Mengapa Hati Bisa Keras? Ini Penyebabnya Menurut Ulama Sufi
Senin, 17 Agustus 2026 | 06:30 WIB
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat orang yang tampak sulit menerima kritik, nasihat, atau ajakan untuk berbuat baik. Ia mungkin memilih diam, tidak memberikan tanggapan, atau bereaksi dengan emosi. Meskipun disampaikan dengan maksud baik, ajakan tersebut dapat diterimanya sebagai penilaian terhadap dirinya. Keadaan semacam ini menggambarkan hati yang kurang terbuka dalam menerima nasihat.
Kurangnya kepekaan dapat terlihat ketika seseorang mengetahui tetangganya sedang kesulitan, tetapi tidak tergerak menawarkan bantuan. Begitu pula saat melihat pedagang kecil yang belum mendapat pembeli, ia memilih berlalu meskipun membutuhkan dagangannya dan mampu membelinya. Sikap semacam ini menunjukkan berkurangnya empati terhadap orang lain.
Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 74 disebutkan:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ
Artinya, "Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras." (QS. Al-Baqarah [2]: 74).
Baca Juga
Qohwah (Kopi) Minuman para Sufi
Ayat ini menggambarkan watak orang-orang Yahudi yang hatinya diumpamakan seperti batu dan bahkan lebih keras dari batu. Meskipun mereka telah mengetahui atau memahami sebuah kebenaran, hati mereka tetap tidak mau menerima sebuah keimanan. Hati mereka tidak layaknya hati manusia lainnya yang bisa ditembus oleh nasihat dan ajaran agama.
Dalam istilah ilmu tasawuf, hati yang enggan menerima sebuah nasihat dan tidak bisa dipengaruhi oleh sebuah ancaman disebut al-qalbul qasi, yakni orang berhati keras. Di sisi lain, hati yang keras juga sangat berbahaya, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Karena dapat menimbulkan dampak buruk, sebagian ulama menggolongkan penyakit hati ini sebagai dosa besar apabila telah mencapai tahap hilangnya empati. Pandangan tersebut disampaikan Imam Ibnu Allan dengan mengutip penjelasan Imam Ibnu Hajar.
قال بعضهم: قسوة القلب من الكبائر وقيده ابن حجر في الزواجر إذا كانت بحيث تحمل على منع إطعام المضطر مثلاً
Artinya, "Sebagian ulama berkata, hati keras termasuk dosa besar. (Namun), Ibnu Hajar dalam kitab az-Zawajir membatasinya, yakni diarahkan pada kasus ketika hati keras itu, misalnya, sampai enggan memberi makan orang yang lagi sangat membutuhkan." (Lihat: Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah 'alal Adzkar an-Nawawiyah, [Mesir: Jam'iyahtun Nasyari wat-Ta'lif al-Azhariyah, t.t.], jilid VI, hlm. 22).
Beberapa Penyebab Hati Menjadi Keras Menurut Ulama Sufi
Dalam literatur tasawuf, kerasnya hati sering dikaitkan dengan maksiat yang dilakukan terus-menerus. Perbuatan buruk dipercaya meninggalkan noda yang perlahan mengurangi kejernihan dan kepekaan hati.
Selain maksiat, para ulama sufi menyebut beberapa kebiasaan lain, seperti makan, berbicara, bercanda, dan tidur secara berlebihan.
1. Banyak Makan dan Berbicara
Segala sesuatu yang berlebihan dapat membawa dampak buruk. Imam al-Ghazali mengingatkan:
لاَ تُمِيتُوا اَلْقُلُوبَ بِكَثْرَةِ اَلطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَإِنَّ اَلْقُلُوبَ تَمُوتُ كَالزَّرْعِ إِذَا كَثُرَ عَلَيْهِ اَلْمَاءُ
Artinya, “Jangan mematikan hati dengan banyak makan dan minum. Hati dapat mati seperti tanaman yang terlalu banyak disiram air.” (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, jilid III, halaman 81).
Imam Abu Thalib al-Makki juga mengutip perkataan Imam ats-Tsauri:
وروينا عن الثوري: خصلتان تقسيان القلب؛ طول الشبع، وكثرة الكلام
Artinya, “Kami meriwayatkan dari Imam ats-Tsauri bahwa dua perkara dapat mengeraskan hati, yaitu terlalu sering kenyang dan banyak berbicara.” (Qutul Qulub, jilid I, halaman 174).
Berbicara yang dimaksud ialah pembicaraan yang tidak bermanfaat. Dalam konteks sekarang, hal ini juga dapat mencakup kebiasaan menulis atau berkomentar secara berlebihan di media sosial.
2. Bercanda dan Tidur Berlebihan
Bercanda dan tidur pada dasarnya tidak dilarang. Namun, keduanya dapat membawa dampak buruk apabila dilakukan secara berlebihan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تُمَارِ أَخَاكَ وَلَا تُمَازِحْهُ وَلَا تَعِدْهُ مَوْعِدَةً فَتُخْلِفَهُ
Artinya, “Jangan mendebat saudaramu, jangan mencandainya, dan jangan berjanji kepadanya lalu mengingkarinya.” (HR. at-Tirmidzi).
Syekh al-Azhim Abadi menjelaskan bahwa larangan tersebut berkaitan dengan candaan yang berlebihan atau dilakukan terus-menerus. Kebiasaan itu dapat melalaikan seseorang dari mengingat Allah, menyakiti orang lain, dan mengeraskan hati. (Aunul Ma’bud, jilid XII, halaman 234).
Tidur berlebihan juga disebut dapat menyia-nyiakan waktu, menghalangi qiyamul lail, melemahkan semangat, dan mengeraskan hati. (Syekh Muhammad al-Khadimi, Bariqah Mahmudiyah, jilid IV, halaman 97).
3. Maksiat dan Ketidaktahuan
Maksiat, baik melalui perbuatan maupun ucapan, merupakan salah satu penyebab hati menjadi keras. Namun, Imam Abu Muhammad menilai bahwa ketidaktahuan yang disertai sikap merasa benar dapat memberikan dampak lebih berat. Orang yang bermaksiat mungkin masih menyadari kesalahannya, sedangkan orang yang tidak memahami kekeliruannya cenderung sulit menerima nasihat. (Qutul Qulub, jilid I, halaman 198).
Cara Melunakkan Hati
Salah satu cara melunakkan hati ialah menumbuhkan kepedulian kepada orang yang membutuhkan. Rasulullah saw. bersabda:
إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم
Artinya, “Jika ingin melunakkan hatimu, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Riwayat serupa juga disebutkan Syekh Zainuddin al-Munawi dalam Faidhul Qadir, jilid X, halaman 54. Kemudian, Imam al-Khawwash menawarkan lima cara lain untuk merawat hati, yaitu membaca Al-Qur’an dengan tadabur, mengurangi makan, melaksanakan qiyamul lail, berdoa dengan sungguh-sungguh pada waktu sahur, dan berkumpul dengan orang-orang saleh. (Imam Abdul Karim al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyah, jilid I, halaman 104).
Semoga beberapa langkah di atas dapat menjadi langkah untuk merawat hati dan mengendalikan diri, serta meningkatkan kualitas ibadah, dan kepedulian terhadap sesama. Wallahu a'lam.
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan