Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Adab dalam Memberikan Dukungan Mental untuk Pasien Isoman Covid-19

Adab dalam Memberikan Dukungan Mental untuk Pasien Isoman Covid-19
Inti dari dukungan terhadap pasien adalah memberikan ketenangan.
Inti dari dukungan terhadap pasien adalah memberikan ketenangan.

Tingkat keparahan wabah Covid-19 sangat beragam. Pasien yang terinfeksi wabah penyakit ada yang tak bergejala, tetapi ada pula yang perlu dirawat di rumah sakit. Bagi pasien yang tanpa gejala atau bergejala ringan bisa menjalani karantina atau isolasi mandiri. Namun, di antara pasien yang mendapatkan perawatan, ada yang perlu dukungan mental ketika menjalani proses penyembuhan.


Karakter wabah Covid-19 membuat  pasien yang sedang menjalani rawat inap tidak leluasa untuk dijenguk anggota keluarganya. Hanya petugas kesehatan di rumah sakit yang memiliki akses untuk menemui pasien. Anggota keluarga maupun kerabat dan kawan pasien hanya bisa berkomunikasi melalui media yang ada.


Biasanya pasien yang dirawat secara intensif di RS memiliki penyakit penyerta lainnya. Kondisi tersebut bisa membuat gejala Covid-19 menjadi lebih parah. Di saat itulah, pasien membutuhkan dukungan dari sesama agar tetap kuat menghadapi penyakitnya. Berbagai kemungkinan hasil pengobatan perlu disikapi dengan kesiapan dan kebesaran hati.


Ulama Islam telah memberikan pedoman tentang cara membesarkan hati pasien yang terdampak pandemi. Imam as-Suyuthi dalam Kitab Ma Rawahu al-Waun fi Akhbar ath-Thaun menulis sebuah kisah sebagai berikut:


“Dalam Kitab al-Kaffarat wal Maradh, Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Abu Mijlaz, dia berkata: 'Janganlah kalian berbincang-bincang dengan orang sakit kecuali tentang hal-hal yang membuatnya kagum.' Imran bin Jarir berkata, 'Abu Mijlaz pernah menjengukku ketika aku sedang terkena thaun, lalu dia berkata: Hari ini orang-orang menyebutkan beberapa temannya yang masih hidup yang membuatku menjadi takjub, mereka juga menyebutmu dalam kelompok tersebut.' Dia berkata: 'Aku pun jadi gembira karena itu.'” (As-Suyuthi, Kitab Ma Rawahu al-Waun fi Akhbar ath-Thaun, [Damaskus, Darul Qalam: tanpa tahun], halaman 172).


Berdasarkan kisah dalam kitab tersebut, pasien yang terdampak pandemi perlu mendapatkan berita-berita yang menggembirakan hatinya. Dokter, perawat, maupun petugas kesehatan lain yang memiliki akses terhadap pasien bisa menerapkan amalan ini. Bahkan, keluarga sebagai penyedia dukungan yang terdekat bisa menguatkan mental pasien dengan komunikasi melalui media yang tersedia seperti HP atau WA.


Inti dari dukungan terhadap pasien adalah memberikan ketenangan. Saat pasien mendapatkan ketenangan, penerimaan diri terhadap kondisi sakit akan meningkat. Di sisi lain, kepasrahan yang muncul akan diimbangi dengan harapan yang baik sehingga pasien termotivasi untuk sembuh.


Saat pandemi Covid-19 merebak kembali, tidak semua pasien menjalani perawatan di rumah sakit. Ada pasien yang menjalani isolasi atau karantina mandiri di rumah maupun fasilitas lain yang disediakan oleh pemerintah. Bila pasien ditangani oleh petugas kesehatan, aspek etika perawatan terhadap orang yang sakit biasanya telah dipahami oleh petugas kesehatan tersebut. Namun, bagi pasien yang ada di rumah, keluarga terdekat perlu memahami cara yang benar untuk menyediakan dukungan terbaiknya.


Pasien yang mendapatkan perawatan di rumah dan terpaksa tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lain tidak boleh dikucilkan. Anggota keluarga yang serumah bisa menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, sebagaimana pasien yang tinggal di rumah itu.


