Mengingat Pesan Nabi tentang Bahaya Perpecahan di Internal Umat Muslim
Senin, 23 Maret 2026 | 14:00 WIB
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang menyeret Amerika Serikat kini bukan lagi sekadar perseteruan militer regional. Konflik ini telah memicu gelombang reaksi emosional yang membelah masyarakat dunia, tak terkecuali umat Islam.
Di media sosial, linimasa dipenuhi sentimen dukung-mendukung, propaganda politik, hingga saling tuduh antarkelompok. Sering kali, isu ini dibumbui sentimen Sunni-Syi’ah. Konflik global pada kenyataannya sering mengarah pada perang narasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan umat Islam.
Peringatan Nabi tentang Perpecahan
Fenomena polarisasi ini sebenarnya bukanlah hal baru. Jauh sebelumnya, Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan umatnya tentang potensi perpecahan yang akan terjadi, yang diistilahkan dengan iftiraq al-ummah.
Sebagaimana riwayat Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw bersabda:
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
Artinya: “Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Baca Juga
Ukhuwah Islamiyah dan Persatuan Nasional
Muhammad al-Amin al-Harari menegaskan bahwa kata ummati dalam hadis itu merujuk secara spesifik pada Ummat al-Ijabah, yakni umat Islam atau Ahlul Qiblah itu sendiri, bukan Ummat ad-Da'wah seluruh manusia secara umum. (lihat: Mursyid Dzawi al-Hija wa al-Hajah ila Sunan Ibnu Majah, [Jeddah: Dar al-Minhaj, 2018], juz XXIV halaman 84)
Artinya, perpecahan parah ini justru meletus dan membelah bagian dalam tubuh umat Islam sendiri. Menyadari hal ini, para sahabat menyikapinya dengan penuh keprihatinan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menceritakan sosok sahabat Abu Umamah RA yang pernah menangis tersedu-sedu karena rasa iba saat melihat jenazah kelompok ekstrem, yaitu Khawarij yang terbunuh akibat pemahaman mereka yang melenceng. Beliau menyayangkan bagaimana iblis berhasil mengobrak-abrik umat Islam, seraya mengutip Surah Ali Imran ayat 7 tentang orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan pada kesesatan. (al-Mathalib al-'Aliyah bi Zawa'id al-Masanid ats-Tsamaniyah, [Arab Saudi :Dar al-‘Ashimah, 1999], juz XII, halaman 494).
Akar Perpecahan: Berawal dari Politik, Merembet ke Akidah
Jika dilacak lebih jauh, para ulama telah memberikan batasan jelas terkait perpecahan ini. Imam asy-Syahrastani menegaskan bahwa perbedaan urusan fiqih atau furu'iyyah sejatinya tidak memecah belah umat. Ancaman iftiraq baru terjadi jika perselisihan menyentuh fondasi agama atau permasalahan ushul. Beliau menjelaskan:
وَمِنَ الْمَعْلُومِ الَّذِي لَا مِرَاءَ فِيهِ أَنْ لَيْسَ كُلُّ مَنْ تَمَيَّزَ عَنْ غَيْرِهِ بِمَقَالَةٍ مَا؛ فِي مَسْأَلَةٍ مَا، عُدَّ صَاحِبَ مَقَالَةٍ. فَلَا بُدَّ إِذَنْ مِنْ ضَابِطٍ فِي مَسَائِلَ هِيَ أُصُولٌ وَقَوَاعِدُ يَكُونُ الِاخْتِلَافُ فِيهَا اخْتِلَافًا يُعْتَبَرُ مَقَالَةً، وَيُعَدُّ صَاحِبُهُ صَاحِبَ مَقَالَةٍ
Artinya: “Tanpa ragu dapat dimaklumi bahwa tidak setiap orang yang berbeda pandangan dengan orang lain melalui suatu pendapat tertentu dalam suatu masalah tertentu lantas otomatis dianggap sebagai pencetus aliran. Maka dari itu, harus ada sebuah parameter yang jelas pada masalah-masalah yang sifatnya fundamental dan kaidah pokok, di mana perbedaan di dalamnya barulah dianggap sebagai sebuah aliran, dan orang yang mencetuskannya barulah dihitung sebagai pendiri sekte.” (Al-Milal wa an-Nihal, [Kairo: Muassasah al-Halabi, t.t.], juz 1, halaman 12).
