Sirah Nabawiyah Merawat Turats Sepanjang Zaman

Tajdid Turats dalam Pemikiran Arab Kontemporer: Suriah, Maghrib, dan Mesir

NU Online  ·  Kamis, 26 Februari 2026 | 14:00 WIB

Tajdid Turats dalam Pemikiran Arab Kontemporer: Suriah, Maghrib, dan Mesir

Turats Islam (NUO)

Pembelaan terhadap tradisi turats sejatinya baru muncul setelah gebrakan para pemikir reformis yang banyak mengkritik tradisi keilmuan Arab Islam yang dianggap jumud. Akar sosial dari pemikiran ini bermula dari keresahan para intelektual Arab Muslim melihat kemunduran umat Islam di Timur dibandingkan dengan kemajuan negara-negara Barat.
 

Dari keresahan tersebut muncul lah para reformis di penjuru negara-negara Arab seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Abdul Qadir al-Maghribi, Thahir al-Jazairi, dan lain sebagainya (Syekh Ahmed  At-Tayyeb, at-Turats wat Tajdid: Munaqasyat wa Rudud, [Kairo: Darul Ma’arif, 2017 M], halaman 30).
 

Akan tetapi, wacana pembaruan turats baru muncul secara spesifik pasca-1967 yang digaungkan oleh para akademisi dengan berbagai latar belakang ideologinya (Munasqasyat wa Rudud/halaman 31). Kekalahan pasukan gabungan Arab dari pasukan Israel yang disokong oleh Amerika Serikat pada Perang Enam Hari di tahun 1967 kala itu telah menggoncang berbagai lapisan masyarakat Arab.
 

Bagi mereka, kekalahan tersebut adalah bukti dari kegagalan ideologi nasionalisme Arab, otoriterianisme pemerintahannya, serta model sosial politik yang berlaku di masyarakat. Konsekuensinya, muncul kritik kolektif dari masyarakat terhadap berbagai hal yang selama ini mengatur kehidupan sosial budaya dan politik ekonomi mereka. Uniknya, meski muncul bersamaan, kritik kolektif tersebut tidak lantas memiliki kesamaan ideologis satu sama lain.
 

Kelompok Islamis berharap akan munculnya kesadaran negara Islam sebagai alternatif, kelompok liberal berharap negara Arab bisa menjadi lebih demokratis, kelompok Marxis berargumen atas tidak sempurnanya penerapan sosialisme sebagai sebab kekalahan Perang Enam Hari. Berbagai lonjakan kritik itulah yang melahirkan pemikiran Arab kontemporer, termasuk yang paling bernas: wacana pembaruan turats. (Ibrahim M. Abu-Rabi‘, Contemporary Arab Thought: Studies in Post-1967 Arab Intellectual History, [London: Pluto Press, 2004 M], halaman 10).
 

Madrasah Pemikiran Dalam Kajian Tajdid

Secara umum, kelompok yang bergulat dalam wacana pembaruan turats (tajdid) diperebutkan oleh dua model pemikiran, yaitu kelompok progresif dan kelompok neotradisional. Kelompok progresif adalah kelompok yang berusaha menafsirkan teks dan tradisi keislaman melalui kacamata modern yang mengutamakan prinsip keadilan sosial, kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan inklusivitas. Sementara kelompok neotradisional adalah kelompok yang berusaha membangkitkan kembali ajaran Islam klasik yang bertumpu pada akidah Ahlussunnah, fiqih mazhab, dan tasawuf untuk menavigasi tantangan zaman.
 

Namun demikian, seruan tajdid paling awal bermula dari kelompok progresif. Syekh Ahmed At-Tayyeb menyebutkan tiga sumber madrasah pemikiran (schools of thought) yang menjadi sumber narasi pembaruan turats tersebut, yaitu: Madrasah Suriah, Madrasah Maghrib, dan Madrasah Mesir (Munaqasyat wa Rudud, halaman 32-38). Madrasah pemikiran adalah sekelompok intelektual yang berbagi kesamaan keyakinan dan cara pandang dalam suatu topik pembahasan tertentu. Maka, menurut Syekh Ahmed at-Tayyeb, terdapat tiga poros cara pandang berbeda yang membahas isu pembaruan turats.


Madrasah Suriah

Dalam Madrasah Suriah, kajian tajdid berpusat pada ideologi Marxisme-Leninisme. Karena itu, kelompok pemikiran ini menelusuri berbagai figur dan karya-karyanya di dalam tradisi turats keislaman yang dianggap senada dengan paham materialisme historis yang merupakan salah satu konsep inti dalam Marxisme.
 

