Masa Kekhalifahan Usman Ibn Affan
NU Online · Kamis, 31 Maret 2011 | 09:18 WIB
r /> Musyawarah pun berjalan alot. Faktor kabilah menjadi penting. Zubair tidak bisa maju, karena Ali yang sama-sama dari bani Hasyim. Sa’ad ibn Abi Waqqas peluangnya tipis, karena berasal dari Bani Zahrah, suatu kabilah yang tidak punya wibawa dan prestis dibanding lainnya. Thalhah sama dengan Umar dari Bani Adiy, sehingga tidak mungkin maju. Nominator terkuat berarti Abdurrahman ibn Auf al-Zuhriy, Usman (Bani Umayyah) dan Ali (bani Hasyim). Abdurrahman tidak mungkin maju karena ada yang lebih senior, maka calon khalifah tinggal Ali dan Usman saja.
Unsur fanatisme kabilah dalam sidang formatur sangat berperan. Pada akhirnya, kunci berada pada Abdurrahman ibn Auf yang memilih Usman. Pemilihan ini dilakukan setelah melalui lobi yang ketat dengan kedua kandidat. Saat menemui Ali dia bertanya, “Seandainya engkau tidak termasuk orang yang dicalonkan, siapa yang kamu pilih?”. Ali menjawab “Usman”. Kemudian ia langsung menemui Usman dan menanyakan, “seandainya engkau di luar enam calon, siapa yang kamu pilih sebagai khalifah?”, Usman menjawab “Ali”. Karena keduanya sama-sama kuat, akhirnya Abdurrahman ibn Auf menetapkan Usman sebagai Khalifah. Penetapan ini (sekecil apapun) ada pertimbangan kabilahnya. Dan sekedar informasi, bahwa istri Abdurrahman ibn Auf (Ummi Kulsum) adalah saudara se-Ibu Usman bin Affan.(Disarikan dari buku Aswaja dalam Lintas Sejarah karyaKH. Said Aqil Siradj)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
2
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
6
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
Terkini
Lihat Semua