Selain itu, menjaga jarak dan menghindari kontak fisik dengan menyediakan ruangan khusus untuk anggota keluarga yang terpapar pandemi dapat dilakukan di dalam satu rumah. Barang-barang pribadi maupun pakaian yang digunakan pasien disendirikan dan tidak digunakan bersama dengan anggota keluarga lain yang sehat.


Demikian juga dengan makanan dan minuman, perlu dipisahkan agar khusus dikonsumsi oleh pasien tanpa berinteraksi makan bersama dengan anggota keluarga yang lain.


Bila kondisi rumah memungkinkan untuk pasien beraktivitas di halaman, anggota keluarga perlu memberikan kesempatan agar pasien tetap bisa berjemur. Tentunya berjemur sendiri tanpa bercampur baur dengan anggota keluarga yang lain. Sementara pasien berjemur di halaman, anggota keluarga yang lain berada di dalam rumah dan tetap menjaga diri.


Bila anggota keluarga lain yang sehat juga tidak keluar rumah untuk mengantisipasi penularan, maka warga di sekitar perlu berinisiatif untuk memperhatikan kebutuhan keluarga yang tinggal serumah dengan pasien itu.


Konsep jogo tonggo kembali relevan dengan situasi merebaknya gelombang baru Covid-19. Bentuk kesetiakawanan sosial ini menjadikan tetangga sebagai lingkungan sosial yang sangat penting. Tetangga juga tidak perlu takut untuk sekedar menyampaikan makanan atau kebutuhan primer lainnya ke rumah pasien yang terdampak pandemi dengan tetap menjaga protokol kesehatan.


Al-Ustadz Umar Baradja dalam Kitab Akhlak lil Banin menjelaskan adab terhadap orang yang penyakitnya menular sebagai berikut:


“Adapun jika penyakitnya menular, maka cukuplah engkau memberi salam kepadanya dan mendoakannya supaya sehat serta tanyakan kepada keluarganya tentang kesehatannya. Termasuk adab pula adalah engkau bertanya kepadanya tentang keadaannya dengan perkataan singkat jika jawabannya tidak memberatkan baginya. Kalau tidak, cukuplah dengan menanyai orang yang merawatnya. Hendaklah pertanyaanmu dengan suara yang sedang karena suara yang sangat pelan terkadang menimbulkan rasa takut di dalam hatinya, sedangkan suara yang keras barangkali membuatnya gelisah dan menambah penyakitnya. Apabila engkau melihat perubahan pada warnanya atau kelemahan pada badannya, jangan tunjukkan keprihatinanmu atas hal itu supaya ia tidak merasa takut atau terkejut sehingga semakin parah penyakitnya. Akan tetapi, besarkan hatinya dan doakan dia supaya sehat dan panjang umur.” (Ustadz Umar Baradja, Kitab Akhlak lil Banin, [Surabaya, Penerbit Buku Teladan YPI Al-Ustadz Umar Baradja: 1992 M], juz III, halaman 48-49)


Termasuk hal-hal yang perlu dihindari masyarakat umum ketika berkomunikasi dengan pasien terdampak pandemi adalah menanyakannya tentang kemungkinan sebab ia terpapar. Hanya petugas khusus yang memiliki kewenangan untuk menanyakan hal tersebut dengan tetap menjunjung kerahasiaan. Pertanyaan khusus tersebut juga bisa mendukung tracing atau pelacakan kasus ketika benar-benar diperlukan untuk kepentingan umum, epidemiologi, atau kepentingan negara.


Hal lain  yang tidak kalah pentingnya adalah membantu memberikan suplemen, jamu, atau obat yang bermanfaat bagi pasien. Pasien yang terdampak pandemi bila dirawat di rumah sakit maupun pusat isolasi biasanya mendapatkan program  pengobatan dari pemerintah. Namun, bagi pasien yang dirawat di rumah sendiri biasanya memerlukan bantuan dari tetangga untuk memperolehnya.


Masyarakat bisa menerapkan langkah-langkah kreatif agar pasien merasa terbantu. Upaya-upaya disertai adab untuk pasien yang terdampak pandemi tersebut dapat menunjang penyembuhan dan berbuah amal saleh bagi orang-orang yang membantunya.


Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti di bidang farmasi



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Tasawuf/Akhlak Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×