Nasional

Perubahan Kecil Mungkin Tanda Seseorang Butuhkan Pertolongan Psikologi

Senin, 28 September 2026 | 08:00 WIB

Perubahan Kecil Mungkin Tanda Seseorang Butuhkan Pertolongan Psikologi

Tangkapan layar video Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSA UGM, Novi Zain Alfajri dalam Diskusi Panel Membangun Kampus Peduli, Sabtu (26/9/2026).

Jakarta, NU Online 

Perubahan kecil pada seseorang kerap dianggap sebagai hal biasa. Padahal, perubahan dalam cara berbicara, emosi, perilaku, hingga aktivitas sehari-hari dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan dan membutuhkan pertolongan.

 

Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) Novi Zain Alfajri menyampaikan bahwa deteksi dini menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi tersebut.

 

“Deteksi dini adalah proses mengenali perubahan, tanda peringatan, dan kemungkinan kebutuhan pertolongan sedini mungkin melalui pengamatan, percakapan langsung, atau skrining singkat,” katanya dalam Diskusi Panel Membangun Kampus Peduli yang digelar secara daring pada Sabtu (26/9/2026).

 

Menurutnya, deteksi dini bukan diagnosis. Tahap awal dapat dimulai dengan mengamati perubahan pada seseorang, kemudian dilanjutkan dengan percakapan awal untuk mengetahui kondisi yang sedang dihadapi.

 

“Semua orang bisa mengamati teman atau orang sekelilingnya seperti apa yang berubah dari dia? Kemudian melakukan percakapan awal, seperti apakah kamu sedang mengalami kesulitan?” ujarnya.

 

Ketika seseorang menyampaikan keluhan yang mengarah pada masalah kesehatan mental, Novi mengatakan orang tersebut perlu disarankan melakukan deteksi dini kepada psikolog atau petugas terlatih sesuai SOP.

 

“Ketika teman kita menyampaikan keluhan yang mengarah ke kesehatan mental maka perlu disarankan untuk melakukan deteksi dini kepada psikolog atau petugas terlatih dengan SOP,” ujarnya.

 

Setelah melakukan deteksi dini, kata dia, psikolog akan mengajukan sejumlah pertanyaan untuk mengukur lebih lanjut kondisi yang dialami. “Selanjutnya akan dilakukan asesmen dan diagnosis oleh tenaga profesional sesuai kewenangan,” imbuhnya.

 

Novi menyampaikan bahwa deteksi dini dapat dilakukan oleh siapa pun yang berinteraksi dengan seseorang. Keluarga, teman, rekan kerja, guru, dosen, tenaga kependidikan, maupun orang lain di lingkungan terdekat dapat berperan mengenali perubahan dan membuka percakapan.

 

“Deteksi dini dapat dilakukan oleh siapa pun yang berinteraksi dengan mahasiswa ataupun orang yang memiliki penyakit mental. Kedalaman dan tanggung jawabnya berbeda,” ujarnya.

 

Kenali Perubahan yang Perlu Diwaspadai

Novi menjelaskan bahwa perubahan yang perlu diperhatikan antara lain munculnya perasaan tidak mempunyai harapan, merasa terjebak atau tidak memiliki jalan keluar, merasa menjadi beban, mengatakan hidup tidak berarti, membicarakan kematian atau bunuh diri, mengatakan ingin menghilang, hingga mengucapkan selamat tinggal secara tidak biasa.

 

Tanda lainnya dapat berupa kesedihan yang sangat kuat, kecemasan atau kegelisahan berat, kemarahan atau kebencian pada diri sendiri, serta distres yang tampak tidak tertahankan.

 

Perubahan perilaku juga dapat terlihat dari kebiasaan menarik diri dari teman dan kegiatan, tidak menjalankan kewajiban sehari-hari, mengabaikan perawatan diri, menyakiti diri, atau perubahan aktivitas media sosial yang mengkhawatirkan.

 

“Selain itu, juga terlihat dari ekspresi wajahnya, biasanya kekurangan tidur, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan tidak mampu menjalankan kegiatan sehari-hari,” katanya.

 

PFA sebagai Dukungan Awal

Dalam situasi seseorang mengalami krisis atau tekanan berat, Novi menyampaikan bahwa Psychological First Aid (PFA) dapat menjadi dukungan awal. PFA merupakan dukungan psikologis dan sosial awal bagi seseorang yang sedang mengalami krisis atau tekanan berat.

 

“PFA dilakukan dengan menghormati martabat dan pilihan mahasiswa, mendengarkan tanpa memaksa, membantu kebutuhan yang mendesak, menghubungkan dengan dukungan yang tepat,” tutur Novi.