17 Agustus sebagai Ayyamillah, Ini Pesan Surat Ibrahim Ayat 5
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Memasuki bulan Agustus, suasana peringatan kemerdekaan mulai terasa di berbagai penjuru Indonesia. Bendera Merah Putih terpasang di sudut-sudut kota dan desa, lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan, sementara masyarakat menyambutnya dengan beragam kegiatan dan perlombaan.
Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati salah satu peristiwa terpenting dalam sejarahnya, yakni hari kemerdekaan. Momentum ini tidak hanya mengingatkan kita pada perjuangan para pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali arti kemerdekaan bagi kehidupan bangsa.
Dalam pembahasan ayat-ayat Al-Qur'an, peristiwa besar yang menjadi titik perubahan dalam kehidupan manusia dapat menjadi momentum untuk mengingat nikmat dan pertolongan Allah. Al-Qur'an menyebutnya dengan istilah ayyamillah, yakni "hari-hari Allah".
Istilah tersebut antara lain disebutkan dalam Surat Ibrahim ayat 5:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
Artinya: “Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya (terang-benderang) dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.” (QS Ibrahim: 5)
Makna Ayyamillah dalam Surat Ibrahim Ayat 5
Dalam ayat tersebut, Nabi Musa diperintahkan untuk mengingatkan kaumnya tentang ayyamillah. Para ulama tafsir menjelaskan istilah ini sebagai peristiwa-peristiwa penting yang memperlihatkan nikmat, pertolongan, maupun kekuasaan Allah dalam perjalanan hidup manusia.
Imam Al-Qurthubi, misalnya, menghubungkan ayyamillah dengan berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada Bani Israil, terutama ketika mereka diselamatkan dari kekuasaan Firaun.
Ia menjelaskan:
أَيْ بِمَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّجَاةِ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمِنَ التِّيهِ إِلَى سَائِرِ النِّعَمِ، وَقَدْ تُسَمَّى النِّعَمُ الْأَيَّامَ
Artinya: “Yaitu, dengan nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, mulai dari keselamatan dari Firaun, pembebasan dari kehidupan tersesat di Padang Tih, hingga berbagai nikmat lainnya. Nikmat-nikmat itu terkadang disebut dengan ‘hari-hari’ (al-ayyam).” (Tafsir Al-Qurthubi, [Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1384 H], jilid IX, halaman 341)
Kisah Nabi Musa dan Bani Israil memang menjadi konteks penting bagi ayat tersebut. Setelah hidup di bawah penindasan Firaun, mereka diselamatkan Allah dan keluar dari keadaan yang penuh tekanan menuju kehidupan yang bebas. Dengan demikian, mengingat ayyamillah berarti mengingat kembali peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah agar manusia tidak melupakan nikmat Allah di baliknya.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan bahwa mengingat ayyamillah juga mengandung pelajaran tentang nikmat dan hukuman Allah:
على الناس الاعتبار والاتعاظ بأيام الله تعالى، أي الوقائع العظيمة التي وقعت فيها، وتذكر نعم الله عليهم. وذلك جمع بين الترغيب والترهيب والوعد والوعيد، فالترغيب والوعد: أن يذكرهم النبي موسى أو غيره ما أنعم الله عليهم وعلى من قبلهم ممن آمن بالرسل، في سائر ما سلف من الأيام. والترهيب والوعيد: أن يذكرهم بأس الله وعذابه وانتقامه ممن كذب الرسل، ممن سلف من الأمم فيما سلف من الأيام، مثل ما نزل بعاد وثمود وغيرهم من العذاب، ليرغبوا في الوعد فيصدقوا، ويحذروا من الوعيد فيتركوا التكذيب.
Artinya: “Manusia hendaknya mengambil pelajaran dan nasihat dari hari-hari Allah Ta'ala (ayyamillah), yaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dalamnya, serta mengingat nikmat-nikmat Allah kepada mereka.
Hal itu memadukan antara dorongan dan peringatan, serta janji dan ancaman. Adapun dorongan dan janji ialah ketika Nabi Musa atau nabi lainnya mengingatkan mereka terhadap nikmat yang telah diberikan Allah kepada mereka dan kepada orang-orang beriman dari umat sebelumnya.
Sedangkan peringatan dan ancaman ialah mengingatkan mereka terhadap siksa, azab, dan pembalasan Allah kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, seperti azab yang menimpa kaum ‘Ad, Tsamud, dan lainnya.
Tujuannya agar mereka mengharapkan janji Allah sehingga beriman, sekaligus takut terhadap ancaman-Nya sehingga meninggalkan pendustaan.” (Tafsirul Munir, [Damaskus: Darul Fikr, 1411 H], jilid XIII, halaman 212)
Dari penjelasan tersebut, ayyamillah tidak hanya berkaitan dengan peristiwa yang menyenangkan. Ia juga mencakup berbagai kejadian besar yang mengandung pelajaran bagi manusia.