Menariknya, dari empat kaidah utama penyebab iftiraq yang dirumuskan oleh Imam asy-Syahrastani, salah satu yang paling krusial adalah masalah Imamah, yakni urusan kepemimpinan politik dan kekuasaan. Dari rahim konflik politik inilah lahir kelompok-kelompok ekstrem seperti Syiah dan Khawarij.
Polarisasi ini tidak berhenti pada urusan kekuasaan, melainkan merusak akidah. Kelompok sempalan terjerumus ke dalam kesesatan gara-gara fanatisme politik buta yang berujung pada tindakan ekstrem mencaci, memfitnah, hingga mengkafirkan para Sahabat Nabi SAW.
Merespons fanatisme berbalut politik ini, Imam an-Nawawi, memberikan garis demarkasi yang tegas dalam kitab Syarh Shahih Muslim:
وَاعْلَمْ أَنَّ سَبَّ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ حَرَامٌ مِنْ فَوَاحِشِ الْمُحَرَّمَاتِ. وَمَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْحَقُّ إِحْسَانُ الظَّنِّ بِهِمْ وَالْإِمْسَاكُ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ وَتَأْوِيلُ قِتَالِهِمْ وَأَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ مُتَأَوِّلُونَ
Artinya: “Ketahuilah bahwa mencaci maki para Sahabat radhiyallahu 'anhum adalah perbuatan haram dan termasuk seburuk-buruknya keharaman. Mazhab Ahlussunnah dan penganut kebenaran senantiasa berprasangka baik kepada mereka, menahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka, serta mentakwilkan memahami dengan baik peperangan mereka, karena mereka sejatinya adalah para mujtahid yang berijtihad.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, [Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1392 H], juz XVI, halaman 93).
Sikap ekstrem kelompok sempalan tersebut jelas bertentangan dengan nash agama. Allah swt secara eksplisit telah memuji dan menegaskan ridha-Nya kepada para Sahabat dalam ayat Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Fath: 18 dan 29. Dinamika perselisihan yang sempat terjadi di antara para Sahabat pada masa lalu dipandang oleh ulama Ahlussunnah wal Jamaah murni sebagai ruang ijtihad yang tidak membatalkan kemuliaan mereka.
Akar sentimen historis dan politis ini, khususnya perseteruan teologis yang lahir dari sikap terhadap Sahabat yang melahirkan friksi tajam Sunni-Syiah. Celakanya, kebencian masa lalu ini kerap diwariskan dan dieksploitasi hingga kini, termasuk dalam konteks ketegangan Iran dan Israel, di mana ia digoreng menjadi alat propaganda. Padahal, umat Islam di era modern tidak seharusnya memikul beban kebencian masa lalu yang justru membuat posisi umat semakin lemah dan mudah diadu domba.
Fitnah Akhir Zaman dan Penyakit Fanatisme
Kondisi ini diperparah oleh arus informasi digital yang bergerak sangat liar. Menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini sering kali hanya didasari oleh luapan emosi identitas. Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa membingungkannya situasi konflik di akhir zaman:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan mukmin, lalu di sore harinya menjadi kafir; atau di sore harinya dalam keadaan mukmin, lalu di pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan harta benda dunia.” (HR. Muslim)
Di era digital, kebenaran menjadi kabur di tengah propaganda. Informasi yang ditelan tanpa tabayyun bisa memicu kemarahan dan mengorbankan ukhuwah demi membela narasi politik sesaat. Oleh karena itu, para ulama sangat menekankan pentingnya menjaga nalar berpikir dan kebersihan hati.
