M. Ryan Romadhon
Kolumnis
Di Nusantara, momentum Idul Fitri telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar perayaan agama. Idul Fitri menjadi ruang perjumpaan hati melalui tradisi silaturahmi yang kental. Di balik keriuhan pertemuan keluarga, terselip sebuah tradisi luhur yang telah diwariskan turun-temurun, yakni budaya saling memaafkan secara tulus.
Idul Fitri melampaui sekadar perayaan jasmani yang identik dengan busana baru atau deretan hidangan mewah di meja makan. Ia bukan pula panggung untuk memamerkan pencapaian hidup atau ajang kompetisi status sosial yang sering kali mengaburkan makna.
Lebih dalam dari itu, Idul Fitri adalah momentum untuk memulihkan keretakan dalam hubungan antar manusia. Inilah saatnya kita meluruhkan ego, menjabat tangan dengan tulus, serta membuka pintu maaf selebar-lebarnya demi merajut kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang.
Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ
Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (QS An-Nur: 22).
Imam Fakhruddin Ar-Razi memberikan interpretasi terhadap ayat sebagai berikut:
المسألة السَّادِسَةُ: الْعَفْوُ وَالصَّفْحُ عَنِ الْمُسِيءِ حَسَنٌ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ، وَرُبَّمَا وَجَبَ ذَلِكَ وَلَوْ لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهِ إِلَّا هَذِهِ الْآيَةُ لَكَفَى، أَلَا ترى إل قوله: أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ [النُّورِ: ٢٢] فَعَلَّقَ الْغُفْرَانَ بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ
Artinya: "Masalah keenam: memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang berbuat salah adalah perbuatan baik yang dianjurkan, bahkan terkadang hukumnya bisa menjadi wajib. Seandainya tidak ada dalil lain kecuali ayat ini (QS. An-Nur: 22), maka itu sudah cukup.
Tidakkah engkau memperhatikan firman-Nya: 'Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?' Di sini, Allah menggantungkan ampunan-Nya bagi kita pada (syarat) kesediaan kita untuk memaafkan dan berlapang dada kepada sesama." (Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihya’it Turats ‘Arabi: 1420], jilid XXIII, halaman 325).
Imam Ar-Razi memberikan penekanan bahwa sikap memaafkan dan berlapang dada bukanlah sekadar imbauan etis semata, melainkan sebuah strategi fundamental dalam beragama.
Merujuk surat An-Nur ayat 22, Ar-Razi melihat adanya kaitan timbal balik yang sangat kuat: Allah swt secara gamblang menjadikan kerelaan kita mengampuni sesama sebagai syarat krusial dan parameter utama bagi turunnya ampunan-Nya kepada kita. Dengan kata lain, permohonan maaf kita kepada Tuhan akan menemui jalan buntu jika kita sendiri masih menutup pintu maaf bagi sesama manusia.
Pada momentum Idul Fitri yang suci ini, sudah saatnya kita melunakkan hati untuk saling memaafkan dan melapangkan dada atas segala kekhilafan sesama.
Mari kita sadari bahwa kerelaan kita dalam mengampuni orang lain adalah kunci utama untuk menjemput ampunan dari Allah. Semoga dengan hati yang bersih, kita benar-benar kembali ke fitrah yang sejati. Wallahu a’lam.
Ustadz M Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan Mamah atau Ummi
2
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
3
Presiden Prabowo Tiba di India untuk Hadiri KTT Ke-18 BRICS
4
BGN Sebut 240 Ribu Satuan Pendidikan Belum Terima MBG
5
Menkeu Suahasil: Keuangan Negara Harus Bisa Jalankan Program Prioritas Pemerintah
6
BGN Klaim Keluarkan 1.653 Satuan Pendidikan dari Penerima MBG
Terkini
Lihat Semua