Kultum Ramadhan: Cara Memuliakan Nuzulul Qur’an
NU Online · Selasa, 10 Maret 2026 | 15:00 WIB
Bushiri
Kolomnis
Bulan Ramadhan adalah anugerah luar biasa bagi umat Islam. Di dalamnya Allah swt melimpahkan rahmat, ampunan, dan petunjuk. Salah satu kado istimewa Ramadhan adalah peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.
Dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Artinya: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan tidak hanya identik dengan ibadah puasa, tetapi juga bulannya Al-Qur’an. Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya kita memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan, sebuah peristiwa agung diturunkannya kitab suci umat Islam.
Penetapan ini merujuk pada keterangan para ulama sejarah. Salah satunya Ibnu Katsir menjelaskan:
كَانَ ابْتِدَاءُ الْوَحْيِ إِلَى رَسُوْلِ الله يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ، لَسَبْع عَشَرَةَ لَيْلَةُ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَقِيْلَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْهُ
Artinya, “Permulaan wahya (diturunkannya Al-Qur’an) kepada Rasulullah saw bertepatan dengan hari Senin pada malam ketujuh belas bulan Ramadhan. Dan dikatakan, bertepatan dengan tanggal 24 Ramadhan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, [Beirut, Darul Fikr], juz III, halaman 11).
Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah momen yang sangat penting dan mulia dalam sejarah Islam. Ia menandai turunnya petunjuk Allah bagi seluruh umat manusia. Karena itu, Nuzulul Qur’an adalah momentum spiritual yang harus dimuliakan dengan memperbanyak ibadah, terutama membaca Al-Qur’an.
Keteladanan ini telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan, beliau meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Jibril mendatangi Rasulullah saw setiap malam di bulan Ramadhan. Dalam hadits disebutkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: “Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari).
Membaca Al-Qur’an dapat dilakukan secara mandiri maupun secara bersama. Di Indonesia, pembacaan Al-Qur’an secara bersama inilah yang lazim dilaksanakan pada momen Nuzulul Qur’an. Kegiatan tersebut mencerminkan kesadaran kita sebagai umat Islam untuk menjadikan peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai momentum penguatan ibadah dan kebersamaan dalam ketaatan.
Rasulullah saw bersabda:
وَما اجْتَمع قَوْمٌ في بَيْتٍ مِن بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ
Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul diantara rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajari diantara mereka. Kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan diberikan rahmat serta malaikat akan menaunginya. Dan mereka akan diingat disisi Allah.” (HR. Muslim)
Imam an-Nawawi dalam menjelaskan bahwa keutamaan ini tidak terbatas pada masjid. Beliau menyatakan bahwa majelis ilmu di madrasah, ribath, dan tempat sejenisnya juga termasuk dalam cakupan hadits ini. Beliau mengatakan:
وَيُلْحَقُ بِالْمَسْجِدِ فِي تَحْصِيلِ هذه الفضيلة الاجتماع فى مدرسة وَرِبَاطٍ وَنَحْوِهِمَا
Artinya, “Disamakan dengan masjid dalam hasilnya fadhilah yaitu berkumpul di madrasah, pondok dan tempat-tempat sesamanya”. (Syarhun Nawawi li al-Muslim, [Beirut, Darul Ihya’ at-Turots: 1392], jilid XVII, halaman 22).
Selain membaca Al-Qur’an, memuliakan momen Nuzulul Qur’an juga dapat diwujudkan melalui berbagai amal kebaikan lainnya. Umat Islam dapat mengisinya dengan i’tikaf di masjid, mengikuti pengajian keagamaan, menghadiri majelis ilmu, serta memperbanyak dzikir dan doa. Amalan-amalan ini menunjukkan kesungguhan dalam menghormati peristiwa turunnya Al-Qur’an.
Karena itu, mari kita muliakan momen Nuzulul Qur’an yang agung ini dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dan menghidupkannya dengan berbagai amal ibadah lainnya. Langkah ini menjadi wujud kesungguhan kita dalam menghormati peristiwa turunnya wahyu. Semoga Al-Qur’an senantiasa membimbing langkah kita dan menguatkan keimanan kita dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam.
Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
3
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
4
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
5
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
6
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
Terkini
Lihat Semua