Tasawuf/Akhlak

Memaknai Raja sebagai Optimisme Proaktif di Era Modern

Senin, 3 November 2025 | 21:30 WIB

Memaknai Raja sebagai Optimisme Proaktif di Era Modern

Ilustrasi semangat bekerja. (Foto: NU Online)

Dalam khazanah spiritual Islam, ada sebuah konsep agung yang menjadi pilar keimanan dan motivasi hidup, yaitu raja (رجاء), yang secara harfiah berarti pengharapan. Namun, di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, tekanan sosial, dan krisis global, raja perlu dimaknai kembali agar tidak terjebak dalam sikap yang pasif, melainkan menjelma menjadi energi positif yang aktif.

 

Memaknai kembali raja dalam konteks modern adalah mentransformasikannya dari konsep teologis menjadi semangat untuk bertindak. Hal ini bisa menjadi sebuah panduan etis dan psikologis untuk mencapai kesuksesan di dunia maupun akhirat.

 

Secara bahasa, raja berarti al-amal, yaitu cita-cita atau pengharapan. Sementara menurut istilah, raja adalah keterikatan hati pada sesuatu yang dicintai dan diharapkan di masa depan. Dengan kata lain, raja berarti berharap akan datangnya kebaikan di waktu mendatang. Syekh Ali Al-Jurjani menjelaskan:

 

الرجاء: في اللغة: الأمل، وفي الاصطلاح: تعلق القلب بمحصول محبوب في المستقبل

 

Artinya: “Raja secara bahasa adalah cita-cita atau pengharapan. Sedangkan secara istilah, raja adalah keterikatan hati pada hasil yang dicintai di masa depan.” (Syekh Ali bin Muhammad Al-Jurjani, At-Ta’rifat, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1403 H], hlm. 109).

 

Lebih jauh, meskipun kelihatannya tampak hampir sama, namun ada beberapa perbedaan antara raja (harapan) dengan tamanni (berangan-angan). Simak penjelasan Imam Qusyairi berikut:

 

والفرق بَيْنَ الرجاء وبين التمني أَن التمني يورث صاحبه الكسل ولا يسلك طريق الجهد والجد وبعكسه صاحب الرجاء فالرجاء محمود والتمني معلول

 

Artinya: “Perbedaan antara raja (harapan) dengan tamannī (angan-angan) adalah bahwa tamannī membuat pelakunya menjadi malas dan tidak menempuh jalan usaha dan kesungguhan. Sebaliknya, orang yang memiliki raja justru bersemangat dan berusaha sungguh-sungguh. Karena itu, raja adalah sikap yang terpuji, sedangkan tamanni adalah sikap yang tercela.” (Imam Abu Qasim al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, [Surabaya, Al-Haramain, tt], hlm. 132)

 

Dengan demikian, sikap raja mendorong umat Islam pada tindakan nyata dan kerja keras, sementara angan-angan (tamannī) hanya menghasilkan kemalasan tanpa dibarengi dengan tindakan, pelakunya hanya bermimpi pada sesuatu yang ada dalam angan.

 

Cara Praktis Belajar Raja

Raja pada dasarnya melatih diri untuk terus berharap dan optimis dengan adanya tindakan nyata terhadap apa yang ia harapkan tersebut, serta mengusir perasaan putus asa. Dengan kata lain, raja merupakan sebuah sikap yang menekankan keseimbangan antara optimisme dan kerja keras dalam menggapai sesuatu yang menjadi harapan seseorang, seraya mengusir sikap putus asa.

 

Syekh Musthafa Al-Ghalaini, seorang pujangga dan ulama modernis asal Mesir dalam karyanya yang berjudul ‘Idzatun Nasyi’in, memberikan tips praktis agar kita bisa bersikap raja. Simak penjelasan beliau berikut:

 

وهو مرض من أمراض النفس يجب أن يداوي بإماتة اليأس 

 

Artinya: “Kelemahan dari sikap raja adalah salah satu penyakit jiwa yang harus segera diobati dengan cara mengusir perasaan putus asa.” (Syekh Musthafa Al-Ghalaini, ‘Idzatun Nasyi’in, [Surabaya, Penerbit Al-Miftah: tt], hlm. 18-19)

 

Untuk itu, cara praktis untuk menerapkan sikap raja (harapan) adalah dengan melawan semua perasaan putus asa dan pesimis. Dengan hilangnya perasaan negatif tersebut, maka optimisme akan otomatis mengisi diri kita.

 

Dampak Positif Raja

Sikap raja mempunyai dampak positif pada rasa optimisme seseorang. Ketika seseorang mempunyai sikap raja, ia tidak akan mudah pesimis. Sikap ini krusial, sebab perasaan pesimis seringkali menjadi penghambat terbesar bagi kemajuan seseorang. Simak penjelasan Syekh Musthafa berikut:

 

هذه الفئة الناهضة تعلم حق العلم ان رجاء الاعمال داعية الاقدام عليها، وسبب تحقيق حصولها، فلا يقعدهم عنها ضعف الامل ولا ضآلة نوره

 

Artinya: “Golongan orang yang bekerja dengan semangat tersebut benar-benar mengerti bahwa harapan (raja) terhadap keberhasilan pekerjaan (optimisme) merupakan pendorong utama untuk maju dan merupakan sebab tercapainya keberhasilan. Mereka tidak pernah dapat dibuat menganggur oleh kelemahan angan-angan dan redupnya cahaya cita-cita.” (‘Idzatun Nasyi’in, hlm. 20)

 

Sikap raja bisa memberikan dua dampak positif, yakni kemajuan pola pikir dan terwujudnya segala harapan yang telah kita cita-citakan. Hal ini menjadi kunci, mengingat kemunduran dan kegagalan seseorang seringkali berakar pada sikap pesimis dan putus asa.

 

Walhasil, dari paparan di atas dapat kita simpulkan, raja adalah sikap spiritual yang mendorong pola pikir maju (progresif) dan optimisme tinggi, yang diwujudkan melalui usaha dan tindakan nyata yang berintegritas, sebagai upaya untuk menggapai apa yang telah menjadi harapan dan cita-cita kita, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.