Selama apa pun kita hidup sebagai manusia, potensi menjadi pendosa itu akan selalu ada. Mustahil bagi siapa pun untuk bisa terlepas darinya, kecuali para nabi. Karena secara alamiah, makhluk memang didesain oleh Tuhan secara tidak sempurna. Oleh karena itu, sepanjang kita sadar bahwa kita ini adalah pendosa, maka hendaklah beristighfar selagi gerbang ampunan itu belum ditutup rapat.
Untuk itu, Khutbah Jumat ini berjudul "Khutbah Jumat: Gerbang Ampunan Allah Tetap Terbuka bagi Para Pendosa". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي يَبْسُطُ رَحْمَتَهُ لِلتَّائِبِيْنَ، وَيَفْتَحُ أَبْوَابَ مَغْفِرَتِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ حِيْنٍ، وَيُذَكِّرُنَا بِآيَاتِهِ لِنَرْجِعَ إِلَيْهِ رَاجِيْنَ، وَيَهْدِي قُلُوبَنَا لِطَرِيقِ الصِّدْقِ وَالصَّالِحِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، النَّبِيِّ الْهَادِي إِلَى سُبُلِ الرَّحْمَةِ وَالْإِيمَانِ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ الَّذِينَ نَشَرُوا نُورَ الْهُدَى فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَقَدْ قَالَ: قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Tuhan yang mengatur seluruh dimensi kehidupan, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk merasakan kesehatan dengan nyaman dan tenteram. Dengan izin-Nya pula, pada hari yang penuh berkah ini, kita dapat berkumpul dan melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan khidmat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad SAW, pembawa cahaya kebenaran dan rahmat bagi seluruh alam. Semoga Allah juga melimpahkan keberkahan kepada keluarga beliau yang suci, para sahabat yang setia memperjuangkan ajaran Islam, serta para ulama yang hingga kini menjaga kemurnian agama dari waktu ke waktu.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, serta menyiapkan bekal kita untuk Akhirat kelak. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Berbuat dosa adalah hal yang tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari kehidupan kita sebagai makhluk yang bernama manusia. Setiap kita, tanpa terkecuali, pasti pernah tergelincir dalam kesalahan, entah karena kelalaian, kelemahan, atau godaan yang tak sanggup kita hindari.
Namun, sebesar apa pun dosa yang dilakukan seorang hamba, rahmat Allah SWT selalu jauh lebih besar. Allah tidak menutup gerbang ampunan-Nya dari siapa pun yang datang dengan hati bersih nan tulus. Bahkan, Allah mencintai hamba yang mau bertobat, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri, sekali pun ia telah jatuh berkali-kali dalam kesalahan yang sama.
Dalam sebuah hadits Qudsi riwayat Imam Muslim, bersumber dari Abu Dzar al-Ghifari, disebutkan, bahwa seakan-akan Allah selalu siap menyambut setiap hamba-Nya, yang hendak datang memohon ampun meski sering melakukan dosa dan kesalahan:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa siang dan malam, namun Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Selanjutnya, kita sudah memahami bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat dosa. Maka, dengan demikian manusia tidak akan pernah sampai kepada derajat kesempurnaan. Karena itu Allah menyediakan ruang tobat untuk kita, agar ia dapat melihat ketulusan dan kemantapan hati kita dalam mengakui kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat.
Sebab ketika kita secara tulus melakukan tobat, maka kita sedang mencoba memutus rantai kebiasaan maksiat dan membuka jalan baru yang lebih bersih. Hal itu hanya bisa terjadi ketika hati benar-benar sadar bahwa hidup ini tidak layak dihabiskan dalam dosa yang sama.
Maka tidak heran, jika Allah swt memberikan arahan yang jelas agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Dalam AL-Quran Surat Az-Zumar ayat 53–54, Allah seakan memberikan isyarat bahwa seluruh dosa, apa pun bentuk dan jumlahnya, pasti dapat diampuni oleh-Nya.
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dalam menjelaskan makna dari perbuatan yang melampaui batas, sebagaimana yang terkandung dalam QS. Az-Zumar ayat 53, Al-Mawardi pada kitab An-Nukat wa al-Uyun, jilid 5, halaman 131, mengatakan bahwa setidaknya ada dua pekerjaan yang dikategorikan sebagai sesuatu yang melampaui batas, yakni syirik atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya serta melakukan dosa secara terus menerus, meski kita dalam keadaan muslim. Maka, selaku umat Islam, kita sebagai pendosa dilarang untuk berputus asa atas rahmat Allah swt. Sebab rahmat Allah itu luas dan menjangkau segala dimensi kehidupan makhluk.
Adapun kaitannya dengan semua dosa akan diampuni oleh Allah, Al-Mawardi memberikan penjelasan, bagaimana cara manusia supaya dapat diampuni. Dalam kitab yang sama dan lembaran yang sama, disebutkan:
إِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا) فِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ: أَحَدُهَا يَغْفِرُهَا بِالتَّوْبَةِ مِنْهَا، قَالَهُ الحَسَنُ، وَالثَّانِي يَغْفِرُهَا بِالعَفْوِ عَنْهَا إِلَّا الشِّرْكَ، وَالثَّالِثُ يَغْفِرُ الصَّغَائِرَ بِاجْتِنَابِ الكَبَائِرِ.
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.” Dalam ayat ini terdapat tiga pendapat: pertama, Allah mengampuni dosa-dosa tersebut dengan taubat hamba dari perbuatannya, sebagaimana dikatakan Al-Hasan; kedua, Allah mengampuni dosa-dosa itu dengan karunia dan pemaafan-Nya kecuali dosa syirik; dan ketiga, Allah mengampuni dosa-dosa kecil apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Setiap manusia pasti pernah melakukan kekhilafan dan terlanjur berbuat salah. Maka karenanya, Allah pasti akan selalu membuka gerbang ampunan bagi siapa pun yang mau kembali. Tidak ada dosa yang terlalu besar selama seseorang masih mau bertobat dan memperbaiki diri.
Dengan demikian, jangan menunda tobat dan jangan larut dalam putus asa. Segeralah kembali kepada Allah dengan hati yang jujur. Semoga kita termasuk hamba yang selalu diberi ampunan dan dijaga dari kesalahan yang berulang. Aamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.
