorong oleh orientasi keagamaan. Faktor lain yang mendorong penulisan alternatif penerjemahan Al-Qur'an adalah lingkungan kerja yang dijalani penerjemah.

 

“Karena dia alumni Madinah lalu beliau juga bekerja di Kedutaan Besar Arab Saudi, beliau juga termasuk salah satu alumni yang diberikan sallary dakwah oleh Arab Saudi ya tentu secara orientasi keagamaan itu lebih ke salafi atau puritan. Itu isu yang terkait dengan penerjemahan,” katanya.

 

Sebelumnya, Miftah El Azmi berharap karya tersebut tidak berhenti sebagai kontribusi bagi pengembangan keilmuan, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi khalayak, khususnya masyarakat yang memiliki ketertarikan dan menekuni bidang keilmuan yang relevan.

 

Forum diskusi tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk melakukan refleksi sekaligus memperkaya wawasan peserta melalui pertukaran gagasan mengenai karya yang dibahas.

 

“Semoga diskusi hari ini dapat membuka ruang refleksi dan memperkaya wawasan kita semua,” pungkasnya.

 

Untuk diketahui, PCINU Jerman juga akan menggelar Workshop dan Lomba Menulis Opini, Lomba Video Pendek, dan Cerdas Cermat. Informasi mengenai sejumlah agenda rangkaian Santri Fest 2026 dapat diakses melalui akun resmi organisasi tersebut.