Materialisme historis merupakan pemahaman yang menyatakan bahwa proses perkembangan manusia sepanjang sejarah, baik secara sosial, politik, maupun intelektual, dibentuk oleh faktor-faktor material dan mode produksi dalam sistem ekonomi masyarakat. Maka, unsur-unsur metafisika dan hal-hal ghaib akan dipinggirkan dalam upaya penafsiran ulang atas turats.
 

Atas titik tolak itulah, Madrasah Suriah mengedepankan kembali figur filsuf klasik dalam sejarah intelektual Islam yang mendukung pemahaman materialisme. Sebut saja al-Farabi (wafat 229 H) yang berpendapat bahwa perubahan di alam semesta terjadi melalui bentuk-bentuk (ṣuwar)  yang silih berganti pada materi pertama (hayūlā) sesuai dengan sebab-sebab aktualisasinya.
 

Selain itu, madrasah ini juga mengajukan Ibrahim an-Nazzam (wafat 238 H), seorang Muktazilah yang berpendapat mengenai kebebasan manusia dari kendali Tuhan secara langsung. Tidak luput dari perhatian madrasah ini adalah kelompok intelektual Ikhwan al-Safa (abad ke-4 H) yang dinilai mempelopori filsafat evolusi dalam Islam sebelum Lamarck dan Darwin.
 

Dari pemaparan tersebut, tampak jelas bagaimana upaya tajdid Madrasah Suriah sejatinya adalah penyeleksian karya-karya dalam tradisi Islam dengan mengedepankan figur-figur yang seolah-olah mendukung materialisme historis dari Karl Marx sembari meminggirkan pemikiran metafisik dalam turats. Syekh Ahmad At-Tayyeb menegaskan:
 

وَبِاخْتِصَارٍ: تُؤَكِّدُ هٰذِهِ الْمَدْرَسَةُ أَنَّ مُعْظَمَ مُفَكِّرِينَا الْقُدَمَاءِ كَانُوا ذَوِي نَزْعَةٍ مَادِّيَّةٍ أَوْ جَدَلِيَّةٍ, أَمَّا الْإِسْلَامُ كَجَوْهَرٍ يُشَكِّلُ النَّسِيجَ الدَّاخِلِيَّ لِعُلُومِهِمُ النَّظَرِيَّةِ وَالْعَمَلِيَّةِ، فَهُوَ – فِي مَنْظُورِ هٰذِهِ الْمَدْرَسَةِ – مُجَرَّدُ أَثَرٍ لِاتِّجَاهٍ مِثَالِيٍّ أَوْ مِيتَافِيزِيقِيٍّ, سَبَبُهُ لْعَجْزُ التَّارِيخِيُّ الَّذِي كَانَ يَمْنَعُ بَلْوَرَةَ الِاتِّجَاهِ الْمَادِّيِّ
 

Artinya, “Secara singkat: madrasah pemikiran ini menegaskan bahwa sebagian besar pemikir klasik kita memiliki kecenderungan materialistik atau dialektis. Adapun Islam sebagai substansi yang membentuk jaringan internal ilmu-ilmu teoritis dan praktis mereka, maka—dalam perspektif madrasah pemikiran ini—ia hanyalah sekadar akibat dari ‘kecenderungan idealistik atau metafisis’, yang disebabkan oleh ‘ketidakmampuan historis yang menghalangi terbentuknya (atau mengkristalnya) kecenderungan materialistik'”. (Munaqasyat wa Rudud, halaman 33).
 

Madrasah Maghrib

Berkenaan dengan Madrasah Maghrib, Syekh Ahmad el-Tayyeb menyoroti aspek intinya pada kritik terhadap formasi nalar peradaban Arab. Kritik tersebut dilancarkan oleh salah satu tokoh kunci dalam madrasah ini, yaitu Muhammad Abid al-Jabiri.

Apa yang dimaksud dengan nalar Arab (al-aql al-‘arabi)? Menurut al-Jabiri, nalar Arab adalah sekumpulan prinsip dan kaidah yang dikedepankan oleh peradaban Arab sebagai dasar untuk mendapatkan pengetahuan bagi para pelaku peradabannya (Muhammad Abid al-Jabiri, Takwinul ‘Aql al-‘Arabi, [Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyyah, 2023 M], halaman 15).
 

