Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan keagamaan, termasuk praktik penunaian zakat fitrah. Jika pada masa lalu masyarakat menjelang Idulfitri identik dengan membawa beras ke masjid atau musala, kini kewajiban tersebut dapat ditunaikan melalui aplikasi digital. Dengan beberapa langkah sederhana melalui gawai, zakat fitrah dapat dibayarkan tanpa kehadiran fisik.
Dalam praktiknya, sejumlah platform digital yang dikelola lembaga resmi telah menyediakan sistem pembayaran zakat yang terstruktur. Salah satunya adalah NU Online melalui lembaga amil zakat NU Care-LAZISNU. Melalui sistem ini, muzakki tidak lagi dibebani perhitungan teknis terkait takaran dan harga beras di pasaran. Aplikasi telah menyediakan fitur perhitungan otomatis berdasarkan standar harga beras terkini.
Muzakki cukup memilih menu zakat fitrah, memasukkan jumlah jiwa yang dizakati, kemudian sistem akan mengonversinya ke dalam nominal uang yang setara. Pembayaran selanjutnya dilakukan melalui berbagai kanal nontunai, seperti transfer bank atau dompet digital. Mekanisme ini menawarkan kemudahan, efisiensi waktu, serta transparansi pengelolaan dana.
Baca Juga
Lafal-lafal Niat Zakat Fitrah
Perkembangan ini membuka diskursus baru terkait fiqih zakat. Apakah sistem pembayaran zakat melalui aplikasi hukumnya sah? Tulisan ini hadir untuk mengurai sistem pembayaran zakat fitrah tersebut secara komprehensif.
Pembayaran zakat melalui aplikasi sejatinya bentuk mewakilkan zakat. Aplikasi yang dikelola oleh lembaga amil zakat bertindak sebagai wakil yang menerima amanah dari pemberi zakat (muzakki) untuk menyalurkan zakat tersebut kepada yang berhak (mustahik).
Dalam konteks ini, keabsahan zakat bergantung pada terpenuhinya niat pada saat penyerahan zakat kepada wakil. Niat tersebut dapat dilakukan ketika proses pembayaran berlangsung, baik saat menekan tombol pembayaran maupun ketika dana ditransfer. Ketentuan ini ditegaskan oleh Syekh Mahfudz Termas dalam Hasyiah at-Tasmasi:
الْحَاصِلُ أَنَّهُ يَجُوزُ تَقْدِيمُ النِّيَّةِ عِنْدَ إقْرَارِ الزَّكَاةِ أَوْ مَعَهُ أَوْ عِنْدَ إعْطَائِهَا الْوَكِيلَ أَوْ عِنْدَ تَفْرِيقِهِ
Artinya, “Kesimpulannya niat boleh dilakukan saat menetapkan kewajiban zakat, atau bersamaan dengannya, atau saat menyerahkan zakat kepada wakil, atau memisahnya,” (Syekh Mahfudz Termas, Hasyiah at-Tasmasi, [Jeddah, Darul Minhaj: 2021], jilid V, halaman 31).
Praktik zakat melalui aplikasi secara otomatis menggunakan instrumen uang, bukan beras secara fisik di tangan muzakki. Meskipun mayoritas ulama Syafi’iyah mewajibkan zakat fitrah dengan makanan pokok, namun masyarakat tetap boleh membayar dengan uang.
