NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Teladan Ulama dalam Menyayangi Hewan

NU Online·
Teladan Ulama dalam Menyayangi Hewan
Ilustrasi kucing. Sumber: Canva/NU Online.
Siti Isnaini
Siti IsnainiKolomnis
Bagikan:

Bencana alam yang melanda Indonesia akhir-akhir ini bukan hanya berdampak pada manusia, melainkan juga makhluk hidup yang lain, yaitu hewan-hewan yang memiliki habitat di sana. Dalam kondisi air bah dan lumpur, banyak hewan kehilangan tempat tinggal, terpisah dari induknya, atau bahkan mati tanpa ada yang menolong dan sulit untuk dievakuasi. 

Padahal, dalam pandangan Islam, bumi ini bukan hanya diciptakan untuk manusia semata, melainkan untuk seluruh ciptaan Allah termasuk hewan dan tumbuhan, sebagaimana Firman Allah dalam surat Ar-Rahman ayat 10:

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

Artinya: “Dan bumi telah Dia (Allah) bentangkan untuk makhluk-Nya.”

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa Allah membentangkan alam dan seisinya agar dapat menunjang kebutuhan seluruh makhluk ciptaan-Nya, baik manusia, hewan, maupun jin.

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا) لِلْاَنَامِ الاَنَامُ النَّاسُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. الحَسَن: الْجِنُّ وَالْاِنْسُ. الضَّحَّاكُ: كُلُّ مَا دَبَّ عَلَى وَجْهِ الْاَرْضِ، وَهَذَا عَامٌ)

Artinya: "(Dan bumi telah Dia (Allah) bentangkan untuk makhluk-Nya) lafaz الاَنَامُ berarti manusia, pendapat Imam Ibnu Abbas. Menurut Imam al-Hasan berarti jin dan manusia. Sedangkan menurut Imam ad-Dhahhak berarti segala makhluk yang hidup di muka bumi, dan ini adalah pendapat yang umum," (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, 2009], jilid VII, hlm. 490).

Rasulullah SAW sendiri mengajarkan umatnya untuk menaruh kasih sayang kepada setiap makhluk hidup, tak terkecuali hewan yang sering kita anggap kecil atau tidak penting, sebagaimana dalam hadits berikut ini:

اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْض يَرْحَمكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء

Artinya: "Belas kasihlah kepada penduduk bumi, maka penduduk langit akan merahmati kalian." (HR. Bukhari).

Imam Ibnu Batthal dalam kitab Fathul Bari menafsirkan hadits ini, sebagai berikut:

قَالَ اِبْن بَطَّال: فِيهِ الْحَضّ عَلَى اِسْتِعْمَال الرَّحْمَة لِجَمِيعِ الْخَلْق فَيَدْخُل الْمُؤْمِن وَالْكَافِر وَالْبَهَائِم الْمَمْلُوك مِنْهَا وَغَيْر الْمَمْلُوك، وَيَدْخُل فِي الرَّحْمَة التَّعَاهُد بِالْإِطْعَامِ وَالسَّقْي وَالتَّخْفِيف فِي الْحَمْل وَتَرْك التَّعَدِّي بِالضَّرْبِ

Artinya: "Ibnu Batthal berkata: Hadits ini mengandung anjuran untuk menerapkan kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Allah. Maka di dalamnya termasuk orang beriman maupun orang kafir, juga hewan, baik yang dimiliki maupun yang tidak dimiliki. Kasih sayang itu mencakup: memberi makan, memberi minum, meringankan beban yang dipikul (oleh hewan atau hamba sahaya), serta menjauhi perbuatan zalim seperti memukul atau menyakitinya." (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, [Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, 1998], jilid XVII, hlm. 152).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa rahmat (kasih sayang) dalam Islam bersifat universal, tidak terbatas hanya untuk manusia, tetapi juga meliputi semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, bahkan lingkungan. Ketika manusia merusak alam dan mengabaikan nasib hewan, sesungguhnya ia sedang mengkhianati peran khalifah yang dipercayakan Allah kepadanya untuk menjaga keseimbangan dan menabur kasih sayang di muka bumi.

Para sahabat Nabi dan ulama terdahulu telah mencontohkan sikap belas kasih terhadap hewan yang patut diteladani, di antaranya ada kisah dari Imam Ghazali yang masuk surga lantaran seekor lalat.

يُروى أن الإمام الغزالي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رُئي بعد موته، فقيل له: ما فعل الله بك؟ فقال: غفر لي، فقيل: بم ذلك؟ قال: بذباب برح على القلم وأنا أكتب، فتركته حتى روي، بهذا غفر الله لي. اهـ

Artinya: "Diriwayatkan bahwa Imam al-Ghazali pernah dilihat (dalam mimpi) setelah wafatnya. Lalu seseorang bertanya kepadanya: “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Beliau menjawab: “Allah telah mengampuniku.” Orang itu bertanya lagi: “Dengan sebab apa Allah mengampunimu?” Imam al- Ghazali menjawab: “Suatu ketika seekor lalat hinggap di ujung penaku sementara aku sedang menulis. Aku biarkan lalat itu hingga ia puas minum (menyedot tinta) dan merasa segar kembali. Karena perbuatan kecil itu, Allah mengampuniku.” (Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhajus Sawi [Tarim: Darul Ilmi wa al-Dakwah, 2005], hlm. 658).

Kisah di atas memang banyak yang meragukan keabsahannya, namun hikmah yang terkandung di dalamnya, yaitu perlunya mengasihi hewan, penting kita ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah lain datang dari sahabat Abu Dzar yang senantiasa memberi makan semut-semut yang ada di rumahnya.

