Ramadhan

Kultum Ramadhan: Menutup Ramadhan dengan Harapan Diterimanya Amal dan Lailatul Qadar

NU Online  ·  Rabu, 18 Maret 2026 | 03:00 WIB

Kultum Ramadhan: Menutup Ramadhan dengan Harapan Diterimanya Amal dan Lailatul Qadar

Ilustrasi doa memohon lailatul qadar. Sumber: NU Online.

Dalam waktu dekat, kita akan segera berpisah dengan bulan yang menawarkan sejuta ampunan. Ramadhan kini telah memasuki babak akhir, menandakan bahwa kesempatan emas ini akan segera berakhir dalam hitungan hari. 


Perjalanan kita sejauh ini mungkin beragam; ada yang melewatinya dengan performa ibadah terbaik, namun ada pula yang merasa ibadahnya masih sekadar penggugur kewajiban. 


Di penghujung momentum ini, penting bagi kita untuk mengevaluasi kualitas batin kita, merenungi kekurangan yang ada, dan berkomitmen untuk tidak menyia-nyiakan napas terakhir Ramadhan yang tersisa.


Sekalipun banyak kekurangan yang kita lakukan sebelumnya, penghujung Ramadhan ini adalah kesempatan emas untuk membasuh diri melalui komitmen ibadah yang lebih kuat. Mari kita gantungkan harapan pada rahmat Allah yang tak terbatas, sembari mengetuk pintu langit agar setiap amal yang tampak kecil di mata manusia diterima di sisi-Nya. 


Harapan terbesar kita adalah dipertemukan dengan Lailatul Qadar, momen ajaib yang mampu menyempurnakan segala kekurangan masa lalu kita dengan kemuliaan yang melampaui seribu bulan.


Menutup Ramadhan dengan Harapan Diterimanya Amal dan Lailatul Qadar

Dalam lintasan sejarah pembangunan Baitullah, terdapat momen krusial saat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS meninggikan pondasi bangunan suci tersebut. 


Sembari bekerja, keduanya memanjatkan doa tulus yang menjadi teladan bagi kita dalam menyempurnakan amal dan harapan akan diterima. 


Doa tersebut termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 127 sebagai berikut:

 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

 

Artinya: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)


Imam Al-Maturidi dalam kitab tafsirnya yang berjudul, Ta’wilat Ahlissunnah atau yang lebih populer dengan nama, Tafsir Al-Maturidi memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagai berikut:

 

فَهَكَذَا الْوَاجِبُ عَلَى كُلِّ مَأْمُورٍ بِعِبَادَةٍ، أَوْ قُرْبَةٍ -إِذَا فَرَاغَ مِنْهَا، وَأَدَّاهَا- أَنْ يَتَضَرَّعَ إِلَى اللّٰهِ، وَيَبْتَهِلَ؛ لِيَقْبَلَ مِنْهُ، وَأَلَّا يُرَدَّ عَلَيْهِ؛ لِيَضِيعَ سَعْيُهُ

 

Artinya: "Demikianlah, wajib bagi setiap orang yang diperintahkan melakukan suatu ibadah atau ketaatan, setelah selesai menunaikannya, untuk merendahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar amal tersebut diterima dan tidak ditolak, sehingga usahanya tidak menjadi sia-sia." (Imam Abu Mansur al-Maturidi, Ta’wilat Ahlissunnah, [Beirut, Darul Kutub al-‘Ilmiah: 2005], jilid. I, hal. 564)


Imam Maturidi menggarisbawahi bahwa tindakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam ayat tersebut bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan teladan agung bagi setiap hamba. 


Beliau menekankan pentingnya menumbuhkan rasa harap (raja’) kepada Allah sesaat setelah menunaikan ketaatan. 


Hal ini merupakan bentuk kerendahan hati seorang mukmin: bahwa setelah mengerahkan seluruh daya untuk beribadah, kita tetap butuh bersandar pada belas kasih-Nya agar amal tersebut tidak tertolak dan layak diterima di sisi-Nya.


Mengevaluasi Ibadah Ramadhan

Meskipun kita telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk beribadah sepanjang Ramadhan, hendaknya kita tidak terjebak dalam rasa percaya diri yang berlebihan. 


Sikap waspada ini penting agar kita tidak terbuai oleh kepuasan spiritual semu atau merasa diri telah mencapai derajat kesalehan yang paling tinggi.


Namun, di saat yang sama, kita wajib memelihara optimisme bahwa Allah Yang Maha Pemurah akan menerima setiap ruku' dan sujud kita. 


Keseimbangan antara rasa takut dan harapan ini sangat krusial, sebab Allah bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya terhadap-Nya.


Imam Al-Ghazali bahkan menyampaikan bahwa sikap ini seharusnya kita tanamkan setiap selesai berbuka puasa, bukan hanya ketika di penghujung atau selesai Ramadhan. 


Beliau menyampaikan dalam Ihya ‘Ulumuddin-nya,


أَنْ يَكُوْنَ قَلْبُهُ بَعْدَ الإِفْطَارِ مُعَلَّقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَلْيَكُنْ كَذَلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرَغُ


Artinya, “Setiap selesai berbuka puasa, seyogyanya kita merasa khawatir sekaligus menaruh harapan kepada Allah. Khawatir jangan-jangan ibadah kita tidak diterima, juga berharap bahwa Allah menerimanya. 


Sebab kita tidak tahu apakah puasa kita diterima sehingga termasuk hamba yang dekat di sisi Allah, atau sebaliknya ditolak sehingga kita termasuk hamba yang mendapat murka-Nya. Sikap seperti ini harus diterapkan setiap selesai melakukan ibadah apa pun.” (Ihya ‘Ulumuddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: tt], jilid. I, hlm. 235).


Kesimpulannya, fase perpisahan ini adalah ujian terakhir bagi keteguhan iman kita. Kita dituntut untuk berani menoleh ke belakang guna mengevaluasi kualitas ibadah, namun tetap teguh memelihara harapan bahwa Allah akan menerima setiap ruku' dan sujud kita. 


Meneladani kerendahan hati Nabi Ibrahim AS dan hikmah dari para imam besar seperti Al-Ghazali serta Al-Maturidi, kita diajak mengakhiri perjalanan ini dalam kondisi bainal khauf war raja’. 


Di sisa waktu yang kian menipis, mari kita terus mengetuk pintu langit, berharap agar kemuliaan Lailatul Qadar menjadi penyempurna bagi setiap cacat amal kita di masa lalu. Wallahu a’lam.


Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.