Ketika memperoleh nikmat, manusia diajak untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika melihat akibat kezaliman dan pembangkangan, manusia diminta mengambil pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
17 Agustus sebagai Momentum Mengingat Nikmat Allah
Dalam konteks Indonesia, 17 Agustus 1945 dapat dipandang sebagai salah satu momentum besar untuk mengingat nikmat Allah. Kemerdekaan mengakhiri perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajahan. Kemerdekaan itu tentu tidak datang dengan sendirinya. Ada perjuangan, pengorbanan, diplomasi, dan berbagai keadaan politik yang menjadi jalan menuju proklamasi.
Namun, para pendiri bangsa juga menyadari bahwa seluruh usaha tersebut tidak dapat dilepaskan dari pertolongan Allah. Kesadaran itu bahkan tercantum secara jelas dalam Pembukaan UUD 1945:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak hanya dipandang sebagai hasil perjuangan manusia, tetapi juga sebagai rahmat Allah Yang Mahakuasa. Karena itu, memperingati 17 Agustus seharusnya tidak berhenti pada perayaan. Ada nikmat besar yang perlu terus diingat sekaligus dijaga, yaitu kesempatan hidup sebagai bangsa yang merdeka dan menentukan masa depannya sendiri.
Menariknya, Surat Ibrahim ayat 5 ditutup dengan ungkapan:
لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
Artinya, “Bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.”
Dua sikap inilah yang disebut Al-Qur'an ketika berbicara tentang pelajaran dari ayyamillah: sabar dan syukur.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
إن في ذلك التذكير والتنبيه دلائل لمن كان صبارا شكورا. ففي حال المحنة والبلية يصبر، وفي حال المنحة والعطية يشكر، وهذا تنبيه على أن المؤمن يجب ألا يخلو زمانه عن أحد هذين الأمرين: الصبر أو الشكر.
Artinya: “Sesungguhnya dalam peringatan tersebut terdapat tanda-tanda bagi siapa saja yang sangat sabar dan banyak bersyukur. Dalam keadaan ujian dan musibah, ia bersabar. Sedangkan dalam keadaan mendapatkan karunia dan pemberian, ia bersyukur.
Ini merupakan peringatan bahwa seorang mukmin tidak seharusnya melewati waktunya tanpa salah satu dari dua hal: sabar atau syukur.” (Tafsirul Munir, jilid XIII, halaman 212)
Dalam kehidupan berbangsa, sabar dan syukur juga dapat menjadi landasan dalam merawat kemerdekaan. Pertama, sabar dalam mempertahankan kemerdekaan. Sabar bukan berarti berdiam diri atau menerima keadaan begitu saja. Sabar berarti memiliki keteguhan untuk menjaga persatuan, mempertahankan kesepakatan hidup berbangsa, serta terus memperbaiki berbagai persoalan yang masih dihadapi negeri ini. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah tidak boleh rusak karena perpecahan, kepentingan kelompok, atau sikap saling meniadakan.
Kedua, bersyukur atas kemerdekaan. Syukur atas kemerdekaan juga tidak cukup diwujudkan melalui upacara dan perayaan setiap bulan Agustus. Syukur membutuhkan tindakan nyata. Menjaga kedaulatan negara, merawat persatuan di tengah keberagaman, memperjuangkan keadilan, meningkatkan pendidikan, serta membantu masyarakat keluar dari kemiskinan merupakan bagian dari cara mensyukuri kemerdekaan.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili juga mengingatkan bahwa Bani Israil pernah mengalami dua keadaan sekaligus, yaitu kesulitan dan kenikmatan. Namun, mereka tidak selalu berhasil menyikapi keduanya dengan benar.
Ia menjelaskan:
لقد تعرض بنو إسرائيل في زمن فرعون للحالتين: المحنة والنعمة، ولكنهم لم يقدروا النعمة ولم يشكروها، ولم يصبروا عند المحنة، وذلك ملحوظ من نصح موسى عليه السلام لهم حينما رأى أمارات الكفر والعناد فيهم
Artinya: “Sungguh, Bani Israil pada masa Firaun telah mengalami dua keadaan: ujian dan nikmat. Akan tetapi, mereka tidak menghargai nikmat tersebut dan tidak mensyukurinya, serta tidak pula bersabar ketika menghadapi ujian.
Hal itu dapat dilihat dari nasihat Nabi Musa kepada mereka ketika beliau melihat tanda-tanda pengingkaran dan pembangkangan dalam diri mereka.” (Tafsirul Munir, jilid XIII, halaman 213)
Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa memperoleh kebebasan belum tentu membuat sebuah masyarakat mampu menjaga dan mensyukurinya dengan baik. Karena itu, peringatan kemerdekaan semestinya juga menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi. Sudah sejauh mana kemerdekaan membawa keadilan? Sudahkah kemerdekaan dirasakan oleh masyarakat luas? Dan sudahkah kebebasan yang kita miliki digunakan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik?
Menghayati 17 Agustus melalui pesan Surat Ibrahim ayat 5 mengingatkan kita bahwa kemerdekaan merupakan nikmat besar yang tidak boleh dilupakan. Mengingat kemerdekaan berarti mengenang perjuangan mereka yang telah mendahului kita, mensyukuri rahmat Allah, sekaligus memikul tanggung jawab untuk menjaga negeri ini.
Kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan setiap tahun. Ia harus terus diisi dengan kesabaran dalam merawat persatuan dan kesungguhan dalam menghadirkan keadilan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.