Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Respons Yahudi Makkah atas Kelahiran Nabi Muhammad

Respons Yahudi Makkah atas Kelahiran Nabi Muhammad
Kelahiran Nabi Muhammad telah dikabarkan dengan detail pada kitab-kitab sebelumnya, termasuk bagi umat Yahudi.
Kelahiran Nabi Muhammad telah dikabarkan dengan detail pada kitab-kitab sebelumnya, termasuk bagi umat Yahudi.

Senin, 12 Rabi'ul Awwal Tahun Gajah atau 570 M, merupakan hari penting bagi umat manusia, sebab pada saat itulah nabi akhir zaman lahir. Namun siapa sangka, di tengah kegembiraan penduduk Makkah karena nabi agung itu berasal dari golongan mereka, ada seorang Yahudi yang merasa sangat kecewa hingga pingsan melihat kehadiran sosok yang selama ini dinantinya. 


Dikisahkan, dulu ada seorang Yahudi tinggal di Makkah untuk berdagang. Saat malam dilahirkannya Nabi Muhammad, ia bertanya kepada sekelompok masyarakat yang sedang berkumpul, “Wahai kaum Quraisy, apakah kalian mendengar ada bayi dilahirkan malam ini?” 


“Kami tidak tahu,” jawab mereka. 


“Baiklah kalau begitu. Aku cuma ingin memberi tahu, malam ini akan lahir nabi umat terakhir. Ciri-cirinya, di antara dua belikatnya ada tanda yang memiliki bulu-bulu rambut yang tersusun seperti bulu tengkuk kuda. Ia juga tidak menyusu selama dua malam karena mulutnya ditahan oleh Jin Ifrit.” 


Orang-orang tidak mengerti maksud Yahudi tadi. Mereka pun bubar dengan perasaan bingung. Sepulangnya di rumah masing-masing, mereka menceritakan apa yang baru saja disampaikan Yahudi. Hingga kemudian mereka mendengar bahwa saat ini Abdullah telah memiliki putra yang baru saja lahir. Ia menamainya ‘Muhammad’. 


Kabar kelahiran ini pun segera disampaikan kepada si Yahudi tadi. Mendengar hal itu, ia mengajak orang-orang mendatangi rumah Abdullah untuk memastikan kebenaran informasi. “Ayo, kita bersama-sama ke rumah Abdullah,” serunya. 


Sesampainya di rumah Abdullah, mereka masuk dan melihat istrinya, Aminah. “Tolong perlihatkan putramu,” pinta Yahudi. 


Begitu bayi dikeluarkan, si Yahudi membuka punggungnya dan melihat tanda kenabian, seketika ia tak sadarkan diri. Begitu sudah siuman, orang-orang heran dan menanyainya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” 


“Demi Allah, telah lenyap kenabian dari Bani Isra’il. Bergembiralah. Kalian beruntung karena bayi ini adalah nabi akhir zaman. Ia akan memiliki kekuasaan dan semua orang dari timur hingga barat mengetahuinya.” 


Riwayat ini disampaikan oleh Abu Abdillah an-Naisaburi dalam Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, 2009 juz II, halaman 257. 


Prediksi Umat Yahudi atas Kelahiran Nabi Muhammad 

Orang Yahudi yang pingsan saat Nabi Muhammad lahir sebenarnya sudah tahu ciri-ciri dan memprediksi kapan putra Abdullah itu lahir. Sebab, ciri-ciri cucu Abdul Muthalib itu sudah disebutkan dalam Taurat, kitab suci Yahudi. Bahkan, saking yakinnya, setiap kali melakukan pertempuran melawan musuh, umat Yahudi akan bertawasul kepada Nabi yang sudah dijanjikan itu, dan terbukti mereka diberi kekuatan untuk memukul mundur lawan. 


Dalam beberapa riwayat disebutkan redaksi tawasul yang dibacakan umat Yahudi untuk memenangkan pertempuran, salah satunya adalah penjelasan Ibnu ‘Abbas yang dikutip Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya sebagai berikut: 


كانت يهود خيبر تقاتل غطفان، فلما التقوا هزمت يهود فدعت يهود بهذا الدعاء، وقالوا إِنَّا نَسْئَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِيْ وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ؛ إِلّا أَنْ تَنْصُرَنَا عَلَيْهِمْ. قال: فكانوا إذا التقوا دعوا بهذا الدعاء فهزموا غطفان، فلما بعث النبي صلى الله عليه وسلم كفروا، فأنزل الله تعالى: “وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا” أي بِكَ يَا مُحَمَّدُ، إلى قوله فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
 

Artinya, “Dahulu, Yahudi Bani Khaibar sering bertempur melawan Bani Ghathfan. Jika perang berkecamuk, lalu Bani Khaibar tercerai-berai, mereka berdoa seperti ini, ‘Innâ nas’aluka bi haqqin nabiyyil ummiyyil ladzî wa‘adtanâ an tukhrijahû lanâ fî âkhiriz zamân illâ an tanshuranâ’ (Ya Allah, kami memohon kepada-Mu melalui kebenaran Nabi Ummi yang Engkau janjikan kepada kami diutus pada akhir zaman, sehingga (berkatnya) Engkau bantu kami mengalahkan mereka). 


Yahudi Bani Khaibar setiap kali berperang, selalu berdoa seperti itu dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan satuan tentara Bani Ghathfan. Kemudian Allah swt menurunkan ayat, ‘Mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir, maksudnya lewat tawasul “Denganmu hai Muhammad’ hingga akhir ayat, kemudian mereka mengingkarinya maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir.’” (Imam al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2019: juz I, halaman 22) 


Dalam riwayat di atas dijelaskan bahwa semula Umat Yahudi mengimani Nabi Muhammad sebelum lahir, tapi kemudian mereka mengingkarinya setelah nabi terakhir itu muncul. Lantas apa yang menyebabkan mereka ingkar? Padahal jelas sebelumnya sangat mengimaninya. Saking yakinnya, mereka mengandalkan keberkahan Rasulullah setiap kali melakukan pertempuran. 


Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi dengan mengutip beberapa keterangan (astar) sahabat menjelaskan, alasan umat Yahudi enggan mengimani Nabi Muhammad setelah lahir adalah karena gengsi. Hemat mereka, seorang nabi harus dari kalangan Bani Israil, sedangkan Nabi Muhammad dari keturunan bangsa Arab atau Nabi Ismail. Hanya karena hasud dan gengsi, mereka mengingkari kebenaran yang sebenarnya sudah jelas-jelas disampaikan dalam kitab suci mereka sendiri. 


Kisah ingkar mereka kemudian diabadikan dalam firman Allah swt berikut: 


وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ 


Artinya, “Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 89) (Ibnu Nashiruddin ad-Dimasqi, Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil Mukhtar, 2009: juz I, halaman 35-36). Wallahu a’lam. 


Ustadz Muhamad Abror, penulis keislaman NU Online, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma'had Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×