Baca Juga
Nishab Zakat Padi
Hal ini merujuk keputusan Bahtsul Masa-il LBM-PBNU di Jakarta, 18 Mei 2020 tentang pembayaran zakat fitrah dengan uang. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa masyarakat diperbolehkan membayar zakat fitrah dengan uang sesuai harga beras 2,7 kg atau 3,5 liter atau 2,5 kg sesuai kualitas beras yang layak dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
Dalam hal ini masyarakat boleh mengikuti pendapat ulama dalam madzhab Maliki yang memperbolehkan pembayar zakat fitrah dengan uang. Di dalam madzhab Maliki, timbangan sha’nya memiliki bobot yang sama dengan madzhab Syafi’i. Pendapat tersebut merujuk kepada penjelasan Syekh Ibnu Qasim dalam kitab al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil berikut:
ومن المدونة قال مالك: لا يجزئه أن يدفع في الفطرة ثمنا. وروى عيسى عن الن القاسم: فإن فعله أجرأه
Artinya, “Di dalam kitab al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: ‘Tidaklah cukup bagi seseorang yang membayar zakat fitrahnya dengan bentuk uang’. Syekh Isa meriwayatkan dari imam Ibnu Qasim yang berakat: ‘Jika seseorang membeyar zakat fitrah dengan uang, maka hal itu sudah dianggap cukup (sah).’” (Muhammad bin Yusuf al-‘Abdari, al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar, [Beirut, Darul Fikr: 1398], jilid II, halaman 366).
Kebolehan untuk berpindah (taqlid) ke pendapat mazhab lain dalam hal zakat dengan uang ini juga dijelaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Sayyid Ahmad as-Saqqaf:
قَاعِدَةٌ: لَا يَجُوزُ فِي مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى إِخْرَاجُ الْعَرَضِ عَنِ الْقِيمَةِ، فَمَنْ أَرَادَ إِخْرَاجَهَا عَنْهَا فَلَهُ تَقْلِيدُ غَيْرِهِ مِمَّنْ يَرَى الْجَوَازَ كَمَا أَفْتَى ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ بِجَوَازِ التَّقْلِيدِ فِي ذَلِكَ
Artinya: “Di dalam mazhab Imam As-Syafi’i RA tidak diperbolehkan membayar zakat dengan barang lain atas nama harga barter (dari benda yang ditentukan dalam teknik pembayaran zakat). Siapa saja yang ingin menunaikan zakat dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan mazhab Syafi’i RA ini dipersilakan untuk bertaqlīd kepada ulama dari mazhab lain yang membolehkannya sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Hajar dan imam lainnya tentang kebolehan bertaqlīd dalam persoalan tersebut.” (as-Sayyid ‘Alawi Ibn as-Sayyid Ahmad as-Saqqaf, Tarsyih al-Mustafidin, [Mesir, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah: t.t.] halaman 154).
Karakteristik lain dari zakat melalui aplikasi adalah penyalurannya yang sering kali di luar daerah muzakki. Misalnya, muzakki berada di Jakarta, namun zakatnya disalurkan ke daerah di pelosok atau tempat tertentu yang lebih membutuhkan.
Dalam fiqih klasik, terjadi perbedaan pendapat mengenai memindahkan zakat dari tempat muzakki berada (naqlu zakat). Meskipun pendapat yang kuat (adzhar) dalam mazhab Syafi'i cenderung melarang pemindahan zakat selama masih ada mustahik di daerah tersebut, namun terdapat pendapat kedua yang membolehkannya. Pendapat ini sering diambil oleh lembaga zakat nasional agar distribusi keadilan sosial dapat merata ke daerah-daerah yang jauh lebih membutuhkan.
Syekh Ahmad Salamah al-Qulyubi menjelaskan hal ini sebagai berikut:
وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ: مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ .... (وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ ..... (وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفَرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ
Artinya, “Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat ketika masih ada orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Jika di suatu daerah tidak ditemukan golongan penerima zakat, maka wajib memindahkan zakat ke daerah terdekat.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah .Pendapat kedua ini telah dipilih oleh segolongan ulama' dari ashab imam Syafi'I, seperti Ibnu Shalah, Ibnu Al-Farkah dan ulama' yang lainnya.” (Ahmad Salamah al-Qulyubi, Hasyiah al-Qulyubi, [Beirut, Darul Fikr: 1995], jilid III, halaman 204).
Dengan demikian, pembayaran zakat fitrah melalui aplikasi yang dikelola lembaga resmi hukumnya sah secara syariat. Praktik zakat fitrah melalui aplikasi dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi fiqih yang tetap berpijak pada prinsip-prinsip syariat tanpa mengabaikan kebutuhan zaman. Waallahu a’lam.
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.