Nikah/Keluarga

Mengucapkan Terima Kasih kepada Suami: Bagian dari Kunci Keharmonisan Rumah Tangga dalam Islam

NU Online  ·  Selasa, 13 Januari 2026 | 15:30 WIB

Mengucapkan Terima Kasih kepada Suami: Bagian dari Kunci Keharmonisan Rumah Tangga dalam Islam

Ilustrasi seorang istri mengucap terima kasih. Sumber: Canva/NU Online.

Keharmonisan rumah tangga dalam Islam dibangun di atas fondasi kasih sayang (mawaddah) dan rahmat. Salah satu pilar utamanya adalah sikap saling menghargai dan berterima kasih atas peran masing-masing. Meskipun suami dan istri memiliki tugas yang berbeda, keduanya adalah mitra dalam ibadah yang harus saling mengapresiasi pengorbanan pasangannya.


Seorang suami yang bersyukur atas ketulusan istrinya, dan seorang istri yang menghargai kerja keras suaminya, akan menciptakan sirkulasi kebaikan yang tak terputus. Namun secara khusus, seringkali peran suami yang bekerja di balik layar luput dari ucapan terima kasih yang semestinya.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, suami menjalankan berbagai tanggung jawab, seperti bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu pekerjaan rumah, dan memberikan perhatian kepada istri. Ungkapan terima kasih dari seorang istri atas peran tersebut akan menumbuhkan semangat dan menghadirkan rasa dihargai.

 

Islam menempatkan sikap saling menghargai dan mengapresiasi pasangan sebagai bagian dari etika rumah tangga. Islam mengajarkan bahwa syukur kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari syukur kepada sesama manusia. Prinsip ini berlaku dalam seluruh relasi sosial, termasuk hubungan suami istri. Rasulullah SAW bersabda:


لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ


Artinya, “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

 

Merujuk penjelasan Ibnu Bathal, kebaikan yang dilakukan suami kepada istri pada hakikatnya merupakan nikmat Allah yang disampaikan melalui perantara suami. Oleh karena itu, mensyukuri suami sejatinya merupakan bentuk syukur kepada Allah. Pemahaman ini penting agar seorang istri sebagai sesuatu keharusan hingga tidak perlu diapresiasi dan berterimakasih.

 

Ibnu Bathal juga menjelaskan bahwa sikap bersyukur kepada suami berpengaruh langsung terhadap kualitas iman seorang istri. Semakin kuat rasa terima kasihnya, semakin bertambah imannya. Istri yang terbiasa bersyukur akan memiliki ketenangan batin, kelapangan hati, dan kekuatan spiritual. Kondisi ini berkontribusi pada terciptanya rumah tangga yang harmonis karena diwarnai pengakuan dan penghargaan.

 

Dalam Syarah Shahih al-Bukhari ia mengatakan:

 

وشكر نعمة الزوج هو من باب شكر نعمة الله، لأن كل نعمة فضل بها العشير أهله، فهى من نعمة الله أجراها على يديه….ودل ذلك أن إيمانهن يزيد بشكرهن العشير وبأفعل البر كلها

 

Artinya, “Mensyukuri kebaikan suami termasuk bagian dari mensyukuri nikmat Allah. Setiap nikmat yang Allah berikan kepada seorang istri melalui suaminya berasal dari nikmat Allah yang Dia alirkan lewat tangan suami...Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa iman seorang istri bertambah dengan mensyukuri suaminya dan dengan melakukan semua bentuk kebaikan.” (Ibnu Bathal, Syarah Shahih Bukhori, [Riyadh, Maktabah ar-Rasyid: 2003], jilid I, halaman 89)

 

Praktik berterima kasih kepada suami dapat dilakukan dengan cara sederhana. Ketika suami pulang dari bekerja dalam keadaan lelah, istri dapat menyambutnya dengan ucapan terima kasih atas usaha yang telah dilakukan. Kalimat singkat seperti “Terima kasih sudah bekerja hari ini” memiliki dampak besar dalam membangun rasa dihargai.

 

Saat suami memberikan nafkah, meskipun jumlahnya terbatas, istri tetap dapat mengungkapkan rasa terima kasih dengan tulus. Ketika suami belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan atau keinginan, istri tetap dapat menghargai niat dan usaha yang telah dilakukan. Sikap ini mencerminkan kedewasaan spiritual dan emosional.

 

Dalam aktivitas rumah tangga, ucapan terima kasih juga penting ketika suami terlibat dalam pekerjaan rumah. Saat suami membantu mengangkat barang berat, memperbaiki peralatan, atau mengantar anak, penghargaan verbal menunjukkan bahwa peran tersebut tidak dianggap remeh. Sikap ini memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

 

Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan mengingkari kebaikan suami. Rasulullah SAW menggambarkan akibat dari sikap tersebut dalam sebuah hadits:

 

إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: (بِكُفْرِهِنَّ). قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

 

Artinya, “Aku melihat surga, atau aku diperlihatkan surga. Aku mengambil dari dalamnya setandan anggur. Jika aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Aku juga melihat neraka. Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan. Para sahabat bertanya: ‘Mengapa wahai Rasulullah’. Beliau menjawab: ‘karena kekufuran mereka’. Beliau ditanya lagi: ‘apakah mereka kufur kepada Allah’. Beliau menjawab: ‘mereka kufur kepada suami dan kufur terhadap kebaikan. Jika kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu ia melihat satu kesalahan darimu, ia berkata: ‘aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’” (HR. Al-Bukhari).

 

Hadits ini mengkritik sikap yang menghapus seluruh kebaikan besar hanya karena satu kesalahan kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini sering muncul saat emosi tidak terkendali. Satu kekeliruan suami dijadikan alasan untuk menafikan seluruh pengorbanan yang telah dilakukan sebelumnya.

 

Hadits ini juga menegaskan kewajiban istri untuk mengakui jasa dan kebaikan suami. Suami menjaga aib istri, melindungi kehormatannya, dan menanggung seluruh kebutuhannya dengan pengorbanan diri. Mengabaikan seluruh kebaikan tersebut termasuk perbuatan dosa besar.


Ibnu Bathal kembali menjelaskan:


أنه يجب عليها شكره والاعتراف بفضله؛ لستره لها وصيانته وقيامه بمؤنتها وبذله نفسه فى ذلك

Artinya, “Seorang istri wajib mensyukuri suaminya dan mengakui jasanya, karena suami menutupi menutup aibnya, menjaga kehormatannya, menanggung kebutuhannya, dan mencurahkan dirinya untuk semua itu.” (ISyarah Shahih Bukhori, jilid VII, halaman 319).

 

Penting untuk diingat bahwa etika bersyukur ini tidaklah bersifat searah. Sebagaimana istri diperintahkan untuk mengakui jasa suami, seorang suami pun memiliki kewajiban moral untuk senantiasa mengapresiasi segala bentuk pengabdian istri di dalam rumah tangga. Hal ini sebagai bentuk pola hubungan yang baik sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an:

 

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ۝١٩

 

Artinya, “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 19)

 

Ketika kedua pasangan berlomba untuk saling berterima kasih dan tidak saling meremehkan, keberkahan Allah akan turun menyelimuti keluarga tersebut. Setiap ucapan terima kasih yang disampaikan dengan tulus akan menumbuhkan keharmonisan dalam rumah tangga. Wallahu a’lam.


Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.