سمي أبو ذر به لأنه كان يتصدق بالسكر على الذر في بيته وقال: إنه من جيراني. اهـ

Artinya: "Abu Dzar diberi nama demikian karena ia biasa bersedekah dengan gula kepada semut-semut di rumahnya. Ia berkata: Sesungguhnya mereka adalah tetanggaku." (Ali bin Hasan Baharun, al-Fawaidul Mukhtarah [Pasuruan, Ma'had Darul Lughah wa al-Dakwah, 2018], hlm. 464).

Seorang ulama bernama Hamid bin ‘Umar Hamid juga memiliki kisah unik dengan membagikan makanan kepada kucing, karena menganggapnya sebagai bagian dari orang-orang miskin.

كان الحبيب حامد بن عمر حامد يقسم الطعام للهر كما يقسم لأولاده ويقول هذا من المساكين وقد قال الله تعالى: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى [النساء: ٣٦]، أو ما هذا معناه

Artinya: "Al-Habib Hamid bin ‘Umar Hamid biasa membagi makanan kepada kucing sebagaimana ia membaginya kepada anak-anaknya. Beliau berkata: "Kucing ini termasuk golongan orang-orang miskin (masakin)."  Lalu beliau membaca firman Allah Ta‘ala:  "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, dan tetangga yang dekat." (QS. An-Nisa’: 36). (Al-Fawaidul Mukhtarah, hlm. 464).

Kisah teladan dalam menyayangi hewan juga dapat diteladani dari Sayyidina ‘Umar bin Khattab berikut ini. Beliau pernah melewati seorang anak kecil yang sedang bermain dengan seekor burung dan menyiksanya. Maka beliau merasa iba terhadap burung itu, lalu membelinya dari anak tersebut dan melepaskannya. Lalu, ketika beliau wafat banyak sahabat yang melihatnya (dalam mimpi), dan beliau berkata kepada mereka: “Tuhanku telah merahmatiku karena dahulu aku telah berbelas kasih kepada seekor burung (Ushfur).” (Al-Fawaidul Mukhtarah, hlm. 464).

Kisah di atas menggambarkan bagaimana rasa kasih sayang, walaupun kepada makhluk sekecil burung, dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Ia mengajarkan bahwa setiap bentuk kelembutan kepada makhluk hidup adalah cermin kelembutan hati yang dicintai Allah. Bahkan Sayyid Ahmad ar-Rifa'i, pendiri Tarekat Rifa'iyyah, pernah menolong seekor anjing yang diusir oleh para penduduk lantaran takut akan murkanya Allah jika ia membiarkannya, sebagai berikut:

من مكارم أخلاق سيدي أحمد الرفاعي أن كلبا حصل له جذام، فاستقذرته نفوس أهل بلده، وصار كل واحد يطرده عن بابه، فأخذه سيدي أحمد الرفاعي وخرج به إلى البرية وضرب عليه مظلة، وصار يأكل هو وإياه ويسقيه ويدهنه حتى عافاه الله من الجذام بعد أربعين يوما، فسخن له ماء وغسله ودخل به البلد، فقيل له: أتعتني بهذا الكلب هذا الاعتناء كله ؟! فقال: نعم، خفت أن يؤاخذني الله يوم القيامة ويقول: أما عندك رحمة لهذا الكلب، أما تخشى أن أبتليك بما ابتليت به هذا الكلب؟

Artinya: "Di antara akhlak mulia Sayyid Aḥmad ar-Rifa‘i adalah bahwa pernah ada seekor anjing terkena penyakit kusta (lepra). Lalu penduduk kota merasa jijik kepada anjing tersebut, hingga setiap orang mengusirnya dari depan rumah mereka. Maka Sayyid Ahmad ar-Rifa‘i mengambil anjing itu, dan membawanya ke padang luas (luar kota), lalu membuatkan naungan untuknya.  Beliau makan bersama anjing itu, memberinya minum, dan mengolesinya dengan minyak (untuk pengobatan), hingga Allah menyembuhkannya dari penyakit kusta setelah empat puluh hari. Setelah itu, beliau memanaskan air, memandikannya, lalu masuk ke kota bersamanya. Orang-orang pun berkata kepadanya: “Apakah engkau memperhatikan anjing ini dengan perhatian sebesar itu?” Maka beliau menjawab: “Ya, aku khawatir Allah akan menegurku pada hari kiamat dan berfirman: Apakah engkau tidak punya belas kasih kepada anjing ini? Tidakkah engkau takut jika Aku menimpakan kepadamu apa yang Aku timpakan kepadanya?” (Mu'min bin Hasan Asysyabalanji, Nurul Abshar [Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, 2003], hlm. 350-356).

Semua kisah ini mengajarkan bahwa rahmat kepada makhluk adalah jalan menuju rahmat Allah. Kelembutan hati terhadap hewan bukan hanya tanda keimanan, tetapi juga wujud nyata dari sifat rahmatan lil ‘alamin yang diajarkan Rasulullah.

Dengan demikian musibah banjir dan bencana alam yang menimpa negeri ini seharusnya menjadi cermin bagi manusia untuk kembali kepada nilai rahmah yang diajarkan Islam. Karena kasih sayang terhadap hewan bukanlah perkara sepele dalam pandangan Islam, melainkan bagian dari manifestasi iman dan akhlak seorang hamba.

Begitu juga sebagai pengingat bahwa bumi ini bukan hanya diciptakan untuk manusia semata, sehingga manusia harus menjaga keseimbangan antara dirinya dengan hewan dan lingkungan di muka bumi.

Ustadzah Siti Isnaini, Alumni Kelas Menulis Keislaman NU Online 2025.

Kolomnis: Siti Isnaini

Artikel Terkait

Teladan Ulama dalam Menyayangi Hewan | NU Online