Cara Praktis Mengajarkan Anak Memaafkan dengan Tulus
NU Online · Senin, 23 Maret 2026 | 15:30 WIB
M. Ryan Romadhon
Kolomnis
Lebaran bukan sekadar tentang mudik dan hidangan khas. Bagi orang tua, ini adalah momen terbaik untuk mengajarkan kepada anak makna memaafkan secara nyata. Tradisi halal bi halal bisa menjadi ruang belajar yang hangat, di mana anak melihat langsung bagaimana hubungan diperbaiki dan hati dilapangkan.
Pada momen ini, anak tidak hanya belajar mengucapkan maaf, tetapi juga memahami bahwa memaafkan adalah bagian dari nilai ketuhanan. Ketika orang tua membiasakan budaya saling memaafkan, anak akan tumbuh dengan karakter penuh kasih dan kemampuan membangun relasi yang sehat.
Idul Fitri juga menjadi waktu penting bagi orang tua untuk menjadi pelopor dalam memaafkan. Anak belajar bukan dari nasihat panjang, tetapi dari sikap yang ditunjukkan di rumah (Madrasah Ula). Saat orang tua berani meluruhkan ego, menjabat tangan dengan tulus, dan membuka pintu maaf, di situlah anak menyerap pelajaran tentang kebesaran jiwa.
Namun, sering kali gengsi dan luka lama menghalangi langkah pertama. Padahal, dalam Islam, memaafkan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ
Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS An-Nur: 22).
Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan:
المسألة السَّادِسَةُ: الْعَفْوُ وَالصَّفْحُ عَنِ الْمُسِيءِ حَسَنٌ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، وَرُبَّمَا وَجَبَ ذَلِكَ وَلَوْ لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهِ إِلَّا هَذِهِ الْآيَةُ لَكَفَى، أَلَا ترى إلى قوله: أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ [النُّورِ: ٢٢] فَعَلَّقَ الْغُفْرَانَ بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ
Artinya, "Masalah keenam: memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang berbuat salah adalah perbuatan baik yang dianjurkan, bahkan terkadang bisa menjadi wajib. Seandainya tidak ada dalil lain selain ayat ini, maka itu sudah cukup. Tidakkah engkau memperhatikan firman-Nya: ‘Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?’ Dalam ayat ini, Allah mengaitkan ampunan-Nya dengan sikap memaafkan dan berlapang dada." (Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihya’it Turats ‘Arabi: 1420], jilid XXIII, halaman 325).
Ayat dan penjelasan ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan sekadar etika sosial, tetapi juga jalan untuk mendapatkan ampunan Allah. Sulit berharap diampuni jika kita sendiri masih menutup pintu maaf bagi orang lain. Karena itu, bagi orang tua, memaafkan juga berarti menciptakan lingkungan rumah yang bersih dari emosi negatif yang mudah ditiru anak.
Agar anak benar-benar memahami makna memaafkan, orang tua perlu menghadirkan pengalaman yang ringan dan menyenangkan. Lebaran menyediakan banyak momen alami untuk itu, tanpa harus terasa seperti menggurui. Anak akan lebih mudah menerima nilai ketika ia merasakannya sebagai bagian dari kebahagiaan bersama.
Lebih detailnya, keteladanan orang tua menjadi kunci utama. Anak tidak akan belajar memaafkan jika tidak pernah melihat orang tuanya melakukannya. Momentum Lebaran bisa digunakan untuk meminta maaf kepada anak secara tulus, misalnya dengan mengatakan, “Maafkan Ayah ya, Nak, kalau kemarin pernah marah berlebihan.” Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah, dan mengakui kesalahan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan
Selanjutnya, mengajarkan maaf tanpa paksaan juga sangat penting. Memaksa anak meminta maaf demi menjaga citra di depan keluarga justru membuat anak tidak memahami makna sebenarnya. Permintaan maaf yang dipaksakan hanya menjadi formalitas kosong dan bisa menumbuhkan tekanan emosional.
Sebaliknya, orang tua bisa menggunakan pendekatan yang membimbing, seperti “Ayah ingat kamu sempat ada masalah dengan sepupu. Mumpung Lebaran, mau coba ngobrol baik-baik lagi?” Pendekatan ini memberi ruang bagi anak untuk memahami perasaan dan memilih memaafkan dengan tulus, sejalan dengan prinsip positive parenting.
Kesimpulannya, mengajarkan anak memaafkan saat Lebaran bukan soal tradisi semata, tetapi bagian dari pendidikan karakter jangka panjang. Ketika orang tua mengedepankan keteladanan dan memberi ruang bagi anak untuk memahami emosi mereka, pemaafan akan tumbuh sebagai kekuatan batin, bukan sekadar kewajiban sosial. Dari rumah, dari momen sederhana seperti Lebaran, akan lahir generasi yang lebih tenang, rendah hati, dan mencintai kedamaian. Wallahu a’lam.
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
2
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
3
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
4
Khutbah Bahasa Jawa: Kautaman Silaturahim lan Cara Nepung Paseduluran
5
Khutbah Idul Fitri: Saatnya Menghisab Diri dan Melanjutkan Kebaikan
6
Khutbah Idul Fitri 2026: Refleksi Makna Kembali ke Fitrah secara Utuh
Terkini
Lihat Semua