Sirah Nabawiyah

Kisah Nabi Yusuf dan Strategi Mengendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan

Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Kisah Nabi Yusuf dan Strategi Mengendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan

Ilustrasi kekeringan. Sumber: Canva.

Belakangan ini, badan meteorologi dunia memberikan imbauan tentang kedatangan El Niño yang menyebabkan musim kemarau makin panjang dan terasa makin panas. Dikutip dari berita harian Kompas, El Niño kali ini datang lebih awal dengan intensitas yang lebih kuat daripada tahun-tahun sebelumnya.


Untuk tahun 2026 ini, di Indonesia, fenomena ini juga terjadi bertepatan dengan musim kemarau. Menurut keterangan dari BMKG, El Niño sendiri bukan musim kemarau. Ia merupakan fenomena iklim global yang dapat memperparah kondisi cuaca musim kemarau ketika keduanya terjadi bersamaan.


Selain akan terasa semakin panas di siang harinya, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya cadangan air, terganggunya produksi pertanian, hingga ancaman kenaikan harga pangan apabila tidak diantisipasi sejak dini. Karenanya, fenomena ini bukan sekadar persoalan iklim, tetapi juga persoalan ekonomi yang menuntut kemampuan dari negara untuk membaca tanda-tanda krisis dan melakukan antisipasi sebelum bencana datang.


Mengambil Ibrah dari Kisah Nabi Yusuf as.

Dalam konteks ini, terdapat satu kisah dalam Al-Qur’an mengenai keberhasilan sebuah negara menghadapi ancaman krisis ekonomi dan pangan. Kisah tersebut dapat kita jumpai dalam salah satu episode perjalanan hidup Nabi Yusuf as.


Kisah Nabi Yusuf ini merupakan salah satu kisah yang menarik dalam Al-Qur’an. Ia merupakan satu-satunya kisah nabi yang diceritakan dalam satu surat saja, namun alurnya utuh, mulai dari saat Nabi Yusuf masih kecil sampai beliau dewasa dan menjadi tokoh penting dalam sejarah kerajaan Mesir.


Kisahnya yang begitu kompleks dan utuh menjadi daya tarik tersendiri. Bermula dari konflik keluarga semasa beliau masih kanak-kanak, kemudian berkembang menjadi rangkaian cerita yang jauh lebih kompleks berupa pengkhianatan saudara, perbudakan, fitnah hingga hingga akhirnya beliau menempati posisi penting di kerajaan Mesir ketika itu.


Namun, keistimewaan kisah Nabi Yusuf tidak berhenti hanya pada alur kisahnya yang dramatis saja. Lebih dari itu, di dalamnya terdapat banyak pelajaran penting yang selalu relevan untuk diaplikasikan di setiap masa. Salah satunya adalah pelajaran mengenai keberhasilan Nabi Yusuf as. dalam menyelamatkan kerajaan Mesir pada waktu itu dari bayang-bayang kehancuran akibat musim paceklik yang berkepanjangan.


Strategi Nabi Yusuf Mengendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan

Syahdan, suatu ketika, raja Mesir kala itu mendapat mimpi aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya. Dalam mimpinya tersebut, ia melihat tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus. Selain itu, ia juga melihat ada tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. 


Raja kemudian mengumpulkan seluruh ahli nujum dan para ahli tafsir mimpi untuk menjelaskan makna dari mimpi yang dialaminya. Namun, tidak satu pun dari para ahli tersebut mampu menafsirkan mimpi sang raja secara akurat dan meyakinkan.


Akhirnya, pelayan raja yang dulu pernah satu sel dengan Nabi Yusuf di penjara teringat akan sosok yang ia kenal memiliki kemampuan menakwilkan mimpi. Ia kemudian memohon izin kepada raja untuk menemui Nabi  Yusuf di penjara guna menanyakan arti dari mimpi raja tadi. 


Singkat cerita, Nabi Yusuf kemudian memberikan takwilan atas mimpi raja tadi. Beliau menjelaskan bahwa mimpi yang dialami raja merupakan sebuah pertanda akan terjadi kemarau panjang yang menyebabkan krisis ekonomi dan makanan. Mimpi raja tersebut menjadi isyarat bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur yang kemudian disusul oleh tujuh tahun masa sulit. 


Mendengar penuturan Nabi Yusuf tersebut, sang raja dan orang-orang yang bersamanya takjub dengan kepiawaian Nabi Yusuf dalam menakwil mimpi sekaligus khawatir jikalau apa yang dijelaskan tadi benar-benar terjadi. Namun kemudian, atas izin Allah, Nabi Yusuf memberikan saran kepada raja sebagai bentuk mitigasi dan antisipasi sebelum musim kemarau tersebut tiba.


Jawaban Nabi Yusuf ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 47-49


قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ (47) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ (48) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ


Artinya: “(Yusuf) berkata, “Bercocok tanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian, apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (Q.S. Yusuf [12]: 47-49).


Berdasarkan mimpi raja, tujuh tahun dari sekarang adalah musim subur, sedangkan tujuh tahun berikutnya adalah musim panas. Namun , Nabi Yusuf tidak hanya membaca tanda-tanda yang akan terjadi, tetapi juga menawarkan langkah antisipasi. 


Syekh Muhammad Thanthawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa nabi Yusuf tidak hanya menakwil mimpi saja, tetapi juga memberikan nasehat dan langkah yang harus dilakukan dalam alam menghadapi masa krisis. Ia menjelaskan,


وهنا تجد يوسف- عليه السلام- لا يكتفى بتأويل الرؤيا تأويلا مجردا بل يؤولها تأويلا صادقا صحيحا، ومعه النصح والإرشاد إلى ما يجب عمله في مثل هذه الأحوال


Artinya: “Dari sini, kamu mendapati Nabi Yusuf tidak hanya memberikan takwil mimpi semata, tetapi selain takwilannya yang benar, beliau juga memberikan nasihat dan petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini.” (Sayyid Muhammad Thanthawi, At-Tafsirul Wasith lil Qur’anil Karim, [Kairo: Dar Nahdhah Misr, 1998], juz VII, hal. 370)


Selama tujuh tahun masa subur, masyarakat diarahkan untuk tetap bercocok tanam sebagaimana biasa. Kemudian, hasil panen tiap tahunnya harus disimpan sebagai cadangan makanan dan hanya boleh diambil sedikit sebagai konsumsi harian. Di sinilah strategi jitu Nabi Yusuf yang mampu membawa negeri Mesir selamat dari musim panas berkepanjangan yang menyebabkan kelaparan dan krisis di berbagai daerah.


Jika kita cermati, ada dua langkah strategis yang dilakukan Nabi Yusuf dalam menghadapi ancaman krisis. Pertama, masyarakat diperintahkan untuk hemat dengan mengonsumsi sebagian kecil saja dari hasil panen tiap tahunnya. Kedua, menyimpan hasil panen bersama dengan bulir-bulirnya. Hal ini bertujuan agar bahan makanan tersebut tidak rusak jika disimpan dalam waktu yang lama.


Petunjuk Nabi Yusuf ini, selain mengajarkan masyarakat mengendalikan konsumsi, juga mengajarkan tentang seni bertahan hidup dengan cara menyimpan makanan agar tetap awet dan tahan lama.


Ibnu Asyur menjelaskan bahwa dalam sejarah umat manusia, inilah yang pertama kali dilakukan untuk menyimpan makanan untuk stok masa mendatang. Simak penjelasan berikut:


وَكَانَ مَا أَشَارَ بِهِ يُوسُفُ- عَلَيْهِ السَّلَامُ- عَلَى الْمَلِكِ مِنَ الِادِّخَارِ تَمْهِيدًا لِشَرْعِ ادِّخَارِ الْأَقْوَاتِ لِلتَّمْوِينِ، كَمَا كَانَ الْوَفَاءُ فِي الْكَيْلِ وَالْمِيزَانِ ابْتِدَاءَ دَعْوَةِ شُعَيْبٍ- عَلَيْهِ السَّلَامُ-، وَأَشَارَ إِلَى إِبْقَاءِ مَا فَضُلَ عَنْ أَقْوَاتِهِمْ فِي سُنْبُلِهِ لِيَكُونَ أَسْلَمَ لَهُ مِنْ إِصَابَةِ السُّوسِ الَّذِي يُصِيبُ الْحَبَّ إِذَا تَرَاكَمَ بَعْضُهُ عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ فِي سُنْبُلِهِ دُفِعَ عَنْهُ السُّوسُ، وَأَشَارَ عَلَيْهِمْ بِتَقْلِيلِ مَا يَأْكُلُونَ فِي سَنَوَاتِ الْخِصْبِ لِادِّخَارِ مَا فَضُلَ عَنْ ذَلِكَ لِزَمَنِ الشِّدَّةِ


Artinya: “Petunjuk Nabi Yusuf kepada raja ini merupakan awal mula metode penyimpanan makanan untuk bekal mendatang. Sebagaimana kejujuran dalam takaran dan timbangan menjadi awal mula dakwah Nabi Syu’aib as. Selain itu, Nabi Yusuf juga memberi arahan untuk menyimpan bahan makanan pokok tersebut bersama bulirnya. Tujuannya agar tetap awet dan tidak dimakan ngengat jika disimpan bertumpuk-tumpuk. Jika disimpan bersama bulirnya, maka akan terhindar dari ngengat.


Nabi Yusuf juga mengajarkan untuk menekan konsumsi selama musim subur untuk disimpan sisanya dan bisa digunakan di waktu paceklik. (Thahir bin ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Darut Tunisiyah, 1984], juz XII, hal. 287)


Kisah Nabi Yusuf di atas memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi saat ini. Di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi serta berbagai prediksi perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan, kisah tersebut dapat dijadikan pelajaran pentingnya melakukan mitigasi dan langkah antisipasi terhadap setiap kondisi buruk yang mungkin terjadi.


Cerita tersebut juga mengajarkan pentingnya peran pemimpin yang bijaksana dalam mengendalikan ancaman krisis terhadap negaranya. Pemerintah diharapkan mampu membuat kebijakan yang memperkuat ketahanan pangan, menjaga ketersediaan bahan pokok, memperkuat sektor pertanian serta memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan ketika terjadi gangguan produksi.


Sementara bagi masyarakat, kisah Nabi Yusuf mengajarkan kita untuk tidak berperilaku konsumtif. Sebagian sumber daya perlu disimpan sebagai persiapan untuk menghadapi kondisi yang tidak menentu di kemudian hari. Wallahu a’lam.


Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.