Wudlu dengan Air Minum, atau Boleh Tayamum?
NU Online · Kamis, 5 Juni 2014 | 18:02 WIB
Pembahasan kali ini masih melanjutkan pertanyaan dari Muhamad Hendi Wijanarko, Magelang. Jika kita hanya mempunyai persediaan air untuk minum, apakah kita harus menggunakan air itu untuk wudlu atau boleh tayamum? Ini tentunya dimaksudkan jika kita dalam kondisi sulit memperoleh air bersih lagi untuk berwudlu.<>
Pilihannya adalah mana yang harus didahulukan berwudlu dengan perbekalan air yang ada atau bertayammun ketika berada di tengah hutan.
Salah satu sebab yang memperbolehkan orang untuk melakukan tayamum adalah adanya kebutuhan terhadap air untuk minum makhluk yang dimuliakan (hayawan muhtarom) yaitu yang haram membunuhnya.
وَالسَّبَبُ الثَّالِثُ (الإِحْتِيَاجُ إِلَيْهِ) أَيْ إِلَى الْمَاءِ (لِعَطَشِ حَيَوَانٍ مُحْتَرَمٍ) وَهُوَ مَا يَحْرُمُ قَتْلُهُ --محمد نووي البنتاني، كاشفة السجا شرح سفينة النجا, مصر-بولاق، ص. 41
“Sebab yang ketika yang memperbolehkan tayammum adalah adanya kebutuhan terhadap air untuk minum makhluk yang dimuliakan, yaitu yang haram membunuhnya”.
Sedang yang dimaksudkan dengan hayawan muhtaram adalah yang haram untuk dibunuh. Jadi manusia termasuk di dalamnya.
Berangkat dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa dalam kondisi seseorang berada di tengah hutan, misalnya, dan jika memilih menggunakan air tersebut untuk wudlu maka ia akan kehausan karena ketiadaan air yang ada disekitarnya, maka yang harus dilakukan adalah melakukan tayammum daripada melakukan wudlu dengan air perbekalannya.
Sebab, menjaga jiwa itu lebih utama dan telah ditetapkan oleh syariat sebagai salah satu dari tujuan syariat yang utama. Disamping itu karena wudlu memiliki alternatif lainnya yaitu tayammum, sedangkan minum air tidak bisa tergantikan.
قَالَ أَصْحَابُنَا: وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ الوُضُوءُ فِى هَذَا الحَالِ لِأَنَّ حُرْمَةَ النَّفْسِ آكِدٌ وَلَا بَدَلَ لِلشُّرْبِ وَلِلْوُضُوءِ بَدَلٌ وَهُوَ التَّيَمُّمُ --محمد نووي البنتاني، كاشفة السجا شرح سفينة النجا, مصر-بولاق، ص. 41
“Para sahabat kita (ulama-ulama dari kalangan madzhab syafii) berpendapat bahwa dalam kondisi seperti ini haram baginya (seseorang) untuk berwudlu karena menjaga jiwa itu telah ditetapkan (dalam syariat), dan tidak pengganti minum, sedangkan wudlu memiliki alternatif yaitu tayamum”.
Demikian penjelasan singkat dari kami, semoga dapat memuaskan penanya, dan bisa dijadikan sebagai pegangan yang bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qada dan Qadar
2
Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa: Pengurus NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat
3
Ketum PBNU Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Sejumlah Investasi Bisnis dan Program Kemasyarakatan
4
Siap Tampung 3 Ribu Lebih Peserta, Berikut 6 Lokasi Penginapan Muktamar Ke-35 NU
5
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
6
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan
Terkini
Lihat Semua