Syariah

Sejarah Ahlussunnah wal Jama’ah

NU Online  ยท  Rabu, 30 Mei 2007 | 23:55 WIB

Sebenarnya sistem pemahaman Islam menurut Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah hanya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Muโ€™tazilah pada abad ke II H.

Seorang Ulamaโ€™ besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan At-Tabiโ€™in di Bashrah mempunyai sebuah majlis taโ€™lim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. Diantara murid beliau, bernama Washil bin Athaโ€™. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab.

<>

Pada suatu ketika timbul masalah antara guru dan murid, tentang seorang muโ€™min yang melakukan dosa besar. Pertanyaan yang diajukannya, apakah dia masih tetap muโ€™min atau tidak? Jawaban Al-Imam Hasan Al-Bashry, โ€œDia tetap muโ€™min selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dia fasik dengan perbuatan maksiatnya.โ€ Keterangan ini berdasarkan Al-Qurโ€™an dan Al-Hadits karena Al-Imam Hasan Al-Bashry mempergunakan dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Qurโ€™an dan Hadits.

Dalil yang dimaksud, sebagai berikut; pertama, dalam surat An-Nisaโ€™: 48;

ุงูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ุงูŽูŠูŽุบู’ููุฑูุงูŽู†ู’ ูŠูุดู’ุฑูŽูƒูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑูู…ูŽุงุฏููˆู’ู†ูŽ ุฐู„ููƒูŽ ูู„ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุงู„ู„ู‡ู ููŽู‚ูŽุฏูุงูู’ุชูŽุฑูŽู‰ ุงูุซู’ู…ู‹ุงุนูŽุธููŠู’ู…ู‹ุง (ุงู„ู†ุณุงุก : 48.

โ€œSesungguhnya Allah tidakย akan mengampuni dosa seseorang yang berbuat syirik, tetapi Allah mengampuni dosa selian itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang mempersekutukan Tuhan ia telah membuat dosa yang sangat besar.โ€

Kedua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

ุนูŽู†ู’ ุงูŽุจูู‰ ุฐูŽุฑู ุฑูŽุถูู‰ูŽุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‰ูŽุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุชูุงู†ูู‰ ุงุชู ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจู‰ู ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูู‰ ุงูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ู…ูู†ู’ ุงูู…ู‘ูŽุชูู‰ ู„ุงูŽูŠูุดู’ุฑููƒู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู’ู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ. ู‚ูู„ู’ุชู: ูˆูŽุงูู†ู’ ุฒูŽู†ู‰ูŽ ูˆูŽุงูู†ู’ ุดูŽุฑูŽู‚ูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงูู†ู’ ุฒูŽู†ู‰ูŽ ูˆูŽุงูู†ู’ ุณูŽุฑูŽู‚ูŽ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ูˆู…ุณู„ู….

โ€œDari shahabat Abu Dzarrin berkata; Rasulullah SAW bersabda: Datang kepadaku pesuruh Allah menyampaikan kepadamu. Barang siapa yang mati dari umatku sedang ia tidak mempersekutukan Allah maka ia akan masuk surga, lalu saya (Abu Dzarrin) berkata; walaupun ia pernah berzina dan mencuri ? berkata (Rasul) : meskipun ia telah berzina dan mencuri.โ€ (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

ููŽูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ูˆูŽุนูุฒู‘ูŽุชูู‰ ูˆูŽุฌูŽู„ู„ุงูŽ ู„ูู‰ ูˆูŽูƒูุจู’ุฑููŠูŽุงู†ูู‰ ูˆูŽุนูŽุธูŽู…ูŽุชูู‰ ู„ุฃูŽูุฎู’ุฑูุฌูŽู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽุงูู„ู‡ูŽ ุงูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู. ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰.

โ€œAllah berfirman: Demi kegagahanku dan kebesaranku dan demi ketinggian serta keagunganku, benar akan aku keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan; Tiada Tuhan selain Allah.โ€

Tetapi, jawaban gurunya tersebut, ditanggapi berbeda oleh muridnya, Washil bin Athaโ€™. Menurut Washil, orang muโ€™min yang melakukan dosa besar itu sudah bukan muโ€™min lagi. Sebab menurut pandangannya, โ€œbagaimana mungkin, seorang muโ€™min melakukan dosa besar? Jika melakukan dosa besar, berarti iman yang ada padanya itu iman dusta.โ€

Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, sang murid tersebut dikucilkan oleh gurunya. Hingga ke pojok masjid dan dipisah dari jamaโ€™ahnya. Karena peristiwa demikian itu Washil disebut muโ€™tazilah, yakni orang yang diasingkan. Adapun beberapa teman yang bergabung bersama Washil bin Athaโ€™, antara lain bernama Amr bin Ubaid.

Selanjutnya, mereka memproklamirkan kelompoknya dengan sebutan Muโ€™tazilah. Kelompok ini, ternyata dalam cara berfikirnya, juga dipengaruhi oleh ilmu dan falsafat Yunani. Sehingga, terkadang mereka terlalu berani menafsirkan Al-Qurโ€™an sejalan dengan akalnya. Kelompok semacam ini, dalam sejarahnya terpecah menjadi golongan-golongan yang tidak terhitung karena tiap-tiap mereka mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Bahkan, diantara mereka ada yang terlalu ekstrim, berani menolak Al-Qurโ€™an dan Assunnah, bila bertentangan dengan pertimabangan akalnya.

Semenjak itulah maka para ulamaโ€™ yang mengutamakan dalil al-Qurโ€™an dan Hadits namun tetap menghargai akal pikiran mulai memasyarakatkan cara dan sistem mereka di dalam memahami agama. Kelompok ini kemudian disebut kelompok Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah. Sebenarnya pola pemikiran model terakhir ini hanya merupakan kelangsungan dari sistem pemahaman agama yang telah berlaku semenjak Rasulullah SAW dan para shahabatnya.

KH Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)