Ketika Imam Ilkiya al-Harasi Naik-Turun Tangga untuk Menghafal
NU Online ยท Senin, 11 Januari 2021 | 15:00 WIB
Ilkiya al-Harasi merupakan imam di bidang fiqih, ushul, retorika, dan sangat menguasai matan-matan hadits hukum.
Muhammad Afiq Zahara
Kolumnis
Dalam kitab Thabaqรขt al-Syรขfiโiyyah al-Kubrรข, Imam Tajuddin Abu Nashr โAbdul Wahhab al-Subki mencatat sebuah kisah tentang Imam Ilkiya al-Harawi. Berikut kisahnya:
ูุนู ุฅูููุงุ ูุงู: ูุงูุช ูู ู
ุฏุฑุณุฉ ุณุฑููู ุจููุณุงุจูุฑ ููุงุฉ ููุง ุณุจุนูู ุฏุฑุฌุฉุ ูููุช ุฅุฐุง ุญูุธุช ุงูุฏุฑุณ ุฃูุฒู ุงูููุงุฉ ูุฃุนูุฏ ุงูุฏุฑุณ ูู ูู ุฏุฑุฌุฉ ู
ุฑุฉ ูู ุงูุตุนูุฏ ูุงููุฒููุ ูุงู: ููุฐุง ููุช ุฃูุนู ูู ูู ุฏุฑุณ ุญูุธุชู.
Diceritakan dari (Imam) Ilkiya (al-Harasi). Ia berkata:
โDi Madrasah Sarhank, Naisabur, terdapat sungai yang memiliki tujuh puluh anak tangga. Saat aku menghafal pelajaran, aku menuruni tangga (yang menuju sungai) sambil mengulang (hafalan) pelajaranku satu kali di setiap anak tangga. (Aku melakukannya di saat) naik dan turun.โย
Katanya (lagi): โBegitulah yang kulakukan setiap kali menghafal sebuah pelajaran.โ (Imam Tajuddin Abu Nashr โAbdul Wahhab al-Subki, Thabaqรขt al-Syรขfiโiyyah al-Kubrรข, Beirut: Dar al-Kutub al-โIlmiyyah, 2012, juz 4, h. 149)
****
Ternyata, Imam Ilkiya al-Harasi (w. 504 H) tidak hanya melakukan kebiasaan ini di tepi sungai saja. Ia melakukannya juga di setiap undak-undakan atau tangga yang berada di Madrasah Nidhamiyyah Naisabur. Di setiap tangga, ia menghafalkan hadits dan melakukan review terhadap pelajaran yang baru saja diterimanya (kรขna yahfadhul hadรฎts wa yunรขdhiru fรฎhi) (Imam Tajuddin Abu Nashr โAbdul Wahhab al-Subki, Thabaqรขt al-Syรขfiโiyyah al-Kubrรข, juz 4, h. 149).
Dengan cara ini, pengetahuannya berkembang sedemikian rupa. Ia, kelak, menjadi ulama yang terkemuka, pemimpin para imam di bidang fiqih, ushul, retorika, dan sangat menguasai matan-matan hadits hukum. Nama lengkapnya adalah Ali bin Muhammad bin Ali (w. 504 H). Ia adalah salah satu murid utama Imam al-Haramain al-Juwaini. Dalam Thabaqรขt al-Syรขfiโiyyah al-Kubrรข dikatakan:
ูุชููู ุนูู ุฅู
ุงู
ุงูุญุฑู
ููุ ููู ุฃุฌู ุชูุงู
ุฐุชู ุจุนุฏ ุงูุบุฒุงูู
โ(Imam Ilkiya) belajar fiqih pada Imam al-Haramain. Dia merupakan murid terbesar Imam al-Haramain setelah (Imam) al-Ghazaliโ (Imam Tajuddin Abu Nashr โAbdul Wahhab al-Subki, Thabaqรขt al-Syรขfiโiyyah al-Kubrรข, juz 4, h. 149).
