Teladan Kejujuran Rasulullah dalam Berdagang
Nabi Muhammad juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. Muhammad juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu.
Artikel dengan tag "Sirah Nabawiyah"
Nabi Muhammad juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. Muhammad juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu.
Rasulullah yang mendengar kabar ini langsung menggalang tentara Muslim sebagai bentuk perlawanan. Karena kedua belah pihak bertemu di sebuah pangkalan air bernama Muraisi’ di daerah Qadid, pertempuran ini juga memiliki nama Perang Muraisi’.
Di antara jumlah peperangan yang terjadi dalam Islam pada masa Rasulullah saw adalah Perang Bani Mushthaliq. Perang ini menurut mayoritas ulama ahli sejarah terjadi pada bulan Sya’ban tahun 5 hijriah.
Nabi Muhammad tidak marah berkaitan dengan kepentingannya sendiri dan tidak pernah memberikan hukuman karena dirinya sendiri. Maka jelas konteks marahnya Rasulullah itu bukan karena soal dihina, tapi karena soal kebenaran yang dilanggar atau didustakan.
Rasulullah saw sering menganjurkan para sahabatnya agar rajin berkunjung dan bergaul dengan orang-orang yang shalih, dengan para pemimpin dan sahabat yang senantiasa membela kebenaran dan keadilan.
Penyebab peperangan ini bermula saat Rasulullah saw mendapat informasi bahwa pimpinan Bani Musthaliq, Al-Harits bin Abu Dhirar sedang menghimpun pasukan untuk melancarkan serangan ke orang Muslim.
Teladan etos kerja Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya untuk tidak malas dan berpangku tangan.
Nabi Muhammad saw kesucian nasabnya terpelihara sejak zaman Nabi Adam as. Ia juga dikandung di bulan Rajab, bulan mulia.
Nasib penderita bangkrut berat itu amat celaka, orang-orang yang ia aniaya akhirnya menimpakan dosa perbuatan buruknya kepada orang itu.
Begitu besar perhatian Nabi Muhammad kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3).
Meskipun berkali-kali mendapat nikmat dan perlindungan Allah SWT melalui Nabi Musa, Bani Israil tidak pernah merasa bersyukur bahkan terus melakukan pembangkangan terhadap Allah dan Nabi Musa.
Setelah perintah hijrah itu, terbesit dalam pikiran Rasulullah tentang sosok raja bernama Asshamah an-Najasy, seorang raja di Ethiopia (Habasyah) yang terkenal adil lagi bijaksana.