Imam as-Syathibi menyoroti fenomena psikologis di balik maraknya perpecahan umat ini. Beliau menjelaskan bahwa akar dari konflik sektarian sering kali bermuara pada ego kelompok yang memanipulasi pembenaran agama:
إِنَّ قَوْلَهُ عليه الصلاة والسلام: «إِلَّا وَاحِدَةً» قَدْ أَعْطَى بِنَصِّهِ أَنَّ الْحَقَّ وَاحِدٌ لَا يَخْتَلِفُ. فَكُلُّ فِرْقَةٍ تُنَازِعُ صَاحِبَتَهَا فِي فِرْقَةِ النَّجَاةِ. أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُبْتَدِعَ آخِذٌ أَبَدًا فِي تَحْسِينِ حَالَتَيْهِ شَرْعًا وَتَقْبِيحِ حَالَةِ غَيْرِهِ؟
Artinya: “Sesungguhnya sabda Nabi SAW: ‘Kecuali satu golongan yang selamat, telah memberikan kepastian nash bahwa kebenaran itu tunggal dan tidak berselisih. Maka dari itu, setiap firqah saling berdebat mengklaim diri mereka sebagai kelompok yang selamat. Tidakkah engkau melihat bahwa seorang pembawa kesesatan akan selalu sibuk memoles kedudukannya agar seolah-olah dibenarkan oleh syariat, sembari terus menjelek-jelekkan kelompok lainnya? (Al-I‘tisham, [Arab Saudi: Dar Ibn ‘Affan, 1992], juz II, halaman 767)
Fanatisme memang sering kali memanipulasi seseorang hingga merasa paling benar. Ironisnya, caci maki ini kerap dibungkus dengan dalih perjuangan agama. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan:
إِذِ التَّعَصُّبُ سَبَبٌ يُرَسِّخُ الْعَقَائِدَ فِي النُّفُوسِ وَهُوَ مِنْ آفَاتِ عُلَمَاءِ السُّوءِ، فَإِنَّهُمْ يُبَالِغُونَ فِي التَّعَصُّبِ لِلْحَقِّ وَيَنْظُرُونَ إِلَى الْمُخَالِفِينَ بِعَيْنِ الِازْدِرَاءِ وَالِاسْتِحْقَارِ. وَاتَّخَذُوا التَّعَصُّبَ عَادَتَهُمْ وَآلَتَهُمْ وَسَمَّوْهُ ذَبًّا عَنِ الدِّينِ وَنِضَالًا عَنِ الْمُسْلِمِينَ، وَفِيهِ عَلَى التَّحْقِيقِ هَلَاكُ الْخَلْقِ وَرُسُوخُ الْبِدْعَةِ فِي النُّفُوسِ
Artinya: “[sebab] Fanatisme menanamkan keyakinan secara buta dalam jiwa dan termasuk penyakit ulama su’. Atas nama membela kebenaran, mereka bersikap berlebihan, merendahkan, dan menghina pihak yang berbeda. Fanatisme dijadikan kebiasaan sekaligus senjata, bahkan dilabeli sebagai pembelaan agama dan perjuangan umat. Padahal hakikatnya, fanatisme justru merusak persatuan umat dan menancapkan kesesatan dalam jiwa.” (Ihya’ Ulum ad-Din, [Beirut: Darul Ma’rifah, t.t.], juz I, halaman 40)
Penjelasan Imam al-Ghazali ini seakan menjadi cermin bagi realitas perdebatan global hari ini. Sikap gemar merendahkan dan mencaci maki kelompok lain di media sosial, meskipun diklaim demi membela agama atau mengkritik geopolitik tertentu, justru menjadi pintu masuk yang paling cepat menuju kehancuran ukhuwah.
Mengedepankan Moderasi dan Persatuan
Dalam konteks ketegangan geopolitik yang sangat rawan dipolitisasi ini, umat Islam di Indonesia perlu kembali meresapi prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Ulama-ulama Nusantara mewariskan pedoman yang sangat jelas dalam merespons konflik, yakni melalui tiga prinsip, yaitu tawassuth, tawazun dan I’tidal, bersikap moderat, seimbang dan adil dalam mengambil keputusan.
Bersikap moderat tidak berarti bersikap apolitis, apatis, atau tidak peduli terhadap nasib saudara Muslim di tempat lain. Moderat berarti menempatkan segala sesuatu secara proporsional, adil dalam menilai, dan mendahulukan kemaslahatan serta persatuan di atas ego kelompok. Umat Islam tidak boleh mau dijadikan bahan bakar perpecahan.
Konflik dunia mungkin tidak dapat kita hindari. Namun, kita memiliki kendali penuh atas bagaimana kita bersikap. Al-Qur’an telah memberikan resep pamungkas agar kita tidak hancur oleh narasi adu domba. Allah ta'ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali Imran: 103)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini adalah perintah mutlak untuk luzum al-jama'ah, yaitu menetap pada barisan persatuan mayoritas dan menjauhi segala bentuk perpecahan. (Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, [Riyadh: Dar at-Thayyibah, 1999 M], juz 2, halaman 23)
Di tengah dunia yang sedang diliputi amarah dan dentuman senjata, menjaga persatuan, menyebarkan narasi damai, dan menahan jari dari memperkeruh suasana adalah bentuk jihad sosial yang paling relevan saat ini. Biarlah dunia bergejolak karena urusan politik dan kekuasaan, namun umat Islam harus tetap berdiri tegak sebagai ummatan wasathan, umat penengah yang membawa cahaya kebijaksanaan, bukan malah ikut menari di atas genderang perang yang menabuh perpecahan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta.