Kultum Ramadhan: Silaturahim, Kunci Rezeki dan Umur Panjang
NU Online · Selasa, 17 Maret 2026 | 15:00 WIB
Ajie Najmuddin
Kolomnis
Tak terasa bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita dan kemudian kita akan berjumpa dengan awal bulan Syawal yang biasa kita sebut sebagai Hari Raya Idul Fitri. Pada momen tersebut, pada umumnya digunakan sebagai saat yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga ataupun saling berkunjung ke rumah orang tua, saudara, kerabat, ataupun tetangga untuk sekadar mengucapkan selamat hari raya serta saling meminta maaf satu sama lain.
Berkunjung ke rumah orang tua, saudara, dan lain sebagainya tersebut atau dapat pula kita menyebutnya sebagai silaturahim. Kegiatan mempererat tali silaturahim tersebut merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam.
Silaturahim dapat menjadi salah satu amalan yang dapat mengantarkan kita meraih pahala masuk surga. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Salam ra:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Artinya, "Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah hubungan kekerabatan (silaturahim) dan shalatlah di waktu malam saat orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR Ibnu Majah).
Karena itu, sudah semestinya bila kita senang untuk silaturahim kepada orang tua, guru, kerabat, dan lain sebagainya, khususnya pada momen lebaran. Sebab, dengan silaturahim secara lahir hati kita juga akan bergembira, sebab bertemu dengan orang-orang yang kita hormati dan kita sayangi, selain itu juga mendapatkan bonus berupa pahala tiket masuk surga dan keutamaan-keutamaan lainnya dari silaturahim.
Panjang Umur dan Luas Rezeki
Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menyebut setidaknya 10 keutamaan silaturahim dengan mengutip beberapa hadits di dalamnya:
وَفِي صِلَةِ الرَّحِمِ عَشْرُ خِصَالٍ مَحْمُودَةٍ
Artinya, “Dalam silaturahim terdapat sepuluh hal terpuji” (Hasyiyatul Bujairimi 'alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2007], juz III, halaman 272).
Di antara keutamaan tersebut yakni, membuat bahagia serta melahirkan memori atau ingatan positif dari orang beriman terhadap mereka yang menjaga silaturahim. Hal ini mestinya akan berlaku, baik kepada orang yang berkunjung maupun dikunjungi.
Terlebih, bila yang kita silaturahim dengan membawa oleh-oleh dan juga sebaliknya tuan rumah membalasnya dengan suguhan makanan atau minuman, dengan bersandar kepada anjuran untuk memuliakan tamu. ٍemakin lengkap suasana kegembiraan dalam momen silaturahim. Tentu anjuran untuk membawa oleh-oleh dan memuliakan tamu ini dilaksanakan sesuai kemampuan masing-masing.
Dengan suasana hati yang gembira, menjadikan hidup menjadi lebih berwarna dan bersemangat. Hal ini akan selaras dengan keutamaan lain dari silaturahim yakni menambah berkah umur dan rezeki. Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik ra:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya, “Siapapun ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Al-Bukhari).
Silaturahim di Era Digital
Lalu, apakah silaturahim harus dilakukan dengan pertemuan langsung?
Tentu secara psikologis, pertemuan langsung akan membuat hati gembira dan suasana yang positif, seperti yang telah dijelaskan dalam keterangan keutamaan silaturahim.
Namun, apabila kemudian kita terkendala jarak dan lain sebagainya, maka silaturahim tetap dapat kita laksanakan. Terlebih di zaman digital ini, kita dapat menyapa seseorang meskipun terpaut jarak ribuan kilometer. Hal ini juga selaras dengan makna luas silaturahim, seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi:
وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ فَتَارَةً تَكُونُ بِالْمَالِ وَتَارَةً بِالْخِدْمَةِ وَتَارَةً بِالزِّيَارَةِ وَالسَّلَامِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Artinya, “Adapun Silaturahim adalah perbuatan baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi hubungan yang terjalin antara yang menjalin silaturahim dan yang menerima silaturahmi. Kadang-kadang dilakukan melalui pemberian materi, kadang melalui bantuan, atau dengan berkunjung atau juga menyapa, dan lain sebagainya.” (Syarhu Shahih Muslim, [Beirut, Dar Ihya at-Turats: tt.], jilid I, halaman 139).
Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak melakukan silaturahim. Sebab, dengan berbagai kemudahan di zaman sekarang, kita bisa tetap menjalin silaturahim dengan berbagai cara. Dengan saling berkunjung atau berkirim hadiah atau hanya sekadar menyapa dalam ranah media sosial untuk saling mendoakan dalam kebaikan.
Dengan berbagai keutamaan dan kemudahan yang terdapat dalam silaturahim tersebut, maka mari kita manfaatkan akhir Ramadhan dan awal Syawal nanti untuk memperbanyak kegiatan silaturahim. Jangan sampai kita pada akhirnya termasuk kepada orang-orang yang celaka karena memutus silaturahim sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya, “Orang yang memutus (silaturahmi) tidak akan masuk surga.” (HR Al-Bukhari).
Semoga kita dijadikan oleh Allah swt, termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dimudahkan langkah kaki kita untuk melakukan silaturahim dan mendapatkan berkahnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua