Daerah

Film Samin Vs Semen Jadi Ruang Refleksi Anak Muda Rembang dalam Menjaga Lingkungan

NU Online  ·  Sabtu, 3 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Film Samin Vs Semen Jadi Ruang Refleksi Anak Muda Rembang dalam Menjaga Lingkungan

Anak muda Rembang nobar film Samin Vs Semen. (Foto: dok istimewa)

Rembang, NU Online

Persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan masyarakat, pertanian, sumber air, serta cara manusia memandang tanah sebagai warisan bagi generasi mendatang.


Persoalan tersebut menjadi bahan refleksi dalam kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Lingkungan yang diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayat Lasem, Korps PMII Komisariat Al-Hidayat Lasem, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Serawa, dan komunitas literasi Daily Sastra di ruang audiovisual Perpustakaan Daerah Kabupaten Rembang, Sabtu (3/10/2026).


Kegiatan tersebut mengangkat pengalaman perjuangan masyarakat Sedulur Sikep dan warga Pegunungan Kendeng dalam mempertahankan tanah, pertanian, serta kelestarian lingkungan dari berbagai ancaman eksploitasi alam. Film Samin vs Semen menjadi salah satu materi yang digunakan untuk membuka ruang diskusi tersebut.


Belajar dari Perjuangan Sedulur Sikep

Pemantik diskusi lingkungan, Ahmad Fajar Mushoffa, menjelaskan bahwa Sedulur Sikep yang memiliki akar sejarah pada ajaran dan perjuangan Samin Surosentiko merupakan komunitas yang memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan prinsip hidup yang dekat dengan tanah dan alam.


"Komunitas ini hidup dan berkembang di sejumlah wilayah, antara lain Pati, Sukolilo, Grobogan, Blora, dan Rembang, termasuk kawasan Tegaldowo," ujar Fajar kepada NU Online, Sabtu (3/10/2026).


Menurutnya, perjuangan masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng menjadi salah satu pengalaman penting untuk dipelajari. Perlawanan terhadap rencana pembangunan industri semen tidak semata-mata dapat dipahami sebagai penolakan terhadap pembangunan, tetapi juga sebagai upaya mempertahankan ruang hidup, sumber air, pertanian, dan keberlanjutan lingkungan.


Salah satu nilai yang menjadi perhatian dalam diskusi ialah cara masyarakat memandang tanah. Bagi warga yang mempertahankan kawasan Kendeng, tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga dan diwariskan kepada anak dan cucu.


"Eksploitasi kawasan karst dan pengambilan batu kapur memiliki konsekuensi terhadap ekosistem dan sumber daya air," imbuhnya.


Karena itu, keberadaan sumber air menjadi bagian penting dalam pembicaraan mengenai masa depan pertanian dan kehidupan masyarakat.


Pengalaman dan pengamatan para petani di sejumlah wilayah Pegunungan Kendeng menunjukkan bahwa masyarakat dapat mempertahankan kehidupannya melalui pertanian. Hal ini penting dibicarakan di tengah berbagai tekanan yang dihadapi petani, mulai dari persoalan ekonomi hingga tekanan dan intimidasi yang pernah muncul dalam perjuangan mempertahankan ruang hidup.


Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Diskusi juga mengangkat perspektif keagamaan mengenai hubungan manusia dengan alam, khususnya konsep khalifah fil ardh.


Dalam praktiknya, konsep manusia sebagai khalifah di bumi terkadang dimaknai secara sempit sebagai legitimasi bahwa manusia memiliki kedudukan untuk menguasai alam.


"Pemaknaan tersebut perlu kembali didiskusikan agar tidak menjadikan manusia sebagai pihak yang merasa memiliki kewenangan untuk mengeksploitasi alam secara serampangan," tandas Fajar.


Sebaliknya, sebagaimana gagasan yang disampaikan dalam salah satu buku karya AS Rosyid, makna kepemimpinan manusia sebagai khalifah fil ardh dapat diletakkan pada tanggung jawab untuk melestarikan, merawat, dan menjaga bumi.


Dengan demikian, menjadi pemimpin tidak semata-mata berarti memiliki kuasa atas alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan alam tetap dapat menopang kehidupan generasi berikutnya.


Melalui kegiatan nonton bareng dan diskusi tersebut, peserta diajak melihat kembali persoalan lingkungan dari pengalaman masyarakat yang berhadapan langsung dengan perubahan dan ancaman terhadap ruang hidupnya.


Kegiatan itu diharapkan menjadi ruang refleksi, khususnya bagi generasi muda dan calon pemimpin, bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar isu yang dibicarakan di ruang kelas. Persoalan tersebut berkaitan langsung dengan tanah, air, pangan, pekerjaan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.


Tanah yang digunakan hari ini bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga menjadi titipan bagi mereka yang akan hidup setelahnya. Karena itu, merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.


Soroti Tambang Ilegal di Rembang

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Kamal Sarang, Abdul Khakim, mengatakan salah satu persoalan mendesak di Rembang adalah aktivitas tambang ilegal yang berdampak terhadap petani, lingkungan, dan kondisi jalan akibat lalu lintas truk tambang.


"Ini penting secara nasional karena menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan perlindungan masyarakat," ujar Khakim.


Menurutnya, Rembang juga mencerminkan persoalan nasional berupa kurangnya penyerapan aspirasi masyarakat, khususnya masyarakat kawasan Kendeng yang menghadapi persoalan lingkungan akibat keberadaan industri semen.


Ia mengatakan pemerintah perlu mengedepankan transparansi, kesejahteraan rakyat, dan keterbukaan terhadap aspirasi masyarakat.


"Pemerintah adalah pelayan masyarakat dan harus hadir ketika rakyat menghadapi persoalan," kata dia.


Khakim menambahkan, kebijakan pembangunan perlu dievaluasi agar sejalan dengan ketahanan pangan dan perlindungan lingkungan.


"Pembangunan pabrik dan aktivitas tambang ilegal harus diawasi agar tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat," pungkasnya.


Menurut Khakim, pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab masing-masing. Pemerintah pusat berperan dalam pengawasan kebijakan dan perizinan, sedangkan pemerintah daerah melakukan pengawasan langsung di lapangan, termasuk terhadap aktivitas tambang ilegal dan persoalan limbah.