Ramadhan

Kultum Ramadhan: Idul Fitri, Momentum Gerakan Peduli Kebersihan Lingkungan

NU Online  ·  Kamis, 19 Maret 2026 | 03:00 WIB

Kultum Ramadhan: Idul Fitri, Momentum Gerakan Peduli Kebersihan Lingkungan

Kultum Ramadhan tentang Idul Fitri sebagai momentum gerakan peduli kebersihan lingkungan (NUO)

Idul Fitri atau ada juga yang menyebutnya hari lebaran. Di tengah masyarakat pada umumnya kerap dimaknai dengan hari kemenangan, hari kebebasan, hati kembali bersih karena sudah berhasil menunaikan ibadah puasa, hari berkumpul bersama keluarga, hari bermaaf-maafan. Ada juga yang memaknai dengan hari mudik. inilah beberapa makna Idul Fitri yang sering dipahami dan kita temui di tengah masyarakat. 
 

Semua makna tersebut sah-sah saja, tidak ada yang keliru, karena masyarakat memang melihat Idul Fitri dari berbagai sudut pandang sesuai dengan lingkungan, budaya, kultur, atau apa yang mereka lihat. Namun demikian, ada dua makna yang menarik untuk kita ketahui dan dipahami bersama karena terkadang dua makna ini luput dari perhatian, padahal penting untuk dipahami.
 

Namun, sebelumnya mari kita membaca kembali hadits tentang asal usul Hari Raya Idul Fitri. Pada zaman jahiliah, masyarakat waktu itu memiliki dua hari yang dijadikan hari raya, hari di mana mereka bermain dan bercanda gembira. Setelah Rasulullah saw datang, dua hari tersebut diganti dengan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. 
 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
 

Artinya: “Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda, kaum jahiliah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad saw datang ke Madinah, Rasulullah bersabda, kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sungguh Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Imam Abu Dawud). 
 

Dua Makna Idul Fitri: Gerakan Peduli Lingkungan dan Kembali ke Jati Diri

Seharusnya momen Idul Fitri kita jadikan sebagai gerakan peduli lingkungan, seperti menjaga kebersihan, menjaga udara dari polusi dan gerakan peduli lingkungan lain, karena hal tersebut merupakan semangat dari salah satu makna yang terkandung dalam kata fitri (al-fithrah), yakni menjaga sebuah kebersihan. Makna ini tergambar dengan jelas dalam sabda Rasulullah saw: 
 

خَمسٌ مِنَ الفِطرَةِ؛ الخِتانُ، والاستِحدادُ، ونَتفُ الإبْطِ، وقَصُّ الشّارِبِ، وتَقليمُ الأظفارِ
 

Artinya: “Lima perkara termasuk dari sunnah (nabi-nabi terdahulu) yaitu (1) berkhitan, (2) mencukur bulu kemaluan, (3) mencabut bulu ketiak, (4) mencukur kumis, dan (5) memotong kuku-kuku.” (HR Al-Bukhari).
 

Contoh-contoh dalam hadits ini secara jelas mengisyaratkan bahwa kata fitri sangat identik dengan kebersihan. Membersihkan kotoran yang melekat di badan, membersihkan hal yang tidak sedap dipandang, termasuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Inilah semangat makna fitri yang terkadang luput dari perhatian kita. 
 

Jadi, tak seharusnya kita meninggalkan sampah-sampah koran bertumpuk di area masjid atau halamannya setelah pelaksanaan shalat Idul Fitri, tak seharusnya kita memakai knalpot dicampuri oli yang menyemburkan asap yang dapat mencemari udara saat konvoi atau takbir keliling, tak seharusnya menyalakan petasan usai shalat Idul Fitri tapi membiarkan kertas petasan berserakan di tengah jalan, dan semua hal yang berunsur merusak lingkungan tak seharusnya dinormalisasi. 
 

Alasan kenapa? Musabab semua hal tersebut tidak mencerminkan semangat dari hakikat Idul Fitri. Saat menjelaskan hadits, al-Hafizh Ibnu Hajar tidak membatasi hanya sebatas lima contoh di muka. Artinya, setiap hal mengandung semangat menjaga kebersihan masuk dalam kandungan hadits. 
 

وَالْحَصْرُ فِي الْخَمْسَةِ غَيْرُ حَقِيقِيٍّ بِدَلِيلِ رِوَايَةِ عَشْرٍ وَأَكْثَرَ، بَلْ مَجَازِيٌّ بِطَرِيقِ الْمُبَالَغَةِ فِي الْحَثِّ عَلَى الْخَمْسِ؛ لِأَنَّهَا أَهَمُّ وَآكَدُ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهَا مِنَ الْفِطْرَةِ
 

Artinya: "Lima contoh (dalam hadits) merupakan pembatasan yang tidak hakiki (hanya sebatas contoh). Hal tersebut dibuktikan dalam riwayat lain yang menyebut sepuluh bahkan lebih. Pembatasan tersebut hanya secara majaz mubalaghah (mirip dengan majas hiperbola). Artinya lima contoh tersebut sangat dianjurkan dan termasuk yang paling dianjurkan, walaupun contoh lainnya (yang tidak disebut) juga ada yang masuk dalam kategori al-fithrah." (Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra: 1356 H], jilid III, halaman 455).
 

Mari kita jaga semangat gerakan peduli lingkungan sebagaimana tersirat dalam makna Idul Fitri dan tidak menormalisasi setiap tindakan atau aktivitas yang bertabrakan dengan semangat ini, karena Idul Fitri tidak melulu soal semangat bersilaturahmi, tapi juga soal semangat menjaga lingkungan hidup. Inilah makna pertama yang terkadang luput dari perhatian kita. 
 

Berikutnya, makna kedua. Kata fitrah juga bisa kita jumpai dalam sabda Rasulullah saw:
 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
 

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: 'Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi'.” (HR Al-Bukhari). 
 

Manusia saat dilahirkan ada dalam kondisi suci, tanpa dosa, bersih layaknya air yang belum tercemar apa pun. Inilah makna kata al-fithrati dalam hadits. Begitu pula saat Idul Fitri tiba, semangat kembali ke jati diri yang bersih harus kita galakkan. 
 

Semangat mempertahankan kebersihan hati dan jiwa karena telah berhasil melewati bulan suci Ramadhan harus kita lanjutkan ke bulan-bulan berikut. Tidak berhenti saat shalat Idul Fitri usai, lalu semangat menjaga kebersihan jati diri juga usai. Malah semangat itulah yang bisa kita bawa pada bulan berikutnya, semangat menjaga jati diri tetap bersih dari kemaksiatan yang dapat mengotori kebersihan hati. 
 

Demikianlah dua makna Idul Fitri yang seharusnya tidak luput dari perhatian kita sebagai umat Muslim yang telah berhasil melewati bulan suci Ramadhan dan diberi anugerah menemukan Hari Raya Idul Fitri, hari yang disiapkan Rasulullah saw sebagai pengganti hari raya pada zaman jahiliah. Wallahu a'lam.


 

Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.