Imam Ilkiya sepertinya telah berhasil menciptakan lingkungan belajar di alam bawah sadarnya. Seakan-akan, setiap kali ia melihat tangga, di mana pun ia berada, hasratnya untuk menghafal dan belajar tumbuh. Tentu, lingkungan belajar semacam ini bisa mungkin terjadi karena kebiasaan yang telah dibangunnya. Kebiasaan adalah kata kunci. Sebab, kebiasaan dapat memunculkan tindakan dan perasaan yang tergerak secara spontan. Seorang atlet bulutangkis yang berlatih setiap hari, refleks gerakannya sangat cepat, bahkan seperti tidak perlu berpikir panjang.
Karena itu, sebagai pelajar dan penuntut ilmu, kita memerlukan kebiasaan kita sendiri. Kebiasaan yang berasal dari โpembiasaanโ. Ada proses kreatif yang perlu kita lalui dalam cara belajar kita. Seperti yang dicontohkan Imam Ilkiya dengan naik-turun tangga. Tentu, tidak harus sama seperti beliau. Misalnya, bisa dengan merekamnya terlebih dahulu, kemudian kita dengarkan setiap kali hendak tidur, atau bisa dengan menjadikannya sebagai aktivitas setelah shalat seperti dzikir, dan lain sebagainya.
Proses โpembiasaanโ ini harus terus dilakukan tanpa putus sampai melebur menjadi kebiasaan, yang ketika kita tidak melakukannya, kita seperti kehilangan sesuatu. Sebuah kebiasaan, yang setidaknya, bisa menjadi pengingat kita untuk belajar. Sayyidina Abdullah bin Masโud berkata:
ุชูุนูููุฏูุง ุงูุฎูุฑ ูุฅููู
ุง ุงููุฎููุฑ ุนุงุฏุฉ
โBiasakanlah kebaikan. Karena sesungguhnya, kebaikan adalah (hasil dari) kebiasaan (yang baik)โ (Imam Abu Hayan al-Tauhidi, al-Bashrรขโir wa al-Dzakhรขโir, Beirut: Dar Shadir, 1988, juz 3, h. 20).
Contoh lainnya adalah Imam al-Muzani. Murid Imam al-Syafiโi ini mempunyai kebiasaan membaca kitab yang sama berulang-ulang sampai ratusan kali. Ia berkata:
ูุฑุฃุชู ุงูุฑุณุงูุฉ ุฎู
ุณู
ุงุฆุฉ ู
ุฑุฉ ู
ุง ู
ู ู
ุฑุฉ ุฅูุง ูุงุณุชูุฏุชู ู
ููุง ูุงุฆุฏุฉ ุฌุฏูุฏุฉ
โAku telah membaca (kitab) al-Risalah (karangan Imam al-Syafiโi) lima ratus kali. Setiap kali (membaca)nya aku menemukan faidah (atau pengetahuan) baruโ (Imam Yahya bin Syarraf al-Nawawi, al-Majmรปโ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Dar al-Kutub al-โIlmiyyah, 2011, juz 1, h. 398).
Di riwayat lain, dikatakan bahwa Imam al-Muzani telah mempelajari kitab al-Risalah selama lima puluh tahun, dan setiap kali ia mempelajarinya, ia mendapatkan pengetahuan baru yang tidak ia ketahui sebelumnya. (Imam Yahya bin Syarraf al-Nawawi, al-Majmรปโ Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, h. 398).
Memang, kebanyakan dari kita, tidak terpikir sama sekali untuk melakukan hal semacam ini, apalagi menjadikannya kebiasaan. Terpikir saja tidak, apalagi berkeinginan untuk melakukannya. Ya, karena kita manusia. Jalan yang kita ambil berbeda-beda, dan terkadang kita bisa mencapai tujuan tanpa menjadikan cara belajar tertentu sebagai kebiasaan. Meski demikian, kisah di atas, paling tidak, bisa menjadi tambahan pengetahuan, entah tentang belajar, menuntut ilmu, atau apa pun itu. Yang pasti, ada hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Bukankah demikian?
Wallahu aโlam bish-shawwab...
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussaโadah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
ย
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
3
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
4
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
5
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua