Khutbah Jumat: Mewujudkan Lingkungan Belajar Ramah Anak di Lembaga Pendidikan
NU Online · Kamis, 2 Oktober 2025 | 09:00 WIB
Amien Nurhakim
Penulis
Masih sering kita temui kekerasan, perundungan, dan sikap kasar dalam dunia pendidikan, padahal sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembang anak serta murid dengan baik.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Mewujudkan Lingkungan Belajar Ramah Anak di Lembaga Pendidikan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ أَمَرَنَا بِالتَّعَاوُنِ وَالتَّنَاصُرِ، وَنَهَانَا عَنِ التَّنَازُعِ وَالتَّدَابُرِ، وَالتَّقَاطُعِ وَالتَّنَاحُرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ يَعْلَمُ الْخَفِيَّاتِ وَالسَّرَائِرَ، وَلَا يَخْفَى عَلَيْهِ مَكْنُونُ الضَّمَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، مَنِ اعْتَصَمَ بِسُنَّتِهِ نَجَا مِنَ الْمَخَاطِرِ وَالْمَعَاثِرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُمتَدَّيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Baca Juga
Khutbah Jumat: Islam Agama Ramah Anak
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللهَ وَأَطِيعُوهُ؛ فَطَاعَتُهُ أَجَلُّ نِعْمَةٍ، وَتَقْوَاهُ أَعْظَمُ عِصْمَةٍ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِيْ عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَ ۗ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Dengan takwa, Allah akan membimbing kita dalam kehidupan, menuntun kita untuk berlaku adil, menebarkan kasih sayang, dan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak kita, baik di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat.
Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Artinya, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik.”
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan, bimbingan, dan dakwah tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan hikmah, dengan nasihat yang menyejukkan, dan dengan dialog yang baik. Ulama besar, Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juz 14, halaman 28 menjelaskan bahwa Nabi SAW diperintahkan untuk mendidik umat dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan kesabaran atas cobaan.
Bahkan, ketika harus berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat, beliau diperintahkan untuk menggunakan kata-kata yang halus, lemah lembut, dan penuh santun. Dalam jilid yang sama halaman 270, Syekh Wahbah menambahkan bahwa tujuan perdebatan atau nasihat bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan untuk mencari kebenaran, dan itu semua dilakukan tanpa suara keras, tanpa celaan, dan tanpa menyakiti.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Rasulullah SAW adalah teladan agung dalam mendidik. Beliau tidak pernah bersikap kasar kepada anak-anak, bahkan dalam shalat berjamaah beliau memendekkan bacaan karena mendengar tangisan seorang bayi, agar ibunya tidak terbebani. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Artinya: “Permudahlah urusan, jangan dipersulit; berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.”
Dalam hadits lain riwayat Muslim disebutkan:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Artinya, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia memperindahnya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia merusaknya.”
Kedua hadits ini menjadi pedoman dalam mendidik anak dan murid. Pendidikan harus memudahkan, bukan menyulitkan. Pendidikan harus menumbuhkan semangat, bukan membuat murid lari dari ilmu. Pendidikan harus dihiasi dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan yang akan merusak jiwa anak.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan kita tentang adab dalam mendidik. Imam Ibnu Jama’ah al-Kinani dalam kitab Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adab al-‘Alim wal-Muta’allim juz 1, halaman 27 menegaskan bahwa seorang guru harus memperlakukan muridnya sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Beliau menegaskan:
أَنْ يُحِبَّ لِطَالِبِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya: “Hendaknya seorang guru mencintai bagi muridnya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Imam Ibnu Jama’ah juga menjelaskan, guru hendaknya bersabar atas kekurangan murid, menutupi kesalahannya, lalu menasihatinya dengan kelembutan. Jika bisa dipahami dengan isyarat, tidak perlu menggunakan kata-kata kasar.
Jika tidak paham kecuali dengan ucapan jelas, maka barulah disampaikan dengan tetap menjaga adab dan kelembutan. Guru hendaknya memudahkan penyampaian ilmu, tidak memberikan beban di luar kemampuan murid, dan mendidik murid dengan bertahap, dari yang sederhana menuju yang rumit.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Pendidikan yang ramah anak dan ramah murid adalah pendidikan yang berlandaskan kasih sayang, penghormatan, dan kelembutan. Pendidikan seperti inilah yang akan melahirkan generasi berakhlak, cerdas akalnya, dan sehat jiwanya.
Fenomena kekerasan terhadap anak di dunia pendidikan masih sering kita dengar. Semua ini bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an, sunnah Nabi SAW, dan nasihat para ulama. Maka kewajiban kita bersama, baik sebagai orang tua, guru, maupun masyarakat, adalah menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, penuh kasih, dan mendidik dengan cara yang baik.
Marilah kita mendidik anak-anak kita dengan kelembutan sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan. Marilah kita bimbing murid-murid kita dengan kesabaran sebagaimana para ulama menasihatkan. Marilah kita jadikan rumah, sekolah, madrasah, dan pesantren kita sebagai tempat yang nyaman, yang membuat anak-anak cinta belajar dan dekat kepada Allah ta’ala.
Semoga Allah ta’ala menjadikan kita para pendidik yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Semoga Allah menjaga anak-anak kita, menumbuhkan mereka dalam iman, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah jadikan mereka generasi yang saleh dan salehah, yang menjadi kebanggaan orang tua, guru, bangsa, dan agama.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ، وَارْزُقْهُمْ عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas PTIQ Jakarta
Terpopuler
1
Kader NasDem Demo, Redaksi Tempo Tegaskan Pemberitaan Sesuai Kode Etik
2
Savic Ali Kritik Arah Kebijakan Pemerintah yang Sentralistik, Jauh dari Kepentingan Rakyat Kecil
3
UI Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual yang Libatkan 16 Mahasiswa Fakultas Hukum
4
Tanya Jawab Imam Asy’ari dan Kalangan Muktazilah soal Siksa Kubur
5
Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi
6
Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Ajak Seluruh Umat Wujudkan Perdamaian
Terkini
Lihat Semua