Dengan demikian, kajian tajdid dalam madrasah ini berfokus pada penelusuran model-model penalaran dalam turats Arab Islam. Salah satu kesimpulan dari penelusuran tersebut adalah terbaginya nalar dalam turats Arab Islam menjadi nalar ketimuran (‘aql masyriqiy) yang lebih teologis seperti yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali (wafat 505 H) dan ar-Razi (wafat 606 H); serta nalar kebaratan (‘aql maghribiy) yang lebih logis seperti yang dirumuskan oleh Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dan Abu Bakr bin Bajah (wafat 581 H). Syekh Ahmad el-Tayyeb menerangkan:
 

فِي هٰذِهِ الْمَدْرَسَةِ انْشَطَرَ الْعَقْلُ الْعَرَبِيُّ إِلَى شَطْرَيْنِ: عَقْلٌ مَشْرِقِيٌّ لَاهُوتِيٌّ، وَفَلْسَفَتُهُ تَقُومُ عَلَى عِلْمِ الْكَلَامِ، وَعَقْلٌ مَغْرِبِيٌّ عِلْمِيٌّ، وَفَلْسَفَتُهُ تَقُومُ عَلَى الرِّيَاضِيَّاتِ وَالْمَنْطِقِ. وَالْمَدْرَسَةُ الشَّرْقِيَّةُ – بِحُكْمِ لَاهُوتِيَّتِهَا – مَاضَوِيَّةٌ، بَيْنَمَا الْمَدْرَسَةُ الْمَغْرِبِيَّةُ – بِحُكْمِ عِلْمَانِيَّتِهَا – مُسْتَقْبَلِيَّةٌ
 

Artinya. “Dalam mazhab (pemikiran) ini, nalar kearaban terbelah menjadi dua bagian: nalar ketimuran yang bersifat teologis, dan filsafatnya berdiri di atas ilmu kalam; serta nalar kebaratan yang bersifat ilmiah, dan filsafatnya berdiri di atas matematika dan logika. Mazhab Timur, karena sifat teologisnya, berorientasi pada masa lalu, sedangkan mazhab Barat, karena sifat sekulernya, berorientasi pada masa depan.” (Munaqasyat wa Rudud, halaman 35).
 

Narasi tajdid dalam Madrasah Maghrib ini berupaya menampakkan sisi tragis dari sejarah turats. Bagi mereka, terutama al-Jabiri, nalar ketimuran yang mistis berhasil mendominasi nalar kearaban, alih-alih nalar kebaratan yang logis. Akibatnya, turats dianggap sebagai sebab kemunduran bangsa Arab dan faktor kekalahannya dari bangsa Barat yang mengembangkan filsafat dan sains yang sekuler.
 

Madrasah Mesir

Terakhir, terdapat Madrasah Mesir yang dipelopori oleh Hasan Hanafi. Menurut Syekh Ahmad at-Tayyeb, wacana tajdid dalam madrasah ini mempunyai narasi yang berbeda dari dua madrasah sebelumnya. Jika upaya pembaruan turats di dua madrasah sebelumnya disebut tajdid at-turats, upaya pembaruan turats dalam Madrasah Mesir dinamai dengan at-turats wa at-tajdid yang senada dengan judul buku Hasan Hanafi.
 

Dalam wacana tajdid lainnya, turats kerap kali dianggap sebagai ‘peninggalan intelektual’ masa lalu yang perlu digali, diverifikasi, dikurasi, dan disebarkan kembali. Namun, dalam perspektif Hasan Hanafi, turats bukanlah koleksi material, tetapi endapan psikologis dalam benak sosial masyarakat (Hasan Hanafi, at-Turats wa at-Tajdid: Mawqifuna min at-Turats al-Qadim, [Kairo: New Book Publisher, 2018 M], halaman 22).
 

Karenanya menurut Hanafi, turats bukanlah bahan-bahan masa lalu yang tersimpan di dalam perpustakaan, tetapi bagian realitas sosial yang berlaku saat ini. Misalnya, seorang santri sekarang menggunakan teori tasawuf Imam al-Ghazali dalam menghadapi lika-liku kehidupannya, maka turats Imam al-Ghazali adalah realitas sosial yang hidup di dalam benak santri tersebut.
 

Dari uraian tersebut, wacana at-turats wa at-tajdid dalam pemikiran Hasan Hanafi adalah upaya mengubah realitas masa ini dengan mengubah, mengganti, atau bahkan menghilangkan efek-efek psikologis turats di masyarakat yang dinilai menghalangi kemajuan. Turats, dengan demikian, hanya diperlakukan sebagai perantara untuk dianalisis demi tujuan pembaruan di masyarakat. Prinsip-prinsip inilah yang menjadi titik perdebatan antara kelompok progresif dan neotradisionalis. Wallahu a'lam.
 

Ustadz Zainun Hisyam, Pengajar di